Polisi Tangkap Pembunuh Harimau di BU. Ditembak Jelang Malam Tepat di HUT TNI

Polres BU dan BKSDA Bengkulu saat konferensi pers terkait kasus niaga satwa dilindungi/Foto: sahabatrakyat.com/MS Firman

BENGKULU UTARA, sahabatrakyat.com Unit Tipidter Polres Bengkulu Utara (BU) mengungkap kasus perburuan satwa langka dilindungi di wilayah ini. Polisi juga berhasil meringkus tiga orang yang diduga menjadi pelaku dan sudah ditetapkan sebagai tersangka.

Ketiganya adalah AL (65 tahun), warga Desa Dusun Raja, Kecamatan Ketahun; PY (23 tahun), asal Desa Tanjung Muara, Kecamatan Pinang Raya; dan AA (39 tahun), asal Desa Bukit Harapan, Kecamatan Pinang Raya.

“Pelaku ditangkap oleh anggota Unit Tipidter di salah satu kamar hotel atau losmen Bidadari, Kecamatan Ketahun, Kabupaten Bengkulu Utara pada tanggal 7 Oktober 2019 sekira pukul 14.00 Wib,” kata Kapolres AKBP Arifaldi Warganegara SH SIK MM didampingi Kasat Reskrim AKP Jery Antonius Nainggolan SIK dan Kepala BKSDA Bengkulu Ir Donal Hutasoit ME, Kamis (10/10/2019), saat Press Conference di depan ruang Sat Reskrim Polres Bengkulu Utara.

Kapolres menguraikan, proses penangkapan berlangsung setelah petugas mendapat informasi terkait adanya orang yang memperniagakan, menyimpan, atau memiliki kulit, tubuh, atau bagian-bagian satwa yang dilindungi.

“Petugas lantas menyamar menjadi pembeli dan berpura-pura akan membeli kulit harimau dari pelaku,” kata Kapolres.

Ketiga pria itu tidak ditangkap sekaligus. Dua tersangka, yakni AL dan AY diciduk duluan. Dari nyanyian keduanya, polisi lalu menjemput AA.

“Menurut keterangan, barang bukti kulit harimau yang akan dijual itu diperoleh dari AA, yang membunuh harimau tersebut di lokasi HPT. PT. Api, Desa Tanjung Dalam, Kecamatan Ulok Kupai, dengan cara menembak dengan senjata api jenis gujluk, pada Sabtu, 5 Oktober 2019 sekira pukul 18.00 WIB. Menjelang gelap,” beber Kapolres.

Dari para pelaku, polisi menyita barang bukti berupa satu lembar kulit harimau, satu lembar karpet hitam kombinasi biru putih ukuran lebih 1 meter, 1 buah plastik berwarna putih, 1 buah plastik berwarna kuning, 1 unit sepeda motor Honda revo warna hijau.

Polres BU juga telah mengamankan barang bukti 1 pucuk senjata api jenis gujluk dan 1 butir peluru (serpihan peluru) yang ditemukan di kepala harimau. Penyidik, lanjut Kapolres, telah mengirimkan SPDP kasus ini ke Kejaksaan Negeri BU.

Ketiga pelaku dijerat pasal 40 ayat dua (2) Jo pasal 21 ayat dua (2) huruf a dan d UU Nomor 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya. Ancamannya 5 tahun penjara.

Terpisah, Kepala BKSDA Bengkulu Ir. Donal Hutasoit, M.E, mengatakan secara morphologi, dari warna dan pola loreng dapat diidentifikasi bahwa barang bukti berupa kulit harimau (tanpa tulang) adalah jenis harimau Sumatera dengan jenis kelamin betina.

Sementara dari pemeriksaan fisik gigi menunjukkan harimau berusia kurang dari 2 tahun atau sekitar 16-18 bulan. Hasil pemeriksaan Glandula Mammae menunnjukan bahwa harimau diduga belum pernah beranak atau masih pra dewasa.

Melalui pemeriksaan morfometri (pengukuran barang bukti) panjang tubuh dari pangkal telinga-pangkal ekor 146 cm, tinggi 77 cm, panjang tapak kaki depan10 cm, lebar tapak kaki depan 12 cm, panjang tapak kaki belakang 11 cm, lebar tapak kaki belakang 10 cm, panjang bantalan tapak 6 cm, lebar bantalan tapak 8 cm.

drh Erni Suyanti, S.KH, petugas BKSDA Bengkulu, menambahkan, ditemukan 13 luka diduga vulnus schloperatorum, yakni jenis luka akibat terkena peluru atau tembakan senjata pada kulit area platysma (otot yang memanjang dari area dagu hingga tenggorokan) bagian sinister (kiri), diduga sebagian luka tembak masuk dengan lebar luka antara 0,5 cm-1,5 cm atau rata-rata lebar 1 cm.

Di bagian kepala ditemukan serpihan peluru di fascia otot dan dekat lokasi peluru tersebut ditemukan 1 luka/lubang pada tulang frontalis berjarak sekitar 3 cm diatas mata kanan, lubang pada tulang frontalis tersebut diduga merupakan luka tembak keluar, pada bagian leher kanan diduga akibat benda tajam, dengan panjang luka 18 cm.

Pada leher kanan terdapat vena jugularis externa dan interna yang berfungsi mengalirkan darah dari otak, kepala, wajah, leher menuju jantung, diduga ada loka robek/irisan benda tajam dibagian leher kanan tersebut untuk melemahkan satwa harimau, selain dengan luka tembak.

“Selain itu 1 luka robek di bagian dada dengan panjang luka 29,5 cm. Diduga luka tersebut dibuat untuk jalan mengeluarkan otot, organ, tulang dan lain-lain dalam hasil pemeriksaan secara detail tidak ditemukan luka bekas jerat pada ke 4 kaki harimau,” katanya.


Pewarta: MS FIRMAN