Menilik Bencana Bengkulu, Benarkah Dampak dari Kerusakan DAS Musi?

Inggun (42) Warga Desa Cugung Lalang kecamatan Ujan Mas, Kepahiang, menunjukan lahan pertaniannya yang rusak di terjang banjir
Banjir yang menerjang Desa Air Hitam di Kabupaten Kepahiang meluluh-lantakkan lahan pertanian warga/foto: Atoy

Sudah lebih tiga pekan berlalu pasca-bencana banjir dan tanah longsor melanda sembilan kabupaten dan kota di Provinsi Bengkulu pada Jumat (26/4/2019). Warga yang terdampak mulai berangsur meninggalkan tenda pengungsian dan membersihkan rumah mereka. Namun masa pemulihan bagi korban yang terdampak belum lah usai. Sejuta asa mereka sampaikan untuk pemerintah: selain bantuan untuk memulihkan kembali ekonomi, juga berharap bencana serupa tidak terulang.

Kesembilan kabupaten/kota di provinsi Bengkulu yang terdampak bencana banjir dan longsor yaitu Kota Bengkulu, Kabupaten Bengkulu Tengah, Bengkulu Utara, Rejang Lebong, Lebong, Kepahiang, Seluma, Bengkulu Selatan, dan Kaur.

BPBD Provinsi Bengkulu memperkirakan kerugian akibat bencana serentak yang terjadi di sembilan kabupaten dan kota tersebut mencapai Rp144 Miliar.

Wilayah di kawasan pegunungan pun tidak luput dari bencana banjir dan longsor pada 26 April 2019 lalu. Luapan sungai Musi ikut menerjang beberapa desa di Kabupaten Rejang Lebong dan Kepahiang. Pemukiman, lahan pertanian, ternak, dan warga menjadi korban hebatnya luapan sungai Musi.

**

Hari itu Sa’ban, seorang pria paruh baya, asal Desa Lubuk Kembang Kecamatan Curup Utara, tampak gelisah melihat kolam ikan yang tidak terlihat lagi ikan-ikan peliharaannya karena habis diterjang banjir pada Jumat (26/4/19) lalu.

Meski meluapnya aliran Sungai Musi tak memporakporandakan rumahnya yang berada tak jauh dari sungai Musi, namun nasib kolam ikan serta lahan pertaniannya cukup membuat keningnya berkerut. Dia memperkirakan kerugian yang dialaminya mencapai Rp5 juta.

“Banjir kali ini memang banjir yang terbesar dan terparah selama hampir 70 tahun lebih saya tinggal disini,” ungkapnya kepada penulis Senin (6/5/2019).

Serupa yang dialami Inggun (42), warga Desa Cugung Lalang Kecamatan Ujan Mas, Kabupaten Kepahiang. Alih-alih ingin menikmati hasil panen dari tanaman sayur-sayuran yang digarap di Desa Air Hitam, yang ada kini tinggal hamparan yang bercampur lumpur.

Inggun (42) Warga Desa Cugung Lalang kecamatan Ujan Mas, Kepahiang, menunjukan lahan pertaniannya yang rusak di terjang banjir/Foto: Atoy

Di lahan seluas sekitar dua hektar, dia tanami Jagung, Terong, Cabe Hijau dan Buncis dan dia memperkirakan akan panen sebelum lebaran tiba. Harapan untuk mendapatkan uang guna membeli persediaan lebaran nanti sirna, lahan pertaniannya hancur luluh lantak ketika aliran Sungai Musi meluap dan menerjang dua desa yaitu Desa Air Hitam dan Tanjung Alam.

“Kalau rugi jelas rugi, tak terbayang karena semua tanaman tinggal dipanen, kini hanya ada lumpur dan semua tanaman mengering karena rusak,” ujarnya.

Meski Pemerintah Kabupaten Rejang Lebong dan Kepahiang sudah melakukan upaya tanggap darurat dan pemulihan pasca bencana dengan terus melakukan pendistribusian logistik untuk warga yang terdampak. Hanya saja menurut Inggun, bantuan untuk sektor pertanian sama sekali belum menyentuh.

“Saya berharap ada bantuan untuk sektor pertanian, gimana kami mau mulai bangkit dari kejadian bencana, untuk modal awal lagi kami tidak punya,” imbuhnya.

Dia menambahkan, selain bantuan sektor pertanian dia juga mengharapkan kepada pihak PLTA Musi agar mengkaji ulang dampak lingkungan, karena menurut dia, aliran sungai Musi tidak pernah seganas ini sebelum beroperasinya PLTA Musi.

“Harus dikaji ulang soal lingkungan oleh pihak PLTA Musi, dahulu sungai Musi tidak pernah meluap sebesar ini, tetapi setelah beroperasinya PLTA Musi, beberapa kali sering terjadi banjir ketika hujan tiba, kali ini yang terparah,” katanya.

Berdasarkan data Pusdalop BPBD Provinsi Bengkulu yang dirilis pada Kamis (2/5/19), kerusakan areal pemukiman di Kabupaten Rejang Lebong sebanyak 22 rumah rusak ringan, 9 rumah rusak sedang, 1 rumah rusak berat, sektor pertanian 57,25 hektar sawah dan perkebunan warga terdampak di Kabupaten Rejang Lebong.

Sedangkan untuk di Kabupaten Kepahiang terdapat dua desa mengalami kerusakan paling parah yaitu Desa Tanjung Alam dan Desa Air Hitam terdata sebanyak 37 rumah rusak ringan dan 388 mengalami rusak berat dan sebanyak 125 hektar lahan pertanian dan dua bidang lahan perkebunan terdampak. Dilaporkan dua orang meninggal dunia akibat banjir di Kabupaten Kepahiang.

Kerusakan Kawasan Hulu DAS Musi
Pihak Balai Taman Nasional Kerinci Seblat (BTNKS) Wilayah III Bengkulu-Sumsel tidak memungkiri banjir yang terjadi Jumat (26/4/2019) yang lalu karena ada andil dari rusaknya DAS Musi yang berada di kawasan TNKS di Kabupaten Rejang Lebong.

“Memang ada kerusakan di kawasan DAS Musi, terutama perambahan yang di buka menjadi kebun kopi, perambahannya pun berada di aliran Sungai Musi karena mereka manfaatkan juga sebagai sumber air,” kata Muhammad Zainuddi, Plt Kepala Bidang BTNKS Wilayah III Bengkulu-Sumsel, di Rejang Lebong, Kamis (9/5/19).

Peta zonasi TNKS di Rejang Lebong, Hulu DAS Musi berada di kawasan yang berwarna Biru yang merupakan kawasan Rehabilitasi TNKS/Foto: Atoy

Papar Zainuddin, di kawasan hulu di TNKS terdapat dua sungai yang menyatu ke DAS Musi, yaitu Sungai Air Lalang dan Sungai Air Apo. Kedua sungai tersebut kemudian menyatu dengan DAS Musi yang melintas di Rejang Lebong hingga Kepahiang serta ke Kabupaten Empat Lawang dan Pagar Alam Provinsi Sumatera Selatan.

“Sungai-sungai itu berada di kawasan rehabilitasi kawasan yang saat ini kondisinya bukan hutan primer lagi, sudah menjadi hutan sekunder, pohon-pohon besarnya pun banyak hilang,” paparnya.

Dia menambahkan, jika melihat di dalam peta zonasi kawasan TNKS, kawasan hulu Musi bukan saja dilintasi kawasan Taman Nasional, melainkan terdapat juga kawasan Hutan Lindung dan Hutan APL (Area Penggunaan Lain).

Selain kerusakan kawasan hutan, pola pertanian baik warga yang berada di kawasan DAS Musi maupun perambah di dalam kawasan TNKS juga menjadi pemicu laju erosi, karena pola pertanian kopi warga cenderung berada di kemiringan dan tidak ditutupi dengan pohon-pohon besar.

“Seharusnya dalam tata kelola pertanian yang benar, contohnya tanaman kopi butuh perlindungan, apalagi kebanyakan pembukaan lahan baru di kawasan itu berada di area kemiringan, semua dibabat habis dan diganti kopi, sehingga ketika hujan tidak ada lagi yang menahan laju air,” tuturnya.

Meski upaya menekan laju deforestrasi di kawasan hulu DAS Musi tengah diupayakan dengan mencanangkan program mitra konservasi agar masyarakat atau perambah yang sudah puluhan tahun berada di Taman Nasional turut serta menjaga serta membantu memulihkan kawasan Taman Nasional, namun, kata Zainuddin, perlu adanya sinergisitas antara pemerintah daerah dan pihak swasta.

“Pemerintah daerah harus juga ikut serta, bukan hanya kami pihak TNKS saja, karena jika bencana sudah terjadi berapa banyak anggaran yang akan dikeluarkan pemerintah daerah,” ujarnya.

Selain itu, pihak swasta yang memanfaatkan Jasling (Jasa Lingkungan) dalam hal ini PLTA Musi yang memanfaatkan air dari Sungai Musi harus turut juga menjaga kawasan hulu sungai Musi.

“Jadi yang diselamatkan bukan hanya kawasan hilir, ataupun kawasan areal bendungan PLTA Musi, namun dalam jangka panjang kawasan hulu harus juga dipikirkan,” tambahnya.

Berdasarkan data Balai TNKS Pengelolaan Wilayah III Bengkulu-Sumsel, luas kawasan Taman Nasional di Kabupaten Rejang Lebong mencapai 26.000 hektar, pihak TNKS juga mencatat data 2015 seluas 5.000 hektar kawasan taman nasional dirambah. Sedangkan kawasan yang baru direhabilitasi mencapai 3.500 hektar.

Data terbaru, pada tahun 2017 tercatat seluas enam hektar dan di tahun 2018 seluas dua hektar rambahan baru berada di sekitar areal DAS Musi yang berada di kawasan taman nasional di kabupaten Rejang Lebong.

Abrasi lahan pertanian warga yang bersentuhan dengan DAS Musi di Desa Lubuk Kembang, Curup Utara Kabupaten Rejang Lebong/Foto: Atoy

Pulihkan Kawasan DAS Musi
Koordinator Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) WARSI Bengkulu, Nurkholis Sastro mengatakan banjir yang terjadi dan menerjang beberapa desa di Kabupaten Rejang Lebong dan Kepahiang Jumat (26/4) lalu, menandakan adanya kerusakan parah di DAS Musi.

“Ada kerusakan serius di sepanjang DAS dan pola pengelolaan tata ruang,sehingga berdampak kepada kawasan yang dilintasi,” ujarnya.

Sastro menuturkan, ada juga pola pertanian warga di sekitar DAS Musi yang tidak memperhatikan aspek lingkungan yang baik, salah satunya tidak memberikan ruang untuk pohon-pohon besar tumbuh di DAS. Menurut dia, terbukanya lahan pertanian membuat laju erosi sangat cepat ketika hujan tiba.

Selain itu, kata dia, perlu adanya kajian kembali terhadap dampak banjir di sekitaran kawasan pemanfaatan jasa lingkungan, baik berupa kawasan pemukiman di sepanjang DAS maupun jenis tanaman bagi pertanian warga yang berada di lintasan DAS Musi.

“Perlu ada keterlibatan pemerintah daerah, pihak swasta yang memanfaatkan DAS Musi dan juga masyarakat, bagaimana membuat aturan soal pemukiman di DAS dan juga pola tanaman pertanian yang dipebolehkan di sepanjang DAS Musi,” terangnya.

Tambah Sastro, keterlibatan pemerintah daerah dan pihak swasta yang memanfaatkan Jasling DAS Musi juga diperlukan untuk memperbaiki kawasan hulu dari DAS Musi yang berada di Hutan Taman Nasional Kerinci Seblat.

“Ada dana CSR yang bisa dimanfaatkan untuk turut serta menyelamatkan kawasan hulu, termasuk melakukan rencana bersama antara pemda kedua kabupaten, pihak PLTA Musi, TNKS dan Balai DAS termasuk masyarakat untuk melakukan upaya-upaya pemulihan kawasan hulu. Jika ingin bencana yang sama tidak terulang kembali,” tandasnya.


Penulis: Muhamad Antoni