Menyapa Anak-Anak Lebong yang Terlantar & Kiprah 25 Tahun Al Jihad Mendidik Akhlak Anak Asuhnya

Pengurus dan anak-anak panti asuhan Al Jihad pose bersama jurnalis sahabatrakyat.com

LEBONG, sahabatrakyat.com– Minggu, 19 Mei 2019 sekitar pukul 13.00 WIB. Terik mentari menyengat ubun-ubun ketika langkah kaki menyusur suara sayup televisi dari sebuah bangunan di sudut ruang di belakang sekolah. Dari luar gedung sejumlah anak tampak membisu. Tubuh mereka seolah membatu menatap lekat ke layar televisi. Entah apa yang mereka tonton.

Sejurus kemudian perhatian mereka pecah ketika salam sahabatrakyat.com mengusik tiba-tiba dari muka jalan masuk. Tak butuh waktu lama, lepas menjawab salam, segera saja satu per satu mereka bangkit berdiri, mendekat, lalu mengulur jabat dan mencium tangan dengan hormat.

Para bocah belasan tahun itu adalah anak-anak di Panti Asuhan Al Jihad di Kelurahan Kampung Jawa, Kecamatan Lebong Utara, Lebong. Sekilas memang tampak sepi ketika kali pertama menjejak. Padahal bangunan bertingkat itu hanya berjarak sekitar 10 meter dari pinggir jalan raya utama.

Meski pertemuan pertama itu berwarna sipu. Tapi anak-anak ini tak abai menjunjung etika dan moral anak-anak nusantara yang berbudaya senapas Pancasila. “Mereka ini ada anak yatim; yatim piatu; ada juga anak yang masih punya orang tua namun tidak mampu memenuhi kebutuhan anak sehingga mereka terlantar,” jelas Hj. Yuslina, ketua pengurus panti yang menyambut ramah sahabatrakyat.com.

Yuslina mengatakan, selain soal pendidikan, anak-anak yang ada di panti itu sebelumnya juga terkategori terlantar secara ekonomi. Umumnya anak-anak ini diantar langsung keluarga. “Mereka terlantar masalah pendidikan dan ekonomi, umumnya mereka di sini diantar oleh keluarganya,” ujarnya di ruang tamu Panti Asuhan Al Jihad.

Anak yang diasuh di Panti Al Jihad seluruhnya berjumlah 46 anak, laki-laki dan perempuan. Mereka dibina oleh 10 orang pengurus panti.

Ada dua metode pengasuhan anak di sini. Pertama, dengan pengasuhan anak tinggal di dalam panti sebanyak 16 anak; dan kedua, pola asuh luar panti (30 anak). Umur mereka beragam dengan pendidikan mulai sekolah dasar hingga menengah atas.

Untuk tingkat sekolah dasar terdapat satu anak yang tinggal dalam panti dan 11 anak di luar panti; yang sekolah menengah pertama, 9 anak di dalam panti dan 9 anak di luar panti; sementara untuk tingkat sekolah menengah atas, ada 3 anak di asuh dalam panti dan 4 anak di luar panti.

“Mereka sekolah formal. Kami tidak memaksa mereka harus sekolah di sini (Muhamadiyah). Mereka mau sekolah dimana saja, silahkan,” kata Yusliana.

Kegiatan siswa dalam panti Asuhan Al Jihad, sampai Yusliana, lebih ditekankan pada pembentukan akhlak anak. “Iya, di panti kita didik akhlakulkarimah agamanya,” tegasnya.

Secara umum aktivitas di panti dimulai di pagi hari dengan sholat subuh berjamaah dan persiapan sarapan pagi sebelum berangkat sekolah sampai pukul 13:00 WIB.

Setelah pulang ke panti, anak-anak diberi waktu tidur siang hingga tiba menjalankan sholat ashar berjamaah usai makan siang. Kegiatan mengaji dilakukan setelah sholat ashar hingga pukul 17:00. Lalu, usai melanjutkan sholat magrib berjamaah anak diberikan waktu belajar malam hingga sholat isya berjamaah untuk kemudian tidur malam pukul 21:00.

Untuk anak yang diasuh diluar panti, sampainya, mereka datang apabila ada kunjungan ataupun pertemuan, untuk rutin ke panti dua minggu sekali.

Yusliana bilang, Panti Asuhan Al Jihad memberikan seluruh kebutuhan pendidikan anak yang diasuh, mulai dari pakaian seragam, uang saku, makan, perlengkapan sekolah hingga perlengkapan mandi. “Segalonyo, masalah sekolah, uang sekolah, baju pakaian seragam. Semuanya,” ujarnya.

Untuk memenuhi kebutuhan anak panti, dana dihimpun lembaga dari proposal yang diajukan ke pemerintah dan pemasukan yang didapat dari para dermawan.

Ado sih dari dinas sosial, setiap tahunnya kita mengajukan proposal untuk bantuan dana satu orang anak 1 juta khusus dana nutrisi dan perlengkapan sekolah. Selain itu dari bantuan donatur dan sumbangan-sumbangan,” ucapnya.

Untuk menampung anak yang tinggal dalam panti, sampainya, terbatas dengan jumlah ketersediaan kamar yang ada saat ini, satu kamar berisi 4 orang anak. Jika kamar anak perempuan sudah maksimal terisi 9 anak, untuk kamar anak laki-laki baru terisi 6 anak dan masih bisa mendatangkan 2-3 anak lagi. “Masih bisa, kalau yang harus benar benar kita bantu kita harus bantu,” tuturnya.

Menurutnya, anak yang perlu dibantu untuk dapat disekolahkan di panti asuhan di Kabupaten Lebong masih sangat banyak. Sebelum merekrut, terangnya, perlu penyelidikan terlebih dahulu dan rekomendasi dari pemerintah.

“Untuk peraturan kemaren kami dapat surat edaran itu harus ada rekomendasi dari dinas sosial. Kalau dulu tidak, kami cari anak yang memang harus kita asuh,” sampainya.

Yang menjadi kendala mengajak anak terlantar ke panti, kata Yusliana, adalah persepsi keluarga yang merasa tidak bertanggung jawab. Padahal itu untuk kesejahteraan anak. “Anggapan mereka mungkin anak di panti itu terbuang. Kalau sekolah tidak bisa, makan susah, masukanlah ke panti. Lihat di sini bagaimana kehidupannya.”

Untuk melanjutkan keperguruan tinggi, anak panti yang sudah selesai hingga sekolah menengah atas dibantu untuk tembus jalur bidik misi dari biaya siwa dari sekolah Muhammadiyah Kabupaten Lebong.

Sejak berdiri tahun 1993, Panti Asuhan Al Jihad sudah mampu mengantarkan anak asuhnya menggapai pendidikan tinggi. Tiga orang sudah meraih gelar sarjana. “Tiga orang sudah wisuda, enam orang sekarang masih kuliah,” kata Yusliana yang mempimpin panti sejak 2008.

Belasan Anak Masih Terlantar

Menurut data tahun 2018 Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa dan Sosial tercatat ada 104 anak yang terkategori terlantar di Lebong. Dari jumlah itu, ada 14 orang di antaranya yang belum terasuh. Selain Al Jihad, di Lebong masih ada satu lembaga sejenis, yakni Panti Asuhan Qurruta A’yun di Desa Air Kopras, Kecamatan Pinang Belapis.

Kepala Bidang Sosial Dinas PMDSOS Lebong, Jimmy Tri Susilo mengatakan, kapasitas atau daya tampung panti yang ada sangat terbatas. Jika Al Jihad bisa menampung maksimal 40 anak, Qurruta A’yun mampu menampung 50 anak saja.

Selain bantuan sosial lainnya, Jimmy mengatakan program PKH juga diharapkan bisa mengurangi jumlah anak terlantar dengan memampukan keluarga.


Penulis: Aka Budiman

Editor: Jean Freire