‘Belajar’ di Warnet, Lima Pelajar Diangkut Satpol PP

 

LEBONG, sahabatrakyat.com Lima pelajar SLTA diamankan Satpol PP Lebong dalam operasi cipta kondisi yang berlangsung Senin (16/9/2019) pagi. Kelima pelajar itu diciduk petugas saat nongkrong di salah satu warung internet (warnet) di Kelurahan Embong Panjang.

Data dihimpun, kelima siswa itu masing-masing berasal dari SMK 1 Lebong Utara (3 orang) dan 2 siswa lainnya asal SMK Lebong Tengah. Mereka ditangkap setelah petugas menerima laporan warga yang melihat siswa itu ada di warnet dengan seragam sekolah.

Kepala Bidang Ketertiban Umum dan Ketentraman Masyarakat Satpol PP Lebong, Andriwan Aristiawan mengatakan, siswa yang bolos itu diamakan lalu diserahkan ke pihak sekolah masing-masing agar dapat dibina.

“Selain itu kita juga melakukan pemeriksaan kelengkapan perizinan usaha warnet. Hasilnya, ada delapan warnet yang mengantongi izin. Bagi yang tidak punya izin, kami sudah imbau dan beri peringatan agar segera mengurusnya ke PTSP,” kata Andriwan.

Lebih lanjut, Andriwan mengatakan, dalam operasi rutin itu pihaknya juga melakukan penertiban hewan berkaki empat, operasi tuak, perizinan usaha, reklame, dan lainnya sesuai dengan tupoksi Satpol PP sebagai penegak perda.

Sanksi Sekolah
Sementara itu, Kepala SMK 1 Lebong Tengah Defri Nurman, S.Pd mengapresiasi tindakan Satpol PP yang telah mengamankan siswanya yang membolos itu. Defri menilai hal itu sebagai salah satu upaya pengawasan terhadap kenakalan remaja dan anak muda.

“Kami akan memberikan sanksi kepada siswa yang membolos berupa sanksi disiplin, yaitu kebersihan dan lain-lain,” kata Defri.

Selama ini, lanjut Defri, sekolah sudah menerapkan upaya preventif yang tidak merugikan atau memberatkan siswa. Misalnya menerapkan jurnal absen per jam sebagai kontrol terhadap siswa. “Mulai dari apel pagi hingga selesai jam belajar. Ini tugas guru piket,” pangkasnya.

Kata Defri, salah satu kendala yang membuat pihaknya kewalahan mengatasi siswa yang membolos adalah belum adanya tembok sekolah dan petugas security.

“Sekolah belum ada tembok sehingga kita agak sulit mengawasi siswa yang keluar-masuk sekolah. Apalagi sekarang sekolah kita tidak ada lagi security. Security baru keluar dari PTT sekolah kita,” ungkap Defri.


Pewarta: Sumitra Naibaho