previous arrow
next arrow
Slider

Menilik Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Anak di Lebong

LEBONG, sahabatrakyat.com Polres Lebong mencatat kasus perbuatan cabul terhadap anak dibawah umur di Kabupaten Lebong cenderung meningkat tiap tahunnya, setidaknya dalam kurun dua tahun terakhir. Bila di 2017 tercatat 2 kasus, pada 2018 naik jadi 3 kasus.

Teguh Ari Aji/Foto: Aka Budiman

Kapolres Lebong AKBP Andree Ghama Putra SIK melalui Kasat Reskrim Iptu Teguh Ari Aji menjelaskan, dari beberapa kasus yang dikaji selama ini, pelaku pencabulan terhadap anak kebanyakan dilakukan oleh orang dewasa dan kerabat dekat anak yang menjadi korban.

Pelaku, lanjutnya, biasanya orang yang telah bercerai dari pasangannya dan termasuk dalam kategori ekonomi lemah.

“Kalau kita yang mikir, nyari, yang bayarlah. Habisnya yang bayar gak ada. Mau bayar gak ada uang, yang dibayar juga gak ada. Akhirnya apa, anak yang jadi korban,”kata Teguh yang dikonfirmasi Senin (20/5/2019) di ruang kerjanya.

Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Kependudukan dan Keluarga Berencana (DPPAKKB) Kabupaten Lebong juga melihat kondisi rumah juga menjadi pemicu kekerasan seksual terhadap anak, selain ekonomi.

Jusmani (bertas merah) bersama timnya/Foto: dok pribadi Jusmani

“Karena untuk menghindari perilaku menyimpang itu harus dimulai dari rumah tangga, maka keluarga juga jangan membiarkan rumah tanpa sekat,” ujar Kepala Bidang Pencegahan, Penanganan Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak Jusmani, Selasa (21/5/2019) di Tubei.

Kepala DPPAKKB Firdaus mengatakan, orang tua memiliki peran yang sangat penting untuk melakukan pengawasan terhadap lingkungan anak. Jika sampai ada (penyimpangan) itu, kata dia, bisa dibilang ada kelainan jiwa, yang salah satunya didukung dengan keadaan rumah tanpa sekat.

“Itu kan, memicu kan. Timbulnya kelainan jiwa itu biasanya dari biasa-biasa saja akhirnya dia mempunyai suatu hasrat yang tidak tercapai mulai kacau otaknya,” kata Firdaus.

Sebagai instansi yang punya tugas dalam mencegah dan menangani kekerasan terhadap perempuan dan anak, DPPAKKB sendiri punya sejumlah program dan kegiatan.

Firdaus/Foto: Aka Budiman

Langkah pencegahan dilakukan dengan menggelar sosialisasi. Sementara penanganan dilakukan dengan pendampingan secara fisik dan pisikis.

“Iya, sesuai dengan UU 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang sudah diubah dengan UU 35 Tahun 2014,” sebut Firdaus.

Sementara itu, Kepala Panti Asuhan Al Jihad, Hj Yulina mengungkapkan, panti asuhan hadir menampung anak yang sudah ditinggal orang tuanya, antara lain, guna menghindari kekerasan terhadap anak.

“Kami terima, soalnya (untuk) mengantisipasi. Kan sekarang banyak soal pemerkosaan. Apalagi di rumah terkadang hanya berdua kek mamang,” ujarnya, Minggu (19/5/2019) di Muara Aman.


Penulis: Aka Budiman

Editor: Jean Freire

Komentar Anda
iklan kibar

Related posts