[Artikel] SENTUHAN

RASA, karsa dan cipta ala PMII memungkinkan kita untuk lebih berdaya. Terutama dalam mengembangkan diri dan keluarga sebagai bagian dari pelayanan lingkungan. Setidaknya, seperti yang kami berdua rasakan, diskusi untuk aksi transformasi terbawa ke dalam kamar tidur kami. Tentu jauh dari hebatnya wacana transformasi PMII seperti yang ada di dalam narasinya novel Hati Suhita. Tetapi setidaknya, sampai kini, dan mudah-mudahan sampai pula nanti, kami berdua dapat merasakan berkah belajar di PMII.

Betapa sentuhan PMII dapat membantu kami menghangatkan bahkan memanaskan gairah intelektual di atas tempat tidur kami. Mana mungkin kami menyebut Paulo Freire, Asghar Ali Engineer, Hassan Hanafi, dan beberapa yang lainnya tanpa provokasi dari PMII, dulu. Pun lebih banyak mengingat Tan Malaka, KH Dewantara dan, apalagi, Gus Dur. Ya, di atas tempat tidur kami.

Kami, sepertinya, terpapar lebih untuk bergerak dengan mode PMII. Paparan yang, setidaknya, membuat kami nyaman dalam berdebat tentang bagaimana perlunya berperan yang lebih baik bagi lingkungan kami. Lingkungan yang kerap mengetengahkan dialektika tradisionalitas dan modernitas. Antara pembinaan keluhuran tradisi dan kemungkinan inovasi teknologi.

Karena paparan PMII, kami lebih memilih mode menggerakkan tradisi dengan inovasi teknologi. Berorientasi pada kemaslahatan lingkungan, tentunya. Ya, tadisi untuk transformasi atau tradisi subjek modernisasi. Bisa juga disebut modernisasi berbasis tradisi. Metode jalan tengah ini, mungkin begitu, yang sesungguhnya merupakan karakter khas PMII.

Sebagai turunan dari karakter Islam Ahlussunah wal Jamaah (Aswaja) atau Sunni Syafi’i. Teologi yang diyakini oleh PMII. Yang kemudian menjadi manhaj berfikir. Lalu memunculkan paradigmanya yang kritis namun transformatif. Yang dialektis sekaligus dinamis. Tidak ekstrim kanan yang sukanya, mungkin, ngerem melulu. Pun tidak ekstrim kiri yang sukanya, mungkin, ngegas selalu.

Memang, ngerem itu seperlunya saja. Pun, ngegas itu secukupnya saja. Sebab jalan ada kalanya menurun, dan ada kalanya mendaki. Di jalan yang menurun kita banyak ngerem untuk sampai di tujuan. Pun dalam pendakian kita banyak ngegas agar juga sampai di tujuan. Dengan selamat, sentosa dan sejahtera. Tentunya!

Mudah-mudahan, melalui momentum Harlah PMII ke-60 ini, di hari Jumat yang agung ini, menjelang Ramadhan kali ini, di tengah siaga Covid-19 ini, kita dapat lebih cakap dalam berakselerasi. Menunaikan bakti untuk negeri. Semoga senantiasa sehat, afiat dan berkat bumi Pertiwi ini.. Salam satu jiwa dan cita dari kami, Dedy dan Fitri…


Penulis: Dedy Mardiansyah (Pembina Yayasan Tarbiyah Rejang Lebong) & Lailatul Fitriyah (Wakil Ketua Yayasan Pondok Pesantren Nurul Huda Sukaraja OKU Timur)