(OPINI) Banyak Sekolah Berdampingan Dengan Zona Gempabumi

Dari data sejarah kegempaan membuktikan bahwa posisi kita sangat dekat dengan zona gempa bumi darat yang kita sebut dengan patahan atau sesar. Patahan lokal yang ada di Propinsi Bengkulu setidaknya ada tiga segmen sebagai “pembangkit” gempa bumi darat.

Tiga sesar lokal ini adalah sesar lokal Segmen Musi di Kabupaten Kepahiang, Segmen Manna di Kabupaten Bengkulu Selatan, dan Segmen Ketahun di Kabupaten Bengkulu Utara. Tiga sesar lokal ini merupakan sesar aktif yang dapat dibuktikan dengan data rekaman gempa yang ada di Stasiun Geofisika Kepahiang maupun sejarah gempa bumi merusak yang pernah terjadi pada lokasi patahan ini.

Patahan Segmen Musi di Kabupaten Kepahiang misalnya, pernah mencatat sejarah memilukan pada tanggal 15 Desember 1979 dengan terjadinya gempa bumi merusak. Akibat gempa bumi berkekuatan M 6,0 ini, tidak kurang dari 3.600 bangunan rusak berat dan ringan serta korban jiwa sebanyak 4 orang.

Gempa bumi yang terletak di daerah Desa Daspetah ini kurang lebih berjarak 8 km dari pusat kota Kepahiang. Gempa bumi merusak lainnya yang pernah terjadi di wilayah Kabupaten Kepahiang adalah gempabumi pada tanggal 15 Mei 1997 dengan kekuatan M 5,0 yang mengakibatkan setidaknya 65 bangunan rusak berat dan ringan.

Sejarah gempa merusak di atas kiranya sudah cukup mengingatkan kembali bahwa keberadaan kita sangat dekat dengan zona gempa bumi darat. Zona gempa bumi darat atau patahan lokal yang ada di Bengkulu keberadaanya sangat dekat pemukiman warga serta berdampingan dengan beberapa lokasi sekolah.

Perlu adanya inventarisasi sekolah-sekolah yang sangat dekat keberadaanya dengan patahan lokal ini. Hal ini mengingat tingginya aktivitas kegiatan sehari-hari di lingkungan sekolah. Pendataan kali ini dikhususkan pada sekolah-sekolah yang ada di sekitar Sesar Musi dan terletak di Kabupaten Kepahiang mengingat keterbatasan data serta keaktifan Sesar Musi yang sangat tinggi dibanding patahan lainnya.

Sekolah Berdampingan Dengan Sesar

Sesar Musi yang memanjang mulai dari Kabupaten Rejang Lebong, Kabupaten Kepahiang, hingga ke wilayah Ulu Musi- Kabupaten Empat Lawang memiliki panjang kurang lebih 85 km. Khusus di wilayah Kepahiang, beberapa sekolah yang berdampingan dengan zona sesar Segmen Musi ini antara lain:

Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 04 Desa Daspeta, Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 02 Daspeta Ujan Mas, Sekolah Dasar Negeri (SDN) 08 Desa Bogor Baru, MTs Negeri 02 Kepahiang, Madrasah Aliya Negeri (MAN) 02 Kepahiang, Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 01 Kepahiang, dan SD IT Cahaya Robbani Kepahiang.

Beberapa sekolah di atas adalah sekolah yang sangat dekat lokasinya terhadap patahan Segmen Musi. Terdapat beberapa sekolah lain yang lokasinya masih relatif aman namun tetap memiliki risiko yang cukup tinggi jika terjadi gempabumi terutama dampak guncangan gempa.

Upaya Pengurangan Risiko

Harus disadari bahwa kita sudah terlanjur “menumpang” hidup di kawasan seismik aktif. Namun, sesungguhnya gempa bumi bukanlah ancaman bagi masyarakat sekitarnya. Melainkan dampak sekunder dari gempa bumi itulah yang bisa menyebabkan kerugian, kerusakan, bahkan korban jiwa. Dampak sekunder gempa bumi tersebut antara lain tanah longsor, tertimpah reruntuhan bangunan, kebakaran, ledakan gas, dll.

Sebelum gempa bumi terjadi, melakukan upaya sosialisasi secara masif kepada pihak sekolah yang berdampingan dengan zona gempa bumi adalah salah satu upaya pengurangan risiko bencana gempa bumi. Bukan tidak mungkin beberapa sekolah yang berdampingan dengan zona gempa bumi tersebut belum mengetahui bahwa posisi mereka sangat dekat dengan zona gempabumi. Upaya sosialisasi ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan pada akhirnya meningkatkan kesiapsiagaan semua penghuni sekolah.

Upaya selanjutnya adalah edukasi kepada pihak sekolah untuk membuat jalur evakuasi dan titik berkumpul. Hal ini penting dilakukan supaya jika suatu saat gempabumi terjadi pihak sekolah akan memtuhi jalur evakuasi dan titik berkumpul yang telah dibuat. Tidak adanya petunjuk jalur evakuasi serta titik berkumpul akan membuat penghuni sekolah kebingungan saat gempabumi terjadi. Kebingungan dan kepanikan malah akan memperpara situasi dan berpotensi memperbesar korban jiwa.

Setelah membuat dan menetapkan jalur evakuasi dan titik berkumpul, upaya selanjutnya adalah melakukan simulasi secara berkala. Pada kegiatan simulasi, penghuni sekolah diajarkan apa dan bagaimana cara melakukan penyelamatan diri saat terjadi gempabumi.

Berlindung di bawah meja, menghindari kaca, serta melindungi kepala adalah beberapa cara yang sudah standar dilakukan dalam kegiatan simulasi penyelamatan diri saat gempabumi terjadi. Simulasi ini bertujuan untuk melatih kesiapsiagaan semua penghuni sekolah jika suatu saat gempabumi benar-benar terjadi.


Penulis: Sabar Ardiansyah, SST (PMG Ahli Muda Stasiun Geofisika Kepahiang-Bengkulu) kontak e-mail : sabar.ardiansyah@gmail.com