previous arrow
next arrow
Slider

Tiga Kandidat Kuat Pilbup Lebong 2020, Sastro: Bikin Alat Takarnya Dulu…

LEBONG, sahabatrakyat.com– Konstalasi politik menjelang Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Lebong Tahun 2020 memang belum begitu terasa dinamikanya. Namun siapa bakal kandidat yang sering dibicarakan di akar rumput sudah bukan hal tabu dalam forum diskusi sambil lalu masyarakat Lebong. Barangkali para elit politik Lebong juga sudah meneropong arah koalisi dus memetakan plus minusnya.

Diskusi terkini yang disimak sahabatrakyat.com akhir-akhir ini, baik di grup diskusi media sosial dan hasil bincang-bincang dengan sejumlah warga yang melek politik, ada tiga nama yang ditimang-timang atau tepatnya dianggap punya kans kuat bakal turun ke gelanggang. Bukan sekedar meramaikan narasi politik, tapi memang sudah mempersiapkan diri jauh hari.

Ketiga nama itu adalah (berdasarkan abjad): Armansyah Mursalin, Kopli Ansori, dan Teguh Raharjo. Mereka diprediksi tak bakal maju sebagai orang kedua atau bakal calon wakil bupati, tapi siap maju ke kursi BD 1 H. Yang bikin penasaran adalah siapa yang bakal menjadi pendamping atau pasangannya sebagai cawabup. Meski hanya orang nomor dua, namun sosok cawabup tak bisa dipandang remeh dalam mencipta sentimen dan arus dukungan.

Berdasarkan informasi teranyar, ketiga nama di atas kini tengah dianalisa peluangnya merebut suara rakyat Lebong. Selain dari data hasil Pemilu 2019, perolehan suara sejumlah nama di Pilbup Lebong sebelumnya juga menjadi bahan kajian politik.

Menurut tokoh muda Lebong Deno Andeska Marlandone, inilah nama-nama yang tengah diwacanakan menjadi bakal pasangan calon bupati dan wakil bupati Lebong. Pertama: Armansyah-Doni Swabuana; Kedua, Kopli-Batara Yudha; dan Ketiga, Teguh-Nasirwan Thoha.

Dengan komposisi itu, menurut Deno, konstalasi politik Pilbup Lebong nanti akan sangat ketat. Sebab setidaknya masing-masing pasangan punya basis massa dan modal pengalaman serta finansial yang lebih dari cukup.

Soal pengalaman, misalnya, Armansyah adalah mantan ketua DPRD Lebong (2004-2009), mantan Calon Wakil Bupati (Pilbup 2010), dan mantan Anggota DPRD Provinsi Bengkulu (2014-2019). Doni Swabuana sendiri kini adalah Plt Kepala Dinas Kominfo dan SP Lebong. Soal politik, Pemilu 2019 juga sudah ada bukti. Sang ayah, Sudirman berhasil duduk di kursi DPRD Lebong (2014-2019) dan DPRD Provinsi Bengkulu (2019-2024).

Nama Kopli juga tak asing bagi publik bumi Swarang Patang Stumang. Menjadi peraih suara terbanyak kedua di Pilbup Lebong 2015, Kopli yang kini menjabat Ketua DPC PAN Lebong juga menjadi aktor di balik layar atas capaian PAN di Pemilu 2019 dengan menjadi partai peraih suara terbanyak.

Jika Kopli memilih Yudha sebagai pendamping tentu akan menguatkan kans-nya. Selain menjadi peraih suara terbanyak di Pileg 2014, Yudha sendiri tentu akan mendapat suport keluarga dan sang ayah, Rosjonsyah, yang menjabat bupati Lebong saat ini. Kita tahu, Rosjonsyah sudah dua kali memenangi Pilbup Lebong (2010-2015 dan 2015-2020).

Beririsan dengan capaian Rosjonsyah, nama Teguh tentu tidak bisa dipisahkan. Kemenangan Rosjonsyah dua kali berturut-turut tak lepas dari faktor Teguh di dalamnya. Artinya, Teguh juga punya modal menang dua kali dalam kontestasi Pilbup itu. Bahkan capaian suara Pemilu 2019, baik secara individu maupun partai, juga menunjukkan tren peningkatan. Teguh menjadi peraih suara terbanyak dan Partai NasDem yang dinahkodainya sukses menambah kursi dari tiga menjadi empat di DPRD Lebong.

Menggandeng Nasirwan Thoha juga layak dipertimbangkan Teguh. Nasirwan punya pengalaman menjabat wakil bupati Lebong dan Anggota DPR RI. Pernah memimpin DPW PPP Bengkulu. Nasirwan yang menjadi calon bupati di Pilbup 2010 juga punya kantong-kantong suara yang bisa mendongkrak akumulasi dukungan bagi keduanya.

Yang jelas, peta politik Lebong agaknya tak mudah lepas dari poros Utara-Selatan atau Selatan-Utara. Artinya, jika salah satu kandidat basisnya di wilayah Utara (mencakup Dapil 1: Amen, Uram Jaya, Lebong Utara, Lebong Atas, Pelabai dan Pinang Belapis), maka pasangannya sedapat mungkin merepresentasikan Selatan (Dapil 2 dan 3: Lebong Tengah, Lebong Sakti, Bingin Kuning, Lebong Selatan, Rimbo Pengadang, Topos).

Ilustrasi/Foto: Suara Merdeka

Barangkali yang agak sulit diungkap di sini adalah bagaimana strategi masing-masing bakal calon memecah basis pendukung masing-masing lawan. Salah satu faktor yang ikut mempengaruhi pilihan siapa teman berjuang. Termasuk di dalamnya adalah bagaimana mendorong pasangan baru sebagai pemecah suara lawan. Atau adalah potensi terjadi head to head alias hanya dua pasangan calon? Lagi-lagi politik itu dinamis, bisa saja terjadi, bukan?

Bagaimana dengan nama-nama berikut: Dalhadi Umar, Zamzami, Wawan Fernandez, Wilyan Bachtiar?

Nama Dalhadi Umar juga ada disebut masyarakat. Namun ia belum menguat disebut sebagai kandidat kuat. Tapi ini prediksi sambil lalu saja. Perlu diuji secara otentik lewat survei, misalnya. Kegagalan mantan Bupati Lebong ini kembali ke kursi DPRD Provinsi Bengkulu pada Pemilu 2019 agaknya ikut membuat namanya redup. Tapi politik itu dinamis, bukan? Bisa saja ia kembali sekalipun lewat jalur non-partai.

Muncul juga nama Zamzami. Dia adalah penjabat Sekda Kabupaten Kepahiang saat ini. Namun agaknya belum banyak yang tahu jika ia adalah putra Lebong.

Wawan Fernandez? Wakil Bupati Lebong ini tentu punya modal pengalaman mengawal roda pemerintahan lima tahun terakhir. Namun lewat mana Wawan akan melanggang masih samar bagi publik. Setelah keluar dari NasDem dan gagal rebut Golkar Lebong, belum terbaca oleh publik partai apa yang akan dia tumpangi. Kegagalan Restuty Aprilla, sang kakak ipar, melanggeng ke Senayan lewat PDIP sedikit banyak memengaruhi psikologi Wawan dalam membaca peta dukungan.

“Kalau Wilyan, saya kira terlalu berspekulasi kalau maju lagi,” cetus Deno. Wilyan yang dimaksud Deno adalah Wilyan Bachtiar yang memecah basis suara saat Pilbup 2015 lalu. Maju lewat jalur independen sebagai calon bupati, Wilyan mampu mengunci lebih 5000 suara yang membuat hasil akhir Pilbup tak punya tertumpu pada calon asal partai semata.

Bikin Alat Takar Dulu

Nurkholis Sastro, pegiat sosial dan lingkungan, memberi perspektif berbeda dalam urusan Pilbup Lebong 2020. Sebagai putra Lebong, Sastro–begitu dia populer disapa, melihat bukan siapa dengan siapa yang paling penting atau jadi prioritas didiskusikan saat ini.

Menurut dia, yang tak kalah penting adalah alat ukur atau takaran dulu. Antara lain sejauh mana nama-nama yang digadang-gadang itu atau siapa pun orangnya nanti, menguasai atau memahani dengan baik persoalan atau isu-isu penting di masyarakat Lebong. Sang kandidat, kata Sastro, harus punya gagasan bagaimana Lebong 20 tahun ke depan. “Jadi tidak berdasarkan keinginan semata,” cetus dia.

Pertanyaannya, di tengah arus besar politik pragmatis kini, bagaimana perang gagasan bisa menjadi amunisi utama para kandidat dalam merebut simpati rakyat? Sebab dalam skala nasional Pilpres 2019 sekalipun, kita minor melihat kontestasi politik demikian?

Selamat berdiskusi…


Penulis: Jean Freire

 

Komentar Anda
iklan kibar

Related posts