previous arrow
next arrow
Slider

Laris Manis, Polisi Endus Pemain Baru Bisnis Tuak

Teguh Ari Aji/ Foto: Aka Budiman

LEBONG, sahabatrakyat.com- Bisnis minuman keras jenis tuak masih menggiurkan di Kabupaten Lebong. Meski berkali-kali polisi mengungkap kasus dan menertibkan peredarannya. keuntungan yang menggiurkan ditambah penikmat tuak yang masih marak, membuat pemain bisnis ilegal ini bak patah tumbuh hilang berganti.

Terbaru, dari informasi yang dihimpun Polres Lebong, tuak masih beredar di bumi Swarang Patang Stumang ini. Polisi mengendus peredaran itu disebabkan munculnya beberapa pemasok tuak baru dari luar setelah disanksinya pemasok dari Kabupaten Seluma beberapa waktu lalu.

Kapolres Lebong AKBP Andree Ghama Putra melalui Kasat Reskrim Iptu Teguh Ari Aji mengatakan, dari beberapa kegiatan polisi di lapangan dalam mengamankan pesta minuman keras berupa tuak ilegal yang beredar, didapat informasi peredaran tuak menunjukkan ada dua pemain baru yang memasok tuak ke Lebong dalam jumlah cukup besar.

“Informasi yang kita dapat dari beberapa kegiatan yang kita laksanakan bahwasannya sekarang ada pemain baru,” ujarnya kepada sahabatrakyat.com, Senin (13/5/2019) di Tubei.

Setelah razia dilakukan menjelang bulan suci Ramadhan 1440 H, menurut Teguh, perdagangan dipastikan tidak lagi dilakukan. Kata dia, untuk pembongkaran peredaran miras ilegal akan dilakukan setelah hari raya Idul Fitri.

“Kalau kini gak mungkin penjual gak ngomong (sudah digerebek) kalau pun ada sisa-sisa kemarin,” ujarnya. “Kalau sekarang masih kita lidik dulu siapa-siapa orangnya,” tutupnya.

Vonis 6 Bulan

Sementara itu, Kepala Seksi Pidana Umum Kejari Lebong, Erwin mengungkapkan, untuk kasus penangkapan tuak yang melibatkan warga asal Seluma beberapa waktu lalu sudah divonis pengadilan.

Erwin/ Foto: Aka Budiman

Dikatakan Etwin para pelaku bisnis dengan nilai keuntungan yang tembus Rp 1,8 milyar dari pengiriman 10.320 derigen itu telah dijatuhi 6 bulan penjara untuk WN (35 tahun) sebagai pemilik; sementar PG (25 tahun) dan GT (23 tahun) sebagai karyawan disanksi 5 bulan penjara.

“Kini mereka tinggal menjalankan sisa hukumannya lagi di Lapas Curup,” ungkap Erwin.

Untuk barang bukti, sampai Erwin, minuman jenit tuak sudah dimusnakan, uang 3 juta rupiah dari hasil penjualannya saat itu dirampas negara dan satu unit armada pengangkut Mitsubishi Pick Up L300 dikembalikan kepada pelaku.

“Uang sudah kita setorkan ke negara. Hanya kendaraan yang dikembalikan,” tutupnya.

Diketahui, sanksi yang dituntut kepada ketiga pelaku sebelumnya menggunakan Pasal 204 KUHP dengan ancaman 15 tahun dan Pasal 106 UU No. 7 Tahun 2014 Tentang Perdagangan dengan ancaman 4 tahun kurungan penjara.


Penulis: Aka Budiman

Editor: Jean Freire

Komentar Anda
iklan kibar

Related posts