Jejak Inspiratif Teguh Raharjo: Berkubang di Tambang, Mengembara di Belantara, Menembus Batas Negara…

Potret lawas Teguh Raharjo (paling kanan) saat masih mengembara di hutan demi gaharu/foto: FB Mawar di

BERTARUH nyawa di lorong sempit perut bumi atau masuk-keluar hutan demi mengais rejeki adalah salah satu lakon patriot orang-orang Lebong. Dari kubangan tambang mengais emas, dari jelajah hutan mengikis kaes (gaharu).

Di antara orang-orang Lebong yang pernah melakoni tambang dan gaharu itu adalah Teguh Raharjo Eko Purwoto. Iya, sebelum dikenal luas sebagai politisi, pria kelahiran Muara Aman, 28 Agustus 1968, itu sudah mengecap perih, pahit dan manisnya perjuangan dan kehidupan orang-orang Lebong kebanyakan.

Maka tak perlu heran kalau dirinya paham betul kehidupan orang-orang tambang dan orang-orang yang harus keluar masuk hutan demi sesuap nasi, demi memenuhi mimpi anak-anaknya, demi merubah nasib, dan demi berbagai alasan lainnya.

Oleh: SUMITRA NAIBAHO, LEBONG:

Lahir dari keluarga yang tak bisa dibilang ‘berada’, Teguh menapak kehidupan sebagaimana juga umumnya anak-anak Lebong di jamannya. Pendidikan dasarnya dimulai di Taman Kanak-Kanan (TK) Aisyiyah Muhammadiyah Muara Aman, SDN 02 Center Muara Aman, dan SMPN 1 Muara Aman–kini disebut SD dan SMP Lebong Utara.

Tamat SMP, Teguh juga lanjut ke SMAN 1 Lebong Utara.

“(Tapi) Di sini (SMAN 1 LU, red) saya sampai kelas 1. Karena faktor ekonomi keluarga, naik kelas 2 saya dipindahkan ke Solo, SMA 5 Surakarta. Kebetulan ada keluarga di sana,” cerita Teguh membuka lembar hidupnya.

Teguh remaja yang dititip di rumah kerabat akhirnya menyelesaikan sekolah menengah atas atau SMA-nya di Solo atau disebut juga Surakarta itu. Ia alumni dari jurusan Fisika atau IPA 1. Setamat SMA, ia berniat lanjut kuliah.

Tapi lagi-lagi karena kendala biaya, rencana studi kedokteran di Universitas Padjajaran (UNPAD), Bandung yang sudah ia citakan tak kesampaian.

“Saat itu karena semangat pribadi, saya tidak mengkaji lagi tentang situasi dan kondisi ekonomi orang tua. Pada akhirnya saya harus memutuskan tak jadi kuliah karena waktu itu perekonomian keluarga bukan seperti orang-orang yang mapan. Hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari,” kenangnya.

Tak lanjut ke bangku kuliah, Teguh pun pulang kampung. Kembali ke Muara Aman. Pilihannya tak banyak. Ia pun bekerja demi membantu menopang ekonomi keluarga. Sang ayah yang keseharian menjadi penambang tradisional dan ibunda yang berjuang membantu ekonomi dengan menjahit pakaian pun menjadi teladan.

“Saya melanjutkan kebiasaan bapak. Maklum baru tamat SMA pengalaman belum ada dan tenaga pun masih kalah jauh dengan penambang-penambang yang lain. Jadi boleh dikatakan tidak dapat hasil yang lumayan. Lokasinya itu di Lebong Simpang.”

Dua tahun menggeluti dan berkubang di tambang tradisional, Teguh melihat hasil kerja kerasnya belum memuaskan. Ia merasa tak mungkin terus bergelut di tambang kalau hasilnya tak sebanding dengan resiko. Ia lantas mencoba menggeluti kegiatan lain yang juga banyak dilakoni orang Lebong dikala itu: mencari kaes atau gaharu.

Kayu gaharu merupakan jenis kayu yang berasal dari beberapa spesies pohon dari genus Aquilaria, khususnya jenis A. malaccensis. Jenis kayu satu ini umumnya memiliki warna kehitaman pekat yang khas dan juga mengandung kandungan resin pada bagian gubalnya.

Kandungan resin yang terdapat pada bagian gubal kayu gaharu ini juga terkenal sebagai bahan pelengkap wangi-wangian karena memiliki aroma harum yang sangat khas. Aroma ini juga dipercaya mampu menjadi aromaterapi anti-stres yang cukup ampuh.

Akitivas masuk-keluar hutan belantara itu dia lakoni di awal 1990-an. Kawasan hutan yang dijelajah tak sebatas wilayah dalam Kabupaten Lebong atau dulu masih bagian Rejang Lebong. Bersama-sama teman seperjuangan, ia sudah menjelajah hutan Bukit Barisan hingga tembus ke Provinsi Lampung.

“Akhirnya sekitar tahun 1994-1995 saya jadi pedagang gaharu. Kurang lebih enam tahun saya geluti,” katanya.

Tapi pasar gaharu juga sempat goyang. Harga turun dan tak setimpal dengan modal yang harus dikeluarkan. Teguh pun kembali berkubang ke tambang. Tapi kali ini bukan di Lebong Simpang. Ia mencoba peruntungan di Pongkor, Bogor, Jawa Barat. Di sini ia berjibaku selama tiga tahun atau sampai 2001.

Tapi lagi-lagi usaha tambang emas tradisional memang tak stabil. Sudah biasa pasang surut. Kadang makmur, kadang nganggur sama sekali. Kalau lagi menghasilkan, tambang diserbu. Sebaliknya, saat hasil pas-pasan, tambang ditinggalkan.

Teguh yang tengah menanti kelahiran anak pertamanya pun kembali ganti pekerjaan. Dari tambang emas di Pongkor, Bogor itu ia balik main gaharu. Tapi tidak lagi keluar masuk hutan Bukit Barisan atau rimba raya lainnya penghasil gaharu. Kali ini ia berjuang di bawah pohon-pohon beton, di antara gedung-gedung yang menjulang ke langit. Di ibukota negara, Jakarta.

Bermodal ilmu fisika dan kimia SMA, ia lantas memperdalam ilmu gaharu. Teguh sampai membuat penelitan sendiri cara mengolah gaharu selama enam sampai sembilan bulan lamanya.

Meski menemui hambatan dan kendala, namun berkat ketekunan dan bimbingan spiritual orang tua angkatnya bernama Kyai Yunus di Bogor, hasil uji coba atau penelitiannya pun berbuah manis.

“Hasil penelitian pertama tadi saya pikir sudah berupa gaharu olahan yang super. Saya coba kirim ke Singapura di awal tahun 2003,” kisah Teguh.

Satu minggu setelah dikirim, pengusaha gaharu di Singapura bernama Rahim Khan pun memberi respon. Pengusaha keturunan India itu sampai rela terbang ke Jakarta untuk menemui langsung Teguh Raharjo.

“Bahkan dia langsung minta ditunjukkan dimana tempat kerja saya,” kenang Teguh. Teguh yang tak menduga rencana itu pun segera membawa pebisnis itu ke lokasi dimana ia meneliti dan membuat sendiri olahan gaharu yang dikirim ke Singapura tadi.

“Usai melihat lokasi kerja saya yang serba manual dan alat seadanya, orang Singapura itu langsung minta diantar hari itu juga ke bandara karena mau balik ke Singapura lagi. Sampai di Singapura, beliau kembali menghubungi saya. Pak Teguh, besok jam 9 (waktu Singapura) tolong dicek saldo rekeningnya, katanya. Saat dicek ada saldo itu Rp 400 juta. Kata orang Singapura itu untuk modal mengembangkan hasil gaharu saya tersebut.”

“Nah, dari modal itulah saya kembangkan usaha gaharu. Sampai akhirnya, alhamdulillah, di Jakarta itu orang pertama yang menemukan cara pengelolaan gaharu itu adalah saya. Pada tahun 2003 ke 2004 itu nama kita mulai dikenal sampai keluar terutama di negara konsumtifnya gaharu yakni negara-negara jazirah Arab.”

“Akhirnya, boleh dibilang sebagian besar pemain-pemain gaharu lokal di Arab dan Cina itu mendatangi saya, minta kontrak kerja. Nah boomingnya kami menguasai pasar gaharu Jakarta sampai jazirah Arab itu produk-produknya itu olahan kita. Jadi orang pertama yang membuat (olahan) gaharu ini orang Surabaya. Tapi di Jakarta orang pertama yang membuat gaharu (pabrikan) itu kita.”

Di tengah bisnis gaharunya yang berkembang, antusias belajar Teguh rupanya masih membara. Ia yang sudah memimpin Asosiasi Pengusaha Gaharu Indonesia (ASGARIN) itu pun kembali ke kampus. Jadi anak kuliahan. Studi di jurusan ekonomi Universitas Ibnu Khaldun, Jakarta Selatan. Masuk 2010, kelar 2014. (Bersambung…)