Baru Satu-Satunya Tempuh Sekolah Tinggi, Dara Manis Ini Tekad Bangun Kesehatan Masyarakat di Desanya

Shantia Wullandhry

LEBONG, sahabatrakyat.com- Desa Sungai Lisai, Kecamatan Pinang Belapis, Lebong masih terbilang kurang dalam mendapatkan pelayanan. Terutama di sektor pendidikan dan kesehatan.

Di bidang pendidikan, misalnya, anak-anak desa ini harus merantau ke desa tetangga jika mau melanjutkan sekolah ke jenjang SLTP dan seterusnya. Soal kesehatan, warga juga harus ke desa tetangga jika mau dapat layanan medis yang lebih komplit.

Keterbatasan itu tampaknya disadari betul oleh Shantia Whullandhry. Dara manis 20 tahun yang akrab disapa Susan ini mengalami langsung jauh dari orang tua karena harus merantau ke desa tetangga setelah menamatkan sekolah dasar.

Ia juga pernah merasakan kesedihan tak terkira karena kerabatnya yang sakit harus meninggal di perjalanan saat menuju pusat pelayanan kesehatan terdekat.

Tak mau hal-hal itu terus berlangsung, Susan dengan susah payah akhirnya bisa kuliah di Sekolah Tinggi Kesehatan Tri Mandiri Sakti Bengkulu. Di sini ia pilih jurusan kebidanan. Tekad Susan, kelak bisa kembali ke desa dan mengabdikan ilmunya di sana.

Studi kebidanan yang dipilih Susan bukan tanpa alasan. Katanya, pilihan itu atas dukungan masyarakat desa dan kedua orangtuanya. Dukungan itu dia dapatkan setelah impiannya bisa memfasilitasi pelayanan kesehatan di desa itu ia ungkapkan kepada orang tua.

“Di desa aku itu kalau ada yang sakit harus digotong pakai tandu lewat hutan. Dak dekat pulo. Sanak aku pernah ada yang meninggal di jalan waktu itu,” tutur Susan yang disambangi sahabatrakyat.com di rumah kosan-nya di Kota Bengkulu, belum lama ini (7/9/2019).

Susan melanjutkan pendidikan dengan biaya mandiri. Sebelum bisa kuliah, Susan rela bekerja di salah satu klinik akupuntur di Kota Bengkulu. Hasil bekerja selama sekitar sembilan bulan itulah yang dia kumpul untuk membiayai uang masuk kuliah dan keperluan lainnya, termasuk membantu biaya masuk SMP adiknya.

Susan adalah anak ke-4 dari lima bersaudara. Sebagai anak petani, ia mengaku harus sambil berdagang agar bisa bayar uang semesteran yang mencapai Rp 15 juta. Tak mungkin semua diusahakan orang tua. Sebab masih ada saudaranya yang harus diberi perhatian dan biaya.

“Kalau kini baru aku yang sampai perguruan tinggi. Kalau adik masih SMP,” sampai Susan yang kini dipercaya teman kampusnya menjadi ketua kelas (Komti). Susan menyelesaikan sekolah menengah pertama di MTs Lebong Utara dan menuntaskan pendidikan menengah atas-nya di SMK Muhammadiyah Muara Aman tahun 2017.

Perjuangan Susan setelah masuk Tri Mandiri Sakti Bengkulu di akhir 2018 masih terkendala biaya hidup. Ia mengatasi itu dengan menyempatkan diri dengan berdagang pakaian secara online di waktu senggangnya.

“Sudah dua tahun aku dak pulang ke desa, kalau pulang nanti yang jelas aku mau ada yang diberikan kepada masyarakat desa, ilmu kesehatan pastinya,” tutur Susan.

Sebagai satu-satunya anak dari Desa Sungai Lisai yang sekolah tinggi ilmu kesehatan, Susan berharap keilmuannya dapat merubah pola pikir masyarakat desa yang masih percaya dengan pengobatan dukun. Keadaan itu menurutnya terjadi karena pengetahuan tentang kesehatan masyarakat yang masih minim.

“Di sana pemahaman tentang medis sangat minim, mereka kalau sakit melakukan pengobatan dukun. Tentang kesehatan di sana perlu pola pikir yang maju,” tandas Susan.


Pewarta: Aka Budiman