Iklan Kemendes

Siswa Mengaku Dipukul Guru, Kepala Sekolah Merasa Kecolongan

Kepala SMP Negeri 47 Bengkulu Utara, Robin Panjaitan, S.Pd, M.Pd

BENGKULU UTARA, sahabatrakyat.com- Aksi dugaan kekerasan oleh oknum guru kepada siswa terjadi di salah satu sekolah menengah pertama di Kabupaten Bengkulu Utara.

Kepada sejumlah awak media, seorang siswa mengakui dirinya pernah menjadi korban pemukulan oleh seorang oknum guru agama pada bagian kepala.

“Karena ngaji salah hurufnya saya dipukul pakai buku. Mungkin kaget jadi saya menangis,” tutur sang murid. Ia mengaku tidak menceritakan hal ini kepada orang tuanya lantaran takut.

Berdasar hasil penelusuran, oknum guru agama itu disebut-sebut sudah sering melakukan hal tersebut. Bahkan seorang siswa lainnya mengaku enggan masuk sekolah pada hari Senin lantaran ada pelajaran agama. Kini pelajaran agama pindah di hari Kamis.

Sementara orang tua siswa yang enggan ditulis namanya, mengaku menyayangkan sikap oknum guru. Menurut dia, aksi dugaan pemukulan itu membuat psikis anak menjadi terganggu.

Ia berharap persoalan itu mendapat perhatian pihak terkait dengan memberikan teguran kepada oknum guru tersebut. “Pola pengajaran dengan kekerasan, saat ini bukan lagi zamannya,” tukasnya.

Ia menegaskan, selaku orang tua dia mempercayakan anak-anaknya sekolah untuk belajar dan menimba ilmu, bukan untuk dipukuli.

“Kami selaku orang tua tidak dapat menerima cara mendidik oknum guru ini, bukan hanya satu atau dua anak saja yang sudah menjadi korban tapi ada lagi anak murid lain yang pernah dipukul guru tersebut,” ungkapnya.

“Seandainya anak-anak tersebut menceritakan hal ini kepada orang tuanya, saya yakin orang tuanya juga tidak menerima anaknya diperlakukan seperti itu,” tandasnya.

Kepsek Merasa Kecolongan

Kepala SMP Negeri 47 Bengkulu Utara, Robin Panjaitan, S.Pd, M.Pd yang dikonfirmasi sahabatrakyat.com terkait pengakuan seorang murid itu mengaku kecolongan jika apa yang diungkapkan itu benar-benar terjadi.

“Saya terkejut dan merasa kecolongan dengan adanya permasalahan ini,” ungkap Robin Panjaitan yang dikonfirmasi sahabatrakyat.com di ruang kerjanya, Senin (6/8/2018).

Robin mengaku tidak tahu oknum guru agama yang dimaksud. Sebab di sekolah yang dia pimpin ada tiga guru yang mengampu mata pelajaran agama.

“Saya tidak tahu guru agama yang mana karena guru agama di sini ada tiga. Yang satu tidak hadir karena ada kegiatan MGMP yang sudah terjadwal, namun menurut keterangan kedua guru yang kita panggil, keterangan dari NS. Hidayah, S,Pd tidak memukul, hanya ditegur saja karena anak itu susah belajar masalah ngaji. Itu keterangan NS. Hidayah, S.Pd,” jelas Robin.

“Kita akan menyikapi hal ini. Kita akan melakukan pengecekan lebih jauh kebenarannya, kemudian kita akan melakukan pembinaan kepada guru-guru di sini agar tidak mendidik dengan menggunakan kekerasan, seharusnya dalam proses pembelajaran itu harus yang positif, dengan berbagai inovasi.”

“Saya selalu menganjurkan jangan sekali-kali bapak ibu guru mengajar dengan kekerasan, cari strategi dengan metode menghadapi anak yang berbagai macam sifat, hal ini selalu saya ingatkan, harus bisa berinovasi dalam proses pembelajaran ini, jangan sampai ada timbul kekerasan,” tutur Robin.

Lantas benarkah oknum guru yang dimaksud sudah melakukan kekerasan atau belum?

Robin mengatakan, “Kalau saya tanya tadi guru itu belum mengarah kekerasan. Guru itu bukan mukul, hanya gemas dan masih bisa menahan emosi, bukan memukul,”

“Saya akan menelusurinya dan tetap akan melakukan pembinaan terhadap bapak ibu guru disini, karena kita memikirkan anak bangsa jangan sampai ada anak-anak didik kita yang gagal,” katanya.

Sementara saat akan dikonfirmasi, oknum guru yang dimaksud tidak bisa ditemui. “Masih mengajar di dalam kelas,” ungkap seorang staf di sekolah itu.


Pewarta: MS Firman

Editor: Jean Freire

Komentar Anda
iklan kibar

Related posts