(OPINI) Peralihan Musim, Waspada Puting Beliung

Ilustrasi Puting Beliung

BENGKULU, sahabatrakyat.com- Memasuki pertengahan Nopember 2019, diperkirakan intensitas hujan di beberapa wilayah Propinsi Bengkulu akan meningkat. Selain potensi banjir, longgsor, dan petir, perlu juga diwaspadai potensi bahaya angin puting beliung. Masih ingat dalam memori kita, peristiwa bencana puting beliung yang terjadi pada tanggal 24 Februari 2015 di Desa Tugurejo, Kecamatan Kabawetan. Setidaknya 50 rumah warga mengalami rusak berat dan ringan akibat serangan angin puting beliung ini. Tidak hanya kerusakan bangunan, angin puting beliung kali ini mengakibatkan satu warga terpaksa dilarikan ke RSUD Kepahiang karena mengalami luka-luka setelah tertimpa reruntuhan atau puing-puing atap rumah. Total kerugian akibat puting beliung ini diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah (www.kupasbengkulu.com, 24/02).

Yang teranyar kejadian angin puting beliung di Desa Sosokan Taba Kecamatan Muara Kemumu, Kepahiang tanggal 12 Nopember 2019. Akibat bencana ini 1 unit rumah rusak sedang dan 4 lainnya rusak ringan. Bersyukur tidak ada korban jiwa.

Mengenal Angin Puting Beliung

Angin puting beliung adalah angin kencang yang datang secara tiba – tiba dan bertekanan tinggi, mempunyai pusat, bergerak melingkar seperti spiral hingga menyentuh permukaan bumi dan hilang dalam waktu singkat (3 – 5 menit) dan dalam radius 5 – 10 km. Kecepatan angin berkisar antara 30 – 40 knots. Akibatnya, pohon dan papan reklame patah, bergeser, hingga tumbang, rumah dengan pondasi kurang kokoh bisa rusak bahkan ambruk dan.

Angin ini berasal dari awan Cumulonimbus (Cb) yaitu awan yang bergumpal berwarna abu–abu gelap dan menjulang tinggi. Namun, tidak semua awan Cumulonimbus menimbulkan puting beliung. Angin ini lebih sering terjadi pada siang atau sore hari, terkadang pada malam hari dan lebih sering terjadi pada peralihan musim (pancaroba).  Luas daerah yang terkena dampaknya sekitar 5 – 10 km, karena itu bersifat sangat lokal.

Potensi kejadian angin puting beliung biasa terjadi pada musim peralihan, baik peralihan musim hujan ke kemarau ataupun dari musim kemarau ke penghujan seringnya kejadian tersebut disertai hujan, karena terbentuknya daerah – daerah konvergen atau tempat berkumpulnya massa udara yang membentuk awan konvektif (awan yang berpotensi hujan).

Awan konvektif selanjutnya menjadi awan cumulonimbus yang menyebabkan hujan turun
disertai petir. Selain itu, awan Cumulonimbus yang tiba-tiba gelap menjadi pertanda munculnya angin puting beliung. Potensi akan terjadinya angin puting beliung sulit untuk diprediksi kemunculannya, tetapi patut di tambahkan kejadian angin puting beliung di suatu daerah tidak akan terjadi pada waktu dan lokasi yang sama (tidak ada Angin Puting Beliung susulan), tetapi pada suatu daerah tertentu dapat terjadi angin puting beliung pada waktu yang berbeda (misal, pernah terjadi pada tahun 2015 pada musim peralihan hujan ke kemarau terjadi, bisa terjadi lagi pada musim peralihan kemarau ke hujan pada tahun 2016).

Angin semacam itu bertiup karena pemanasan yang tidak merata, dan terkait konsentrasi penguapan serta adanya perbedaan cuaca yang ekstrem pada musim peralihan (terjadi penguapan yang cukup tinggi, namun di sisi lain curah hujan cukup rendah). Proses terjadinya angin puting beliung, biasanya terjadi pada siang hari suhu udara panas, pengap, dan awan hitam mengumpul, akibat radiasi matahari di siang hari tumbuh awan secara vertikal, selanjutnya di dalam awan tersebut terjadi pergolakan arus udara naik dan turun dengan kecepatan yang cukup tinggi. Arus udara yang turun dengan kecepatan yang tinggi menghembus ke permukaan bumi secara tiba-tiba dan berjalan secara acak.

Atau secara teori, angin puting beliung terjadi akibat adanya mekanisme tekanan massa air hujan yang cukup besar yang turun dari awan hujan yang rendah Comulonimbus sewaktu hujan akan turun. Gerakan massa yang besar tersebut mendorong lapisan udara di bawahnya sehingga terjadi perubahan tekanan udara yang menyebabkan angin bergerak ke bawah.

Ketika mencapai permukaan bumi ia akan bergerak ke arah tegak lurus permukaan bumi, tetapi angin kuat yang bergerak dari arah sampingnya menyebabkan terbentuknya arus udara turbulen berputar-putar. Massa udara di dalam puting beliung ini berputar-putar dengan cepat, seakan-akan seperti di dalam sebuah siklon.

Bergabungnya beberapa vektor angin dari berbagai arah menjadikan resultan kekuatan angin menjadi semakin kuat dan akibatnya akan mendorong, menarik bahkan menerbangkan benda-benda sekitarnya. Jika kecepatan anginnya sangat tinggi dapat menyebabkan kerusakan perumahan dan bangunan yang cukup parah.

Erat kaitannya dengan awan jenis Cumulonimbus (Cb) yang terbentuk oleh uap air hasil penguapan intensif. Dalam waktu tertentu, uap air ini akan terangkut ke bawah awan cumulus yang merupakan embrio awan Cumulonimbus. Siklus awan Cumulonimbus dalam proses pembentukannya akan mengalami tiga fase, yaitu fase cumulus, matang dan punah.

Pada fase awan Cumulus, awan Cumulus biasa tumbuh dari awan-awan Stratus yang kemudian berkembang menjadi awan Cumulus, namun lebih aktif dengan bentuk yang khas seperti bunga kol dan sudah mulai terjadi proses pergerakan arus udara naik (updraft) dari dasar awan menuju puncak awan. Temperatur di dalamnya lebih hangat dibandingkan dengan suhu udara di sekitarnya.

Pada fase matang (mature stage), fisik awan berubah menjadi tinggi menjulang. Pada fase ini arus listrik di dalam awan mulai terbentuk ditandai dengan adanya fenomena kilat dan petir yang bersahut-sahutan. Pada badan awan dorongan arus udara naik makin kencang, sedangkan di bawah bagian depan arah terjadi pergerakan arus udara turun.

Tiupan angin turun yang menyembur ke bawah sangat kencang. Ini terjadi dengan tiba-tiba bergabung gulungan angin mendatar dan gulungan angin vertikal. Jika arus angin bertemu dengan angin dari awan maka akan terbentuk pusaran angin yang sangat kuat dan lazim dikenal sebagai angin puting beliung yang memiliki kecepatan rata-rata 60-90 km/jam disertai dengan semburan hujan sangat deras (water spout).

Masa akhir dari awan Cumulonimbus adalah fase punah, dimana arus udara turun di seluruh titik awan yang sebelumnya berupa awan berwarna gelap kini berubah menjadi awan kelabu disertai dengan intensitas hujan yang semakin menurun.

Apakah Bisa Diprediksi?

Memprediksi kehadiran angin puting beliung masih sulit dilakukan karena mekanisme dan dinamika atmosfir pembentukannya bersifat sangat lokal, sangat cepat dan berlangsung singkat. Pelepasan energi dari awan pada masa matang yang disertai oleh semburan angin di bawah awan inilah yang harus diwaspadai karena memiliki potensi terjadinya angin puting beliung yang merusak.

Semburan angin kencang puting beliung biasanya berlangsung sekitar 5 hingga 15 menit karena awan-awan Cumulonimbus di daratan tumbuh secara sendiri-sendiri. Namun karena kekuatan angin yang cukup kencang dan berputar, maka angin akan bersifat destruktif dan sangat merusak benda-benda yang dilaluinya.

Secara umum, gejala awal kehadiran puting beliung dapat dikenal. Sehingga perlu diwaspadai oleh masyarakat lewat tanda – tanda alam sebagai berikut.

Satu atau dua hari sebelum kejadian pada malam hari hingga pagi hari udara panas atau pengap. Pada pagi hari terlihat pertumbuhan awan yang berlapis–lapis ke atas (awan Cumulonimbus) atau bergulung-gulung menjulang tinggi berbentuk seperti bunga kol dan puncaknya putih.

Tinggi dasar awan tersebut berkisar 400-600 meter di atas permukaan laut dan biasanya proses pembentukan awan Cumulonimbus mulai pukul 10.00 WIB hingga 14.00 WIB dan diikuti dengan perubahan warna pada awan tersebut dari putih menjadi hitam pekat.

Dahan atau ranting pada pepohonan disekitar daerah adanya awan tersebut bergoyang cepat dan udara terasa dingin sekali (seperti udara di dalam kulkas). Kadang disertai hujan gerimis atau deras secara tiba – tiba serta petir.

Langkah Antisipatif Menghadapi Puting Beliung

Beberapa langkah antisipasi dini yang bisa diambil sebelum terjadi puting beliung antara lain Mewaspadai perubahan cuaca, mendengarkan dan menyimak siaran radio atau televisi menyangkut prakiraan cuaca setempat terkini, mewaspadai angin putting beliung yang mendekat, waspadai tanda-tanda bahaya sebagai berikut: langit gelap, awan rendah, hitam, besar, seringkali bergerak berputar, suara keras seperti bunyi kereta api cepat, dan bersiap untuk berlindung di bunker atau dalam rumah.

Agar dampak dari terjangan angin puting beliung bisa dikurangi perlu diambil langkah–langkah antisipatif, antara lain menebang dahan–dahan dari pohon yang rimbun dan tinggi untuk mengurangi beban berat pada pohon tersebut; memperkuat atap rumah yang sudah rapuh, cepat berlindung atau menjauh dari tempat kejadian (berlindung di dalam rumah yang kokoh/beton).

Bila mengetahui adanya indikasi akan terjadi puting beliung, mengatur penempatan papan reklame atau baliho di tepi jalan, kabel–kabel jaringan listrik atau telepon dirapikan, ketika sedang mengendarai kendaraan, usahakan berhenti sejenak sambil menunggu angin reda dan hujan turun tetapi jangan berteduh di bawah pohon rindang dan tinggi/papan reklame/baliho/rumah yang rapuh, kenali bulan–bulan musim pancaroba di daerah kita, program penghijauan kembali daerah yang kurang vegetasinya untuk mengurangi perbedaan suhu mencolok.

Sedangkan tindakan yang bisa diambil saat angin puting beliung datang antara lain bila dalam keadaan bahaya segeralah ke tempat perlindungan (bunker). Jika berada di dalam bangunan seperti rumah, gedung perkantoran, sekolah, rumah sakit, pabrik, pusat perbelanjaan, gedung pencakar langit, maka yang harus dilakukan adalah segera menuju ke ruangan yang telah dipersiapkan untuk menghadapi keadaan tersebut seperti sebuah ruangan yang dianggap paling aman, basement, ruangan anti badai, atau di tingkat lantai yang paling bawah.

Bila tidak terdapat basement, segeralah ke tengah tengah ruangan pada lantai terbawah, jauhilah sudut sudut ruangan, jendela, pintu, dan dinding terluar bangunan. Semakin banyak sekat dinding antara diri anda dengan dinding terluar gedung semakin aman.

Berlindunglah di bawah meja gunakan lengan anda untuk melindungi kepala dan leher anda. Tidak membuka jendela. Jika sedang berkendara (sepeda motor, mobil), segera hentikan dan tinggalkan kendaraan kita serta carilah tempat perlindungan yang terdekat seperti yang telah disebutkan di atas.

Jika kita berada di luar ruangan dan jauh dari tempat perlindungan, maka yang anda harus lakukan adalah sebagai berikut: Tiaraplah pada tempat yang serendah mungkin, saluran air terdekat atau sejenisnya sambil tetap melindungi kepala dan leher dengan menggunakan lengan.

Tidak berlindung di bawah jembatan, jalan layang, jembatan penyeberangan, dan sejenisnya. Lebih aman tiarap pada tempat yang datar dan rendah.

Jangan berusaha melarikan diri dari angin puting beliung dengan menggunakan kendaraan bermobil bila di daerah yang berpenduduk padat atau yang bangunannya banyak. Segera tinggalkan kendaraan anda untuk mencari tempat perlindungan terdekat. Hati-hati terhadap benda-benda yang diterbangkan angin puting beliung karena dapat menyebabkan cedera serius bahkan kematian.


Penulis: Sabar Ardiansyah, SST

Staff Fungsional Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika