previous arrow
next arrow
Slider

(Opini) Remaja dan Seks Bebas

Oleh: Sonia Harlin Pratiwi, Mahasiswi Universitas Indonesia

Sonia Harlin
Sonia Harlin

Dalam satu dekade terakhir jumlah remaja di seluruh dunia mencapai angka tertinggi dibanding kelompok umur lain. Menurut World Health Organization (WHO) ada 1,2 milyar remaja di seluruh  dunia. Populasi remaja yang merupakan golongan umur yang mendominasi di banyak negara. Remaja dengan berbagai ciri khasnya, dengan semua pola perubahan baik fisik dan mental. Dari seorang anak-anak menuju masa dewasa.

Salah satu pola tingkah laku yang sering di ”jalani” oleh remaja ialah hubungan percintaan denga lawan jenis mereka. Sering disebut dengan kata pacaran. Hal ini sama dengan pendapat Rusmiati (2015) “Ketertarikan remaja terhadap lawan jenis diwujudkan dengan berpacaran. Di dalam berpacaran, untuk dapat merasakan aman dan nyaman salah satu bentuk adalah dengan melakukan kedekatan atau keintiman fisik bersama pasangan (pacar).”

Pacaran merupakan bentuk dari penyaluran hasrat seksual seorang remaja. Remaja  memulai menjalin hubungan berpacaran awalnya memang hanya sebatas untuk merasakan kasih sayang dari orang yang dia anggap “spesial” bagi mereka selain orang tua. Namun, banyak sekali yang akhirnya berujung kepada dorongan melakukan tindakan tidak hanya bertukar kasih sayang namun juga menyalurkan hasrat seksual remaja.

Di Indonesia menurut Kemenkes tahun 2012 remaja mulai berpacaran pada rentang usia 15-19 tahun. Bahkan pada remaja laki-laki mereka memulai berpacaran kurang dari usai 15 tahun. Kekhawatian yang muncul ketika era globalisasi yang maju dengan berbagai akses yang dapat dijangkau sedemikian mudahnya, membuat remaja mudah terpapar dengan konten porno sehingga menjerumuskan mereka ke dalam berpacaran yang negatif dan berakhir dengan seks pra nikah. Dampaknya dapat menjadi sangat fatal bagi sebagian remaja putri khususnya yang terlanjur hamil karena berhubungan seksual diluar nikah dan tanpa menggunakan alat kontrasepsi.

Tahun 2014 WHO melaporkan ada sekitar 3 juta remaja perempuan melakukan aborsi ilegal. Selain aborsi ada juga kasus penyakit menular seksual terutama HIV-AIDS, kematian ibu muda. Kecenderungan remaja masa kini untuk melakukan hubungan seksual sebelum nikah membuat keprihatinan untuk dapat segera menyelesaikan permasalah remaja ini.

Remaja merupakan aset suatu bangsa dimana masa depan di tangan mereka. Ketika banyak remaja yang berkutat pada kasus-kasus negatif tentu membuat gamang akan seperti apa masa depan suatu negara jika anak mudanya berkelakuan negatif seperti  ini.

Hal yang harus segera dapat ditangani tidak hanya pemerintah selaku pembuat kebijakan tetapi juga orang tua harus mampu memberikan pendidikan moral dan kepercayaan yang kuat pada anak-anaknya.

Peran orang tua dalam pergaulan bebas remaja menjadi hal mutlak, karena sekolah pertama bagi anak ialah orang tuanya. Oladeji (2015) melakukan penelitian di Nigeria bahwa pola komunikasi orang tua pada remaja, kebiasaan keluarga, keterbukaan dalam keluarga, hubungan antara remaja dan orang tua dengan prilaku seksual beresiko. Di dalam penelitiannya juga bahwa faktor dukungan dari ayah seperti ketidak-hadiran ayah dan dukungan ekonomi dari ayah mempengaruhi prilaku anak remajanya terutama remaja laki-laki.

Selaras juga dengan penelitian Pratama (2014) sebanyak 58% dari responden penelitiannya, perilaku seks pranikah dipengaruhi oleh pengetahuan tentang pendidikan seks. Peran orang tua sebagai orang terdekat sangat dibutuhkan untuk membimbing perkembangan anaknya agar tidak berkembang ke arah yang negatif, selain itu orang tua juga harus tahu dengan siapa saja anak-anak mereka bergaul karena lingkungan bermain salah satu aspek yang cukup berpengaruh dalam mmembangun kepribadian dan juga perilaku anak.

Teman sebaya merupakan faktor penting dalam prilaku pacaran hingga seks bebas, karena remaja mempunyai persepsi yang overestimate terhadap perilaku teman sebaya, sehingga persepsi tentang teman sebaya merupakan determinan yang lebih kuat terhadaptimbulnya perilaku berisiko.

Promosi kesehatan di sekolah, keterampilan hidup dan peningkatan kapasitas program memberikan kesempatan bagi anak muda mengadopsi cara-cara baru berpikir dan berperilaku dalam menentukan prilaku seksualnya. Semakin baik pengetahuan tentang pendidikan seks maka perilaku seks semakin tidak beresiko itu berarti terdapat hubungan antara pengetahuan remaja tentang pendidikan seks dengan perilaku seks pranikah remaja.

 

Referensi

Pratama, E., Hayati, S., & Supriatin, E. (2014). HUBUNGAN PENGETAHUAN REMAJA TENTANG PENDIDIKAN SEKS DENGAN PERILAKU SEKS PRANIKAH PADA REMAJA. J u r n a l  I l m u  K e p e r a w a t a n . V o l . I I . N o . 2.

InfoDaTin. (2012). Pusat Data dan Informasi Kemenkes RI. Jakarta: Kemenkes.

Oladeji, D. (2015). Paternal Influences and Adolescents’ Sexual Risky Behaviours. Ife PsychologIA 2015, 23(1), 230-236.

Rusmiati , D., & Hastono, S. P. (2015). Sikap Remaja terhadap Keperawanan dan Perilaku Seksual dalam Berpacaran. Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 10, No. 1, Agustus 2015.

WHO. (2011). The sexual and reproductive health of younger adolescents. WHO.

 

Komentar Anda
iklan kibar

Related posts