(Resensi Buku) Kekuatan Sukuisme Dalam Pilkada

KEKUATAN SUKUISME DALAM PILKADA

Judul : Politik Kesukuan Dalam Pilkada
Penulis : Andriadi Achmad
Penerbit : Pustaka Al-Bustan
Cetakan : Pertama, Februari 2019
Tebal : xxii + 248 Halaman
Harga : Rp. 100.000

Keterlibatan warga dalam Pilkada sudah barang tentu memberikan kebermanfaatan signifikan bagi daerah. Sebuah harapan kesejahteraan yang diidamkan oleh warga di suatu daerah dapat terwujud apabila mereka memilih calon kepala daerah yang memang memprogramkan kesejahteraan daerah.

Pilkada juga menyediakan ruang cukup luas dan waktu relatif panjang bagi masyarakat untuk memilih calon-calon kepala daerah melalui
kedekatan geografi dan histori dengan sang kandidat. Pilkada langsung adalah sarana untuk memilih dan mengganti pemerintahan secara konstitusional, legal, damai dan teratur.

Melalui Pilkada langsung, rakyat secara langsung akan memilih pemimpinnya di daerah sekaligus memberikan legitimasi atau mandat kepada siapa yang berhak dan mampu untuk memerintah. Pilkada langsung, secara hakiki dalam rangka mewujudkan tegaknya kedaulatan rakyat di daerah.

Sejak tahun 2005 mulai diselenggarakan pemilihan kepala daerah (pilkada) secara langsung sebagai salah satu instrumen untuk terpenuhinya desentralisasi politik yang memungkinkan terjadinya transfer kekuasaan dari pusat ke daerah yaitu implikasi turunan dari kebijakan penerapan desentralisasi atau otonomi daerah, dimana secara yuridis pilkada langsung sebagaimana tertuang dalam Undang Undang (UU) Nomor 32 pasal 56 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah bahwa kepala daerah dan wakil kepala daerah dipilih secara langsung oleh rakyat di daerah bersangkutan.

Buku setebal 245 halaman ini memfokuskan hasil penelitian Andriadi Achmad di pasca sarjana Ilmu Politik Universitas Indonesia dengan mengambil salah satu daerah sebagai sampel yaitu Pilkada di Provinsi Bengkulu tahun 2005.

Sebagaimana kita ketahui bahwa secara populasi ada 3 suku besar, yaitu 2 suku asli (Suku Rejang dan Suku Serawai) dan suku pendatang (Suku Jawa) di Provinsi Bengkulu. Dalam konstelasi politik di Provinsi Bengkulu ketiga suku tersebut sangat menentukan.

Sejak Pilkada 2005, pemenang Pilkada yaitu dari suku Serawai pada Periode 2005-2010 dan 2010 – 2011 (Agusrin M. Najamuddin), 2017-2021 (Rohidin Mersyah) dan Suku Rejang yaitu 2011–2015 (Junaidi Hamsyah) serta 2016– 2017 (Ridwan Mukti).

Oleh karena itu, secara umum peranan putra asli daerah (PAD) dan faktor kesukuan sebagai wujud primordialisme dapat dikatakan sebagai salah satu penentu kemenangan dalam pilkada Langsung di provinsi Bengkulu.

Secara mendalam buku Politik Kesukuan Dalam Pilkada ini menjelaskan bahwa keputusan politik untuk menyelenggarakan Pilkada langsung adalah langkah strategis dalam rangka memperluas, memperdalam, dan meningkatkan kualitas demokrasi khusunya di
daerah.

Oleh karena itu, pelaksanaan Pilkada langsung sejalan dengan semangat otonomi daerah yaitu pengakuan terhadap aspirasi dan inisiatif masyarakat lokal (daerah) untuk menentukan nasibnya sendiri.

Lebih jauh dalam buku ini juga dijelaskan bahwa politik kesukuan dalam Pilkada langsung khususnya di Provinsi Bengkulu adalah wujud primordialisme yang secara teoritis dapat dijelaskan melalui pendekatan sosiologis (Sociological Approach) dipelopori oleh Seymor
M. Lipset, Paul F. Lazarsfeld, Berelson Bernard, Harel Gaudet, yang kemudian kita kenal dengan istilah Columbia’s Schools (The Columbia School of Electoral).

Menurut Mazhab Columbia, pendekatan sosiologis pada dasarnya menjelaskan bahwa karakteristik sosial dan pengelompokan sosial (usia, wilayah, jenis kelamin, agama, pekerjaan, latar belakang keluarga, dan kegiatan-kegiatan dalam kelompok formal dan informal dan lainnya) berpengaruh cukup signifikan terhadap pembentukan perilaku pemilih (voting behavior) dalam menentukan sikap, persepsi dan orientasi seseorang.

Nah, bagi penggiat politik, aktivis demokrasi, atau siapa saja yang ingin melihat bagaimana politik kesukuan bekerja dan masih signifikan dalam menentukan pemenang kontestasi Pilkada, buku ini salah satu referensinya. Selamat membaca.


 

Oleh: Jaya Eriyanto, Pemimpin Redaksi sahabatrakyat.com Bengkulu