Didukung BUMDes, Limbah Dikelola Jadi Pundi-Pundi Rupiah

Darul Kutni, petani Jamur Tiram di Desa
Darul Kutni, sukses budidayakan jamur tiram di Desa Karang Anyar I, Kecamatan Kota Arga Makmur, Bengkulu Utara/foto MS Firman

BENGKULU UTARA, sahabatrakyat.com- Tak selamanya limbah menghadirkan persoalan bagi lingkungan. Jika dikelola dengan baik maka limbah bisa mendatangkan keuntungan ekonomis. Bahkan menjadi pundi-pundi rupiah.

Kondisi itulah yang nampak dari usaha pembudidayaan jamur tiram yang kini terbilang sukses di Desa Karang Anyar I, Kecamatan Kota Arga Makmur, Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu. Limbah serbuk gergaji yang tak dibuang pengelola depot-depot kayu di Arga Makmur diolah sebagai wadah atau media tumbuh jamur tiram.

Berkat usaha yang digeluti sejak 5 tahun silam itu, jamur tiram kini menjadi komoditi unggulan desa. Dengan produksi mencapai 70 kg sekali panen pangsa pasarnya sudah merambah luas. Tak cuma di desa tapi sudah keluar daerah Bengkulu Utara.

Ditemui sahabatrakyat.com baru-baru ini, Kepala Desa Karang Anyar I, Drs. Syaiful Amri mengungkapkan, budidaya jamur tiram merupakan produk unggulan desa yang berkembang berkat sentuhan inovasi.

Melalui BUMDes, kata dia, potensi itu akan terus dikembangkan. Rencana pengemasan, pemberian label dan pengolahan makanan berbahan dasar jamur diharapkan menjadikan jamur tiram sebagai produk unggulan desa yang memiliki harga jual dan berdaya saing di pangsa pasar.

Keberhasilan budidaya jamur tiram ini pun menjadi pemantik bagi pemerintah desa untuk mengembangkan inovasi desa pada peluang usaha lainnya.

“Melalui BUMDes, awal tahun ini inovasi desa akan menyasar pada sejumlah komunitas. Selain memproduksi beras menjadi tepung beras, aneka kue berbahan baku ubi juga akan dikembangkan melalui BUMDes,” terang Syaiful.

Disambangi di kediamannya, petani jamur tiram Desa Karang Anyar I, Darul Kutni mengatakan, dengan modal bahan baku sebesar 2 juta rupiah, dia mampu meraup keuntungan 6 hingga 8 juta rupiah.

Berkat pangsa pasar yang cukup menjanjikan, saat ini dirinya telah memiliki 6 titik lokasi budidaya jamur tiram. Meski demikian, Darul Kutni menjelaskan, hingga saat ini pihaknya belum dapat memenuhi semua permintaan pasar.

Darul mengatakan, usahanya itu kini tak hanya menopang perekonomian keluarga. Budidaya jamur yang telah digelutinya sejak 5 tahun silam telah membuka lapangan pekerjaan pula.

Dia sudah memiliki 6 karyawan. Bahkan, berkat berkembangnya budidaya jamur tiram, dirinya memilih meninggalkan profesi sebagai kuli bangunan yang digeluti sebelumnya. Darul mengapresiasi pemerintah desa yang sudah membantu mengembangkan usahanya.

Sementara itu, salah satu karyawan petani jamur warga Desa Karang Anyar I, Mura Deti menuturkan, budidaya jamur tiram telah membuka lapangan kerja baginya bersama sejumlah pekerja lainnya. Usaha itu kini bisa menyokong ekonomi keluarganya.

Terpisah, Camat Kota Arga Makmur, Sri Dasa Utama mengatakan, jamur tiram yang dikembangkan di Desa karang Anyar I merupakan satu-satunya budidaya jamur terbesar di wilayah Bengkulu Utara.

Sri Dasa mendukung penuh langkah inovatif yang diambil Pemdes setempat terkait penggembangan hasil budidaya jamur tiram, tepung beras dan pengolahan berbagai macam kue berbahan ubi.

Ia meyakini dengan pengelolaan yang baik, selain menjadi ikon desa, usaha-usaha tersebut akan menjadi salah satu penunjang perekonomian warga sekitar.


Penulis: MS Firman

Editor: Jean Freire