Iklan Kemendes

Mengenal Ropiah Lewat 10 Lembar Tulisannya

Ropiah yang gemar bermain catur dan dua kali juara di tingkat kabupaten/ist

LEBONG, sahabatrakyat.com- “Namaku Siti Ropiah. Aku berasal dari keluarga miskin. Aku adalah anak pertama dari dua bersaudara. Nama adikku Maimah Ria,” tulis gadis itu membuka tiga baris pertama tulisannya.

Ropiah, begitu dia biasa disapa, lalu memperkenalkan kedua orang tuanya. Bukan namanya, tapi pekerjaan dan kondisi mereka.

“Pekerjaan ayahku adalah sebagai seorang kuli. Dan pekerjaan ibuku adalah sebagai IRT,” tulis siswi di MTs Zikir Fikir itu.

Sang ibu menyandang disabilitas: tuna wicara. Sementara ayahnya sudah lanjut usia (70 tahun). “Ibuku tidak bisa berbicara mulai dari aku lahir sampai sekarang sehingga aku harus menggunakan bahasa isyarat dgn ibuku,” tulis Ropiah.

Meski begitu, Ropiah mengaku tidak pernah malu atau mengeluh. Sebaliknya, dia bangga kepada sang ibu karena punya keistimewaan yang lain.

“…ibuku juga mempunyai kelebihan, yaitu ibuku bisa membuat kerajinan tangan seperti membuat bintang dari belahan-belahan bambu,” ungkapnya.

Tentang sang ayah, Ropiah menulis: “Keadaan ayahku yaitu tidak pernah merasakan apa itu pendidikan. Ayahku itu buta huruf dan tidak bisa menulis.”

“Tetapi ayahku selalu berpesan kepadaku: belajar yang benar ya nak. Jangan seperti ayahmu ini. Dan aku pun menjawab, iya pak, pasti.”

Lima halaman awal tulisan Ropiah/ist

Jual Sepeda dan Tunda Sekolah

Ropiah adalah salah satu dari sekian anak-anak yang dibawa serta orang tuanya mengikuti program transmigrasi pemerintah. Kala itu usainya baru tujuh tahun. Masih duduk di kelas satu sekolah dasar.

Dari Kabupaten Tangerang, Jawa Barat, mereka tiba di Trans Pelabai, Desa Pelabai, Kecamatan Pelabai, Kabupaten Lebong.

“Ketika aku dan rombongan transmigrasi sampai di tempat tujuan, yaitu Trans Pelabai, pada sore itu udara sangat sejuk,” kenangnya.

Ropiah mengaku kaget dan mengeluh. Trans Pelabai tak seperti yang dia bayangkan. “Aku kira jalannya datar, tidak berliku-liku, oleh sebab itu aku membawa sepeda.”

“Aku mengeluh karena jalannya yang begitu menanjak dan begitu menurun sehingga membuat aku lelah di jalan,” urainya.

Bahkan sang adik sampai menangis karena kelelahan. Ropiah yang sudah mengeluh pun masih sempat menguatkan. “…bentar lagi juga sampai.”

Setelah tiga hari di rumah baru, Ropiah merindukan indahnya bermain. Sepeda yang dibawa dari Tangerang didorongnya ke jalan trans yang naik turun.

“Ketika aku mulai menggoes sepeda itu di jalan turunan, ia melaju dan akhirnya akupun terjatuh. Oleh sebab itu sepedaku dijual,” kisahnya.

Tak hanya jatuh dari sepeda, Ropiah juga sempat tak melanjutkan sekolah. Ia meninggalkan bangku kelas dua setelah ayahnya mengajak pindah ke lokasi dimana dia bekerja memenuhi nafkah keluarga.

“Selain orang tuaku tidak mampu membiayai, sekolahnya juga jauh. Oleh sebab itu sekolahku tertunda.”

Ropiah bisa kembali ke kelas setelah orang tuanya memutuskan kembali ke Trans Pelabai. Ropiah yang tertinggal satu semester, terpaksa mengulang dari kelas dua. Di SD Trans Pelabai, Ropiah akhirnya menuntaskan sekolah dasar-nya.

MTs Dzikir Fikir

Sempat bingung kemana melanjutkan SMP karena faktor biaya, hari-hari Ropiah sempat dilalui di panti asuhan.

“Ada yang ngasih jalan keluarnya, yaitu aku harus tinggal di panti asuhan. Dan aku pun setuju dan begitu pula orang tuaku.”

Jauh dari ayah dan ibu, dia harus mandiri. Kegiatan menyapu, mengepel menjadi rutinitasnya di sana.

Namun kerinduan yang tak terkira kepada rumah dan orang tua membuat harinya terasa berat. Hanya sanggup bertahan sekitar satu tahun, Ropiah minta pindah sekolah.

“Di antara banyak sekolah di sini aku memilih sekolah di MTs Dzikir Fikir karena lumayan dekat jaraknya dari rumah,” sebut Ropiah.

Ropiah menulis, jarak tempuh rumah-sekolah mencapai 3,5 km. Jarak yang ia tempuh selama satu jam 15 menit setiap hari.

“Kadang berangkat sekolah kehujanan dan pulang sekolah kepanasan. Itu semua kulakukan demi cita-cita dan membanggakan orang tua,” tekad Ropiah.

Walau belum menggapai cita-cita, Ropiah dan adiknya Maimah sudah mampu membanggakan orang tua. Di sekolah keduanya termasuk anak yang cerdas: Maimah juara 1 di kelas, Ropiah juara umum sekolah.

“Mereka adalah siswa yg cerdas, ulet dan sungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Rofiah pernah dua kali juara 1 lomba catur pelajar tingkat Kabupaten Lebong,” terang Kepala MTs Dzikir Fikir Sukamdani, M.Pd, Rabu (21/3/2018).

Maimah/foto screenshot yuotube firmansyah tasril

Tentang sang adik, Maimah, Ropiah yang kini duduk di kelas VIII mengulasnya secara khusus. Maimah yang kini duduk di kelas VII MTs Dzikir Fikir, adalah anak yang rajin dibanding dirinya.

“Maimah itu, menurut orangtuaku, dia itu rajin dan selalu membuat orang tuaku tertawa bahagia. Sehingga orangtuaku tidak ingin berpisah dengannya.”

Meski kerap bikin kesal dan marah, Ropiah mengaku sangat menyayangi sang adik. “Dia itu penghibur dikala aku sedih dan selalu memberikan aku semangat.”

Ropiah mengurai sosok sang ayah di lembar ke sembilan. Nama sang ayah yang ditulis huruf kapital menjadi anak judul: ABDUL SYUKUR.

“Ayahku dilahirkan di Madura,” tulisnya. “Dulu Indonesia masih dijajah. Ayahku tidak sekolah karena dulu belum ada pendidikan, tetapi hanya mengaji.”

Kisah sang ayah tak kalah tragis. Menurut Ropiah, demi berlindung dari penjajah, ayahnya pergi entah kemana sehingga terpisah dari keluarganya.

Ayahnya penah merantau sampai ke Banjarmasin sebelum kembali ke tanah Jawa. Sebelum menikahi ibunya kini, ayahnya pernah menikah dan punya lima orang anak.

“Kemudian istri pertamanya meninggal karena menderita penyakit TBS. Penyakit itu pun menurun dengan kakakku yang ke-4,” urainya.

Ropiah bangga kepada sang ayah. “Bagiku ayahku adalah pahlawanku. Ia selalu memberi semangat kepadaku. Ia tak pernah lelah sebagai penopang dalam keluarga. Ia selalu ajarkan aku menjadi yang terbaik,” tulisnya.

Ibu kandung Ropiah bernama Napiah. Lahir di Desa Karang, Serang. Dia anak ke-6 dari delapan bersaudara. Napiah satu-satunya yang menderita tuna wicara.

“Sebenarnya ibuku berasal dari keluarga yang mampu. Tetapi ibuku disia-siakan. Dan ibukulah yang seperti ini.”

Ropiah sendiri tak pernah berjumpa dengan kakek-nenek. Mereka sudah berpulang saat Ropiah masih dalam kandungan sang ibu. “Nenekku meninggal karena sakit.”

“Ibuku bagaikan malaikat hidupku. Ia selalu berusaha untuk menghidupi, melindungi, dan menyayangi anaknya. Ibuku rela berkorban demi aku anaknya,” tutup Ropiah di akhir tulisannya.

Di mata sang kepala sekolah, Ropiah dan Maimah adalah anak-anak yang hebat. Tak cuma berprestasi di sekolah, keduanya juga ulet membantu orang tua mencari nafkah.

“Maimah ikut jualan jamur tiram punya warga trans. Kadang keliling jualan sayur. Mereka juga ikut mencari rumput untuk makanan kambing. Ada beberapa ekor punya warga yang mereka bantu pelihara,” kata Sukamdani.


Penulis: Jean Freire

Komentar Anda
iklan kibar

Related posts