Iklan Kemendes

(OPINI) Sesar Musi dan Potensi Gempa Bumi yang Tersembunyi

Sabar Ardiansyah

INDONESIA kembali berduka. Kini ujian datang kembali di Donggala dan Palu, Sulawesi Tengah dengan terjadi gempa bumi berkekuatan M7,4. Gempa terjadi pada hari Jum’at, 28 Oktober 2018, pukul 17:02:44 WIB terletak pada koordinat 0,18 Lintang Selatan (LS) dan 119,85 Bujur Timur (BT) berjarak 26 km utara Donggala, dengan kedalaman 10 km.

Gempa darat yang diakibatkan oleh patahan lokal–Patahan Palu Koro- ini telah menghancurkan ribuan rumah serta ribuan nyawa meninggal.

Jika di Sulawesi tengah ada sesar Palu Koro, di Bengkulu yang termasuk wilayah rawan gempa juga memiliki patahan lokal yang cukup aktif. Salah satunya “Sesar Musi” yang terletak di wilayah Kabupaten Kepahiang.

Dari data sejarah kegempaan membuktikan bahwa sesar Musi termasuk sesar yang cukup aktif. Sesar ini pernah mencatat sejarah memilukan pada tanggal 15 Desember 1979 dengan terjadinya gempa bumi merusak.

Gempa ini terletak pada koordinat 3,5 Lintang Selatan (LS) dan 102,4 Bujur Tinur (BT). Akibat gempa bumi berkekuatan M 6,0 dan intensitas VIII-IX MMI ini, tidak kurang dari 3.600 bangunan rusak berat dan ringan serta korban jiwa sebanyak 4 orang.

Gempa bumi merusak lainnya yang pernah terjadi di wilayah Kabupaten Kepahiang adalah gempa bumi pada tanggal 15 Mei 1997 dengan kekuatan M 5,0 yang mengakibatkan setidaknya 65 bangunan rusak berat dan ringan.

Selanjutnya dipenghujung tahun 2014 sesar lokal Segmen Musi di Kabupaten Kepahiang-Bengkulu kembali “menggeliat” dengan terjadinya gempa bumi merusak pada tanggal 28 Oktober 2014. Patut disyukuti gempa bumi dengan kekuatan M 3,6 ini tidak menyebabkan korban jiwa.

Namun, akibat gempa bumi ini setidaknya 12 rumah warga mengalami kerusakan ringan, satu masjid dan gereja juga mengalami kerusakan ringan. Gempa bumi ini sangat dekat dengan pusat Kota Kepahiang, terletak pada koordinat 3,64 Lintang Selatan (LS) 102,58 Bujur Timur (BT), tepatnya berjarak satu km pada arah timur laut pusat kota Kepahiang.

Seakan tidak mau berhenti menunjukan “eksistensinya”, Sesar Musi ini kembali menunjukan aktivitas kegempaan signifikan dengan terjadinya rentetan gempabumi pada tanggal 15 hingga 20 Oktober 2017. Rentetan gempa bumi yang terjadi sebanyak 8 kali dengan rentang kekuatan M 2,5 hingga paling kuat M 3,5 dengan intensitas maksimum III-IV MMI. Akibat gempa ini, pemukiman penduduk di sekitar Kelurahan Pasar Ujung Kecamatan Kepahiang mengalami kerusakan ringan.

Sejarah gempa merusak di atas kiranya sudah cukup mengingatkan kembali bahwa keberadaan kita sangat dekat dengan zona gempa bumi darat. Zona gempa bumi darat atau patahan lokal yang ada di Bengkulu keberadaanya sangat dekat pemukiman warga bahkan pusat perkotaan.

Tentu tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa beberapa wilayah kota yang ada di daerah Bengkulu berdiri di atas zona gempa bumi darat. Segmen Musi ini memiliki panjang berkisar 70 km memanjang dari Kabupaten Rejang Lebong, melewati Kota Kepahiang hingga sampai ke Desa Ulu Musi Sumatera Selatan.

Sebagaimana kita ketahui bahwa gempa bumi memiliki karakteristik yang terjadi secara berulang pada kawasan yang sama. Artinya, jika suatu daerah pernah terjadi gempa bumi, maka berpeluang terjadi kembali pada waktu tertentu. Memang saat ini belum ada tekhnologi yang mampu memprediksi secara akurat kapan dan berapa besar gempa bumi akan terjadi, namun wilayah-wilayah yang berpotensi akan terjadi gempa bumi sudah dapat dipetakan.

Melihat keberadaan kita yang begitu dekat dengan lokasi gempa, sudah sepatutnya kita senantiasa meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman gempa bumi yang setiap saat mengintai kita.

Dapat kita bayangkan jika gempa bumi darat berkekuatan M≥5,0 dengan kedalaman dangkal dan lokasinya sangat dekat dengan pusat kota terjadi kembali di kawasan Sesar Musi. Sedangkan kondisi saat ini sudah jauh berbeda dibandingkan tahun 1997, dimana gedung-gedung bertingkat sudah cukup banyak dan populasi penduduk semakin bertambah. Artinya,  resiko dan potensi kerusakan dan korban jiwa cukup besar jika kita tidak memiliki sistem mitigasi yang memadai.

Apa Yang Perlu Kita Siapkan?

Harus disadari bahwa kita sudah terlanjur “menumpang” hidup di kawasan seismik aktif. Namun, sesungguhnya gempa bumi bukanlah ancaman bagi masyarakat sekitarnya. Melainkan dampak sekunder dari gempa bumi itulah yang bisa menyebabkan kerugian, kerusakan, bahkan korban jiwa. Dampak sekunder gempa bumi tersebut antara lain tanah longsor, tertimpah reruntuhan bangunan, kebakaran, ledakan gas, dll.

Mengenali lingkungan sekitar menjadi kunci utama dalam upaya mengurangi risiko saat terjadi gempa bumi. Saat mersakan getaran gempa kuat, upayakan untuk keluar rumah untuk menghindari reruntuhan. Namun, jika tidak sempat keluar rumah, cukup berlindung di bawah meja yang kuat. Upaya lain dapat dilakukan antara lain mengatur pintu keluar seefektif mungkin sebagai jalur evakuasi, mengatur tata letak furniture dalam rumah agar tidak membahayakan atau menghalangi jalan keluar ketika terjadi gempa bumi.

Memperhatikan kondisi bangunan seperti kekuatan pondasi, struktur kerangka serta dinding dan atap bangunan yang kuat dengan memperhatikan faktor amplifikasi dan percepatan tanah setempat adalah salah satu usaha yang dapat diambil dalam upaya mengurangi risiko kerusakan bangunan saat terjadi gempa bumi. Ancaman tanah longsor saat adanya getaran gempa bumi  juga perlu diperhatikan oleh penduduk yang bertempat tinggal di sekitar tebing atau lereng yang curam. Penelitian menunjukkan bahwa pada wilayah yang miring atau curam dapat terjadi longsoran dangkal, longsoran dalam, dan runtuhnya bebatuan yang disebabkan oleh getaran gempa bumi.

Pemerintah daerah hendaknya melakukan pemetaan (mikrozonasi) secara menyeluruh wilayah-wilayah yang memiliki potensi kerusakan parah saat terjadi gempa bumi. Pemetaan ini bisa menjadi rekomendasi untuk tidak mendirikan bangunan pada wilayah-wilayah yang memilki potensi kerusakan parah saat terjadi gempa bumi. Sebagai alternatif penggantinya, wilayah ini mungkin hanya direkomendasikan sebagai lahan produktif seperti berladang dan bercocok tanam.

Penerapan konstruksi bangunan (building code) tahan gempa bumi juga harus dilakukan. Pendirian gedung publik tahan gempa sangat penting diperhatikan oleh pemerintah mengingat padatnya mobilitas yang terjadi pada gedung fasilitas umum.

Melakukan kegiatan simulasi gempa bumi kuat di lingkungan gedung bertingkat juga merupakan salah satu upaya melatih kesiapsiagaan sebelum menghadapi gempa bumi yang sesungguhnya. Selain melatih kesiapsiagaan serta seberapa besar kepedulian kita terhadap lingkungan dan fasilitas kantor, kegiatan simulasi gempa bumi kuat juga bisa menjadi salah satu tolak ukur seberapa besar kapasitas dan fasilitas yang kita miliki. Sebab, kondisi gedung bertingkat tidaklah sama dengan gedung satu lantai, sehingga gedung bertingkat memerlukan jalur evakuasi yang tertata rapih dan dikuasai oleh penghuni gedung serta mudah dipahami oleh tamu yang berkunjung.

Melakukan kegiatan sosialisasi secara rutin kepada seluruh lapisan masyarakat tentang potensi bahaya gempa bumi dan upaya-upaya menghadapinya saat gempa bumi terjadi mungkin harus dijadikan salah satu agenda tetap dalam rangka mitigasi bencana gempa bumi. Sosialisasi bisa kepada pelajar mulai tingkat taman kanak-kanak (TK) hingga sekolah mengengah atas (SMA), kantor-kantor pemerintahan juga bisa dijadikan sasaran sosialisasi, serta masyarakat umum mulai dari tingkat RT dan RW.

Dengan demikian, diharapkan semua lapisan masyarakat memilki pengetahuan dan pemahaman yang sama akan adanya potensi bahaya gempa bumi di wilayah sekitar serta upaya-upaya yang dilakukan untuk pengurangan risiko terhadap bencana ini.


Penulis: Sabar Ardiansyah, S.ST, PMG Ahli Stasiun Geofisika Kepahiang-Bengkulu.

Komentar Anda
iklan kibar

Related posts