previous arrow
next arrow
Slider

Jejak Hatta di Batavia II dan Cerita Wagiyo, Saksi Mata Momentum Bersejarah

Ilustrasi Jejak Hatta/wikipedia

LEBONG, sahabatrakyat.com– Cerita yang melatari penamaan Lapangan Hatta di Desa Kampung Muara Aman, Kecamatan Lebong Utara, Kabupaten Lebong, Bengkulu memang bukan berita baru. Iya, lapangan itu dinamai demikian karena yang meresmikannya adalah Wakil Presiden RI yang pertama, Drs. Moh. Hatta.

Namun catatan sejarah atau referensi resmi tentang momentum itu sulit sekali didapat–kalau tidak bisa dikatakan belum pernah dituliskan sama sekali secara mendalam. Kenapa demikian? Entahlah, belum ada kajian mendalam juga soal alasannya.

Setidaknya kita bisa menduga-duga saja. Mungkin peresmian itu hal yang biasa saja dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan; atau mungkin keberadaan lapangan itu tidak strategis dalam urusan pembangunan; atau kunjungan Hatta itu tidak penting dicatat dalam sejarah negeri.

Baiklah. Untuk reka-reka yang terakhir, sahabatrakyat.com melihatnya dalam perspektif yang berbeda. Sebagai salah satu tokoh pendiri bangsa, jejak kaki Hatta kemana pun ia pernah singgah di berbagai pelosok negeri ini adalah momentum sangat bersejarah. Apalagi ada agenda kerja dalam kapasitasnya sebagai wakil kepala negara.

Tentu bukan tanpa alasan jika Hatta mau saja datang ke Muara Aman. Di masa kejayaan tambang emas, daerah ini adalah salah satu wilayah yang sangat maju dibanding daerah lainnya. Saking majunya kota kecil ini pernah disejajarkan dengan Jakarta (Batavia I) dengan sebutan sebagai Batavia II.

Maka itu boleh jadi Hatta tak bisa memandang sebelah mata sekalipun mungkin ia hadir dengan agenda utama meresmikan sebuah lapangan yang kemudian dinamai dengan namanya sendiri: Lapangan Hatta.

Pertanyaannya: kapan persisnya Hatta ke Lebong?

Pertanyaan itu belum bisa dijawab dengan pasti. Namun baru bisa diperkirakan di sekitar tahun 1956. Hatta tiba di Lebong sebelum pukul 12.00 WIB.

Apa dasarnya?

Begini: Ketika mengulas cerita tentang kebenaran cerita Hatta pernah ke Lebong, kami sampai kepada ketidak-puasan karena itu baru cerita yang memang diyakini kebenarannya. Namun kurangnya referensi resmi membuat kita boleh saja berprasangka cerita itu rekaan belaka.

Sampai ketika salah seorang tim sahabatrakyat.com mengungkap bahwa ia tahu masih ada orang yang ingat seluk-beluk soal tanah yang jadi lapangan itu.

Tak mau menunggu lama, kami segera saja mendatangi sumber informasi yang dia maksud. Pada Jumat (12/4/2019) malam sekitar pukul 22.00 WIB, kami pun tiba di rumah orang yang kami harap bisa bercerita banyak.

Orang yang kami buru belum tidur meski malam sudah larut. Pria sepuh itu tengah duduk di kursi plastik. Rupanya ia masih menikmati siaran televisi. Lantaran daya pandang yang tak lagi tajam, jarak duduknya kurang dari setengah meter dari layar tv.

Wagiyo (89 tahun)/foto: aka budiman

Namanya Wagiyo, umur 89 tahun. Warga Desa Sukabumi, Kecamatan Lebong Tengah itu adalah saksi sejarah. Wagiyo ikut dalam keramaian massa ketika Hatta menjejak kaki di Muara Aman. Dia bukan tokoh pemuda di masa itu; bukan orang pemerintahan sebagai panitia penyambutan; atau orang penting lainnya.

“Waktu itu saya cuma bekerja sebagai buruh lepas. Ya kerja apa saja untuk menghidupi keluarga,” cerita Wagiyo. “Waktu itu saya lihat orang ramai, terus tanya ada apa. Kata orang-orang ada Wakil Presiden,” imbuhnya.

Bersama warga lainnya Wagiyo juga ikut berjalan kaki menuju lapangan. Menurutnya, tiba di Muara Aman dengan mobil, Hatta turun di Tugu (depan Puskesmas Muara Aman kini) lalu berjalan kaki ke lapangan yang akan dia resmikan.

“Karena saya tidak tahu yang mana, waktu di lapangan itu saya tanya kawan saya yang mana orangnya,” kenang Wagiyo. “Eh, rupanya Hatta sudah lewat persis di depan saya,” ujar Wagiyo. “Waktu itu lapangan penuh orang,” imbuhnya.

Wagiyo ingat kala itu Hatta hadir dengan setelah kemeja atau jas berwarna putih–seperti yang kerap kita lihat di foto-foto Hatta dalam buku sejarah. Tak lupa lengkap dengan kaca mata.

“Ya dia pakai kacamata waktu itu. Tapi nggak pakai peci. Orangnya pendek. Dia pidato. Posisinya menghadap ke arah lokasi asrama polisi. Tapi saya nggak bisa dengar apa isi pidatonya. Nggak pakai mix,” kata Wagiyo.

Wagiyo yang lahir tahun 1930 itu memang sudah tampak sulit mengingat secara persis kapan peristiwa bersejarah itu. Ia mengaku sudah tak lagi lajang ketika Hatta datang. Wagiyo mengaku menikah sekitar tahun 1956 dan sudah punya momongan ketika itu.

“Waktu itu masih Kawedanan Muara Aman. Kalau gak salah jaman Demang Mustafa,” sebut Wagiyo yang menamatkan sekolah dasar di SD Negeri 01 Lokasari.

Kondisi Lapangan Hatta di Desa Kampung Muara Aman, Lebong Utara, Lebong, saat ini/foto: aka budiman

Boleh jadi Wagiyo memang lupa kapan ia menikah dan kapan Hatta datang ke Lebong. Sebab jika ia menikah di tahun 1956, maka setidaknya ia sudah menimang momongan tahun 1957. Jadi Hatta datang sekitar tahun 1957.

Tapi sejarah mencatat, Hatta mengundurkan diri sebagai Wakil Presiden pada 1 Desember 1956 setelah berselisih dengan Ir. Sukarno. Maka, ada kemungkinan Hatta di Muara Aman itu masih di kalender tahun 1956.

Wagiyo adalah anak salah seorang polisi yang waktu itu bertugas di Muara Aman. Sang ayah adalah penanggung jawab urusan persenjataan. Namanya Kaprawi. Kata Wagiyo, sebelum tugas di Bengkulu sang ayah mengecap sekolah kepolisian di Sukabumi, Jawa Barat.

Di Bengkulu, Wagiyo sempat mengecap bangku pendidikan dasar atau sekolah rakyat (SR). Namun belum lagi mengecap naik kelas, tugas negara membawa mereka ke Muara Aman. “Ayah saya pindah tugas ke Muara Aman tanggal 28 Agustus tahun 1937,” terang anak ke-11 dari 12 bersaudara itu.


Pewarta: Aka Budiman, Sumitra Naibaho
Editor: Jean Freire

Komentar Anda
iklan kibar

Related posts