Tak Hanya Ngelem & Mabuk Softex, Anak Muda Bengkulu Kini Mabuk Obat Batuk

IPDA GUNAWAN,
IPDA GUNAWAN, S.I.Kom, M.M

BENGKULU, sahabatrakyat.com– Masalah kenakalan remaja yang bisa berdampak fatal dan merugikan dirinya sendiri dan orang lain masih menjadi persoalan serius yang mendera bangsa ini. Tak terkecuali remaja Bengkulu.

Ipda Gunawan, S.I.Kom.,M.M, Paur Lipproduk PID Bidang Humas Polda Bengkulu, mengungkapkan, setelah trend mabok dengan lem alias ngelem atau mabok dengan meminum cairan rebusan pembalut wanita, saat ini di kalangan anak muda/remaja Provinsi Bengkulu sedang trend mabok dengan meminum obat batuk.

“Ada beberapa jenis obat batuk yang beredar di pasaran yang biasa digunakan untuk mabok-mabokan tersebut, di antaranya adalah Komix dan Samcodin yang dikonsumsi melebihi dosis yang telah ditetapkan dalam penggunaannya,” kata Ipda Gunawan dirilis tribratanewsbengkulu.com, Rabu (11/9/2019).

Ia menjelaskan, kandungan yang terdapat pada obat batuk tersebut yaitu Dekstrometorfan atau biasa dikenal dengan Dextro, sehingga biasa digunakan untuk mabok-mabokan. Dekstrometorfan tersebut termasuk kategori obat-obat tertentu yang sering disalahgunakan berdasarkan Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan RI No. 28 tahun 2018.

Obat-Obat Tertentu yang sering disalahgunakan yang selanjutnya disebut dengan Obat-Obat Tertentu adalah obat yang bekerja di sistem susunan syaraf pusat selain Narkotika dan Psikotropika, yang pada penggunaan di atas dosis terapi dapat menyebabkan ketergantungan dan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku, jelas Gunawan.

Adapun efek samping dari penggunaan dekstrometorfan melebihi dosis tersebut dapat menimbulkan kerusakan pada susunan saraf manusia yang berakibat pada pelemahan koordinasi mental dan motorik yang disertai dengan kecanduan.

Peraturan BPOM tersebut mengatur bahwa pengelolaannya hanya dapat dilakukan pada fasilitas pelayanan kefarmasian yang meliputi pengadaan, penyimpanan, pembuatan, penyaluran, penyerahan, penanganan obat kembalian, penarikan kembali (recall), pemusnahan; dan pencatatan dan pelaporan.

Lanjut Gunawan, fasilitas pelayanan kefarmasian tersebut merupakan sarana yang digunakan untuk menyelenggarakan pelayanan kefarmasian, yaitu Apotek, Instalasi Farmasi Rumah Sakit, Instalasi Farmasi Klinik, Puskesmas, dan Toko Obat.

Ia menambahkan, yang dapat menjual obat-obat yang mengandung dekstrometorfan tersebut termasuk kategori Obat Bebas Terbatas yang memiliki Logo Bulatan Biru Lingkaran Warna Hitam yang hanya dapat dijual bebas di apotek dan toko obat yang memiliki izin berdasarkan ketentuan dalam Keputusan Menteri Kesehatan No. 1331/MENKES/SK/X/2002 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Kesehatan No. 167/KAB/B.VIII/1972 tentang Pedagang Eceran Obat.

Sedangkan jika ada pihak yang mengedarkan Obat Bebas Terbatas selain pada Fasilitas Layanan Kefarmasian serta tidak memiliki keahlian dan kewenangan, maka dapat dikategorikan melanggar ketentuan pidana yang diatur dalam Undang-Undang Kesehatan No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan.

Maka dari itu, tulis Gunawan, diperlukan sinergitas antara pihak yang berwenang seperti Dinas Kesehatan, Balai Pengawas Obat dan Makanan serta pihak Kepolisian yang harus didukung oleh seluruh elemen masyarakat untuk melakukan pencegahan sejak dini agar generasi penerus tidak terjerumus dalam penyalahgunaan obat-obat tersebut. Bahkan bila perlu dapat dilakukan upaya penegakan hukum sebagai efek jera bagi pelaku yang mengedarkannya secara ilegal.

“Polda Bengkulu dan jajarannya dalam hal ini sangat berkomitmen untuk melakukan penegakan hukum terkait peredaran obat secara ilegal tersebut dengan telah menyelesaikan 3 perkara yang saat ini telah dinyatakan p21 oleh pihak kejaksaan,” urai Gunawan.


Editor: Jean Freire