Menimbang Beasiswa Demi Wujudkan Cita-Cita Susan

LEBONG, sahabatrakyat.com- Cita-cita Shantia Whulandari (20 tahun)–disapa Susan, bisa kembali mengabdi di Desa Sungai Lisai, tanah kelahirannya, usai menamatkan studi kebidanan di Sekolah Tinggi Kesehatan Tri Mandiri Sakti Bengkulu terus menuai apresiasi berbagai pihak.

Apresiasi itu diberikan mengingat Susan berasal dari Desa Sungai Lisai yang memang masih kurang dalam pelayanan dasar, yakni pendidikan dan kesehatan. Susan harus bekerja dulu demi menabung uang masuk kuliah. Ia memilih jurusan yang nanti bisa berguna bagi desanya, yakni kebidanan.

Sejumlah pihak menilai Susan pantas diberi beasiswa agar cita-citanya terwujud, terutama beasiswa dari Pemkab Lebong. Apalagi selama ini dukungan beasiswa bagi anak-anak Lebong yang melanjutkan studi ke perguruan tinggi sudah berjalan dengan syarat dan ketentuan tertentu, utamanya prestasi.

Bakal Dikaji

Kepala Badan Kepegawaian dan Peningkatan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Guntur, S.Sos mengapresiasi semangat dan perjuangan Susan–sapaan Shantia Whulandary, sehingga mampu melanjutkan pendidikan tinggi sekalipun dihimpit kondisi ekonominya yang sulit.

Untuk itu, lanjut Guntur, dirinya akan mempelajari regulasi untuk memastikan apakah Susan bisa atau tidak mendapat bantuan biaya pendidikan, misalnya beasiswa, dari pemerintah daerah.

“Kami baru tahu informasi ini. Sayang dia kemarin tidak ikut program beasiswa pemerintah daerah. Jadi, bukan tidak bisa, kita pelajari dulu aturannya,” kata Guntur kepada sahabatrakyat.com, Selasa (17/9/2018) di kediamannya di Desa Gunung Alam, Pelabai.

Guntur mengatakan, 25 pelajar Lebong yang mendapat beasiswa pendidikan di berbagai perguruan tinggi tahun 2019 baru-baru ini adalah siswa-siswa berprestasi.

Mereka yang mendapat beasiswa tersebut, lanjut Guntur, juga punya komitmen kembali ke Lebong setelah menyelesaikan studinya. Mereka diharuskan bekerja di Kabupaten Lebong, kecuali ada suatu alasan yang tidak bisa ditinggalkan.

“Kita tidak memberikan peluang untuk keluar. Mereka harus mengabdi di Kabupaten Lebong. (Jadi) Kita lihat kepentingannya untuk apa,” tandasnya.

Komitmen Tertulis

Sementara itu, tokoh pemuda Lebong, Nurcholis Sastro mengingatkan agar bantuan beasiswa bagi mahasiswa Lebong diikat dengan komitmen tertulis. Tidak cuma lisan.

“Pemberian beasiswa untuk pemuda di suatu daerah yang mau mengabdi di tanah kelahirannya pernah dilaksanakan di kabupaten lain, namun gagal karena tidak ada kesepakatan tertulis, hanya lisan,” ujar Sastro, Kamis (19/9/2019).

“Jarang ada teman muda yang punya komitmen untuk daerah terpencil. Jadi memang harus jelas dan tegas komitmennya,” tandas Sastro.

Supriyatna bersama warga Desa Sungai Lisai saat melaksanakan pembangunan yang didanai dana desa/Foto: Istimewa

Dana Desa

Tenaga Pendamping Profesional Desa, Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Kabupaten Lebong, Supriyatna memaparkan, dukungan pendidikan bagi Susan bisa dimungkinkan dengan beasiswa. Apalagi dengan keterbatasan ekonomi dan pertimbangan kondisi desa asalnya yang terpencil dan masih minim pelayanan dasar kesehatan.

“Sungai Lisai adalah desa yang saat ini didukung oleh dana desa. Dengan kondisi dimana fasilitas pendidikan dan kesehatan belum memadai, maka apa yang memang dibutuhkan masyarakat, itulah yang diprioritaskan,” katanya.

Terkait skala prioritas tersebut, ia mengingatkan pemerintah desa untuk merujuk Permendesa PDTT Nomor 11 Tahun 2019 tentang Prioritas Penggunaan Dana Desa Tahun 2020.

Ujang Supri, sapaan Supriyatna, juga mengapresiasi perjuangan Susan dalam menempuh pendidikan dan komitmennya untuk kembali mengabdi di Sungai Lisai usai menamatkan studi.

“Bisa dibilang Susan ini adalah potensi SDM yang dimiliki Lebong, khususnya Sungai Lisai. Jadi sangat pantas diberi perhatian dan dukungan,” katanya.


Pewarta: Aka Budiman & Sumitra Naibaho

Catatan: Artikel ini sudah melalui proses revisi judul demi ketepatan pokok masalah yang disajikan. Demikian agar dapat dimaklumi.