previous arrow
next arrow
Slider

Publik Karate Nilai Janggal Kebijakan FORKI

Gambar absensi kehadiran karateka/foto FB Fedi Buleh

BENGKULU, sahabatrakyat.com– Kebijakan Binpres Pengprov FORKI mencoret sejumlah atlet lalu memasukkan nama baru dalam seleksi Kejurnas Karate Piala KASAD 2019 rupanya sudah menjadi topik ulasan publik karate di jagat maya sejak 10 Maret 2019 lalu.

Di Grup Facebook Peduli Karate Bengkulu (747 members) yang dipantau sahabatrakyat.com, misalnya, para netizen ramai mengulas kebijakan yang bertolak belakang bahkan cenderung timpang. Perbincangan warganet itu diawali postingan gambar absensi di akun Fedi Buleh pada tanggal 10 Maret 2019 pukul 13.53 WIB.

Kebijakan itu adalah dicoretnya nama M Abdi Fallah yang absensi kehadirannya penuh, sementara nama Linggo Dwi Yulianto yang alpa sejak hari pertama malah tetap masuk daftar atlet Piala KASAD.

Bahkan setelah ditelusuri, dalam surat panggilan FORKI, nama Linggo sebenarnya tidak ada dalam daftar atlet yang dipanggil pemusatan latihan. Yang ada nama Lingga Dwi Pranata.

Informasinya, kedua karateka asal Inkanas itu adalah saudara kembar. Namun apakah karena mereka kembar lalu Binpres tidak mempersoalkan siapa saja yang diikut-sertakan nanti, hal ini belum terkonfirmasi.

“Waah bahaya ini yg hadir malah di buang?? yg tidak ada di daftar malah namanya tercantum di daftar piala KASAD. WHAT WRONG??” komentar Azar Zen.

“Yg begini pengen karate bkl maju….kasihan atlet yg rajin berlatih dan ingin maju harus tersisi hanya karena “ADA YG SALAH”….komentar akun Jier Adjier Husein

“Katanya mau memajukan karateka bengkulu menjadi lebih baik lagi..Kalo yang alpa bisa dikirim juga..Ngak usah diadain seleksi2 lagi (seleksi hanya pencitraan),” tulis Korniawan Sholeh.

“Kasihan Atlit yg Rajin…Jadi patah semangat,” komentar netizen lainnya, Parlin Hutabarat.

Bahkan salah satu atlet yang namanya dicoret Twoson Efriadi Gultom ikut bersuara. “Kasihan atlet yg gk tahu wkt, hari untk memikirkan lthn dan tdk di berangkatkan. Kasihan banget ya di kayak gitu in,” tulisnya.

“Mereka cuma bisa bicara di belakang kalau ada masalah pribadi mari kita selesaikan jangan anak jadi korban dan menghancurkan karakter anak didik, kita tunggu janji dari kabinpres KONI untuk menyelesaikan,” komentar Rita Elida.

Entah ikut menyimak alias cuma memantau atau bagaimana, tak satu pun pejabat FORKI yang membalas komentar para netizen tersebut. Padahal saat diperiksa siapa saja anggota grup, sejumlah nama yang masuk dalam jajaran pengurus FORKI Bengkulu ternyata ada di dalam grup ini.


Penulis: Jean Freire

Komentar Anda
iklan kibar

Related posts