previous arrow
next arrow
Slider

Batu Bibin dan Air Terjun Kemaceak, Potensi Wisata Alam di Desa Lemeu

Air terjun Kemaceak di Desa Lemeu, Kec. Uram Jaya-Lebong/ist

LEBONG, sahabatrakyat.com – Selain objek wisata air hangat kolam pemandian, di Desa Lemeu, Kecamatan Uram Jaya, Lebong, ternyata juga memiliki potensi wisata alam lainnya yang tak kalah menarik: Batu Bibin dan Air Terjun Kemaceak.

Batu Bibin adalah sebuah batu gunung dengan ukuran yang relatif besar yang berada di pinggir sungai Bioa Kemaceak dan sekitar kebun warga. Bentuknya yang hampir bundar diperkirakan bisa berdiameter sekitar 50 meter dan ketinggian lebih 10 meter. Pada bagian puncak batu yang relatif datar diperkirakan mencapai panjang 20 meter dan lebar 20 meter.

Kepala Desa Lemeu Abdul Sumardi menuturkan, dari cerita orang-orang tua, Batu Bibin merupakan tempat pertemuan yang pernah digunakan para leluhur orang Rejang, yakni antara yang bermukim di Kabupaten Lebong dengan yang tinggal di kawasan pesisir (Bengkulu Utara) dalam memutuskan tapal batas wilayah.

Batu Bibin, lokasi yang diceritakan sebagai tempat pertemuan tetua Lebong dalam menetapkan batas wilayah Rejang di Lebong dengan Rejang di wilayah pesisir (Bengkulu Utara)/ist

Dalam pertemuan itu disepakati masing-masing pihak akan berjalan dari wilayah kekuasaan masing-masing untuk saling bertemu. Tempat pertemuan mereka nanti itu lah yang akan menjadi batas wilayah.

Konon, orang Rejang dari Lebong memulai perjalanan satu hari sebelum hari yang disepakati. Alhasil jarak tempuh perjalanan mereka pun bisa sampai jauh hingga ke wilayah yang disebut Padang Bano saat ini.

Saat bertemu itu lah kedua pihak akhirnya bersepakat batas wilayah Rejang di Lebong dan Rejang di pesisir ada di wilayah yang disebut Padang Bano. Padang Bano sendiri merujuk nama buah yang sengaja ditanam sebagai penanda batas wilayah.

Rombongan Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga, Pemerintah Kecamatan Uram Jaya, dan Pemdes Lemeu pose bersama di sekitar areal Batu Bibin/ist

Nama bibin sendiri bermakna sulit. Nama itu menggambarkan sulitnya mencapai puncak batu. Selain tinggi, batu juga ditumbuhi semak belukar dan pepohonan. “Di atas itu bentuknya cekung, seperti wadah kuali,” kata Abing, sapaan Abdul Sumardi.

Di masa lalu, lokasi batu juga dipercaya menjadi rute yang dilalui orang-orang dulu untuk menuju wilayah Kecamatan Pinang Belapis kini. Karena cerita yang turun temurun itu lah Batu Bibin bisa menjadi salah satu objek wisata yang punya potensi untuk dikembangkan.

Lokasi Batu Bibin sendiri sangat mudah dijangkau. Dari jalan raya Desa Lemeu lalu melalui jalan setapak di dekat aliran sungai, pengunjung hanya butuh waktu tempuh sekitar 10 menit hanya dengan berjalan kaki.

Karena belum sekalipun disentuh atau dipoles proyek pembangunan, Batu Bibin bisa dibilang belum punya daya tarik, kecuali cerita yang melatarinya tadi.

Camat Uram Jaya pose di depan air terjun Kemaceak/ist

Objek ini tentu bisa menjadi magnet wisata jika di sekitar batu ditopang oleh pemikat wisata yang lain. Misalkan taman atau kebun bunga. Potensial juga untuk arena olahraga panjat tebing dan areal camping para penghobi petualangan alam atau para pencinta alam.

Potensi pengembangan itu bisa disinergiskan dengan padang durian dan kebun kopi yang mendominasi ragam tanaman perkebunan yang diusahakan warga di situ, termasuk tiga air terjun yang ada di bagian hulu yang disebut air terjun Kemaceak.

Air Terjun Kemaceak bisa dibilang adalah objek yang paling menarik. Dari batu Bibin, air terjun pertama berjarak sekitar 30 menit perjalanan (jalan kaki). Tak sulit mencapai lokasi. Bagi yang jarang olahraga, memang akan terasa cukup melelahkan karena kita mesti menapak jalan menanjak.

Tapi rasa lelah itu akan terbayar puas ketika kita tiba di depan air terjun setinggi sekitar 30 meter.  Air yang dingin nan jernih akan segera menyegarkan segala penat. Rebahkan badan sebentar di atas bebatuan lebar, dan nikmati udara segar yang diproduksi pepohonan hijau nan rindang di sekitar. Setelah itu puaskanlah berselfie ria.

Melepas penat dengan mandi di bawah guyuran air terjun/ist

Belum cukup? Mandi dan berenanglah di kolam tumpahan airnya. Kalau cukup berani, terjun bebas pun seru dari bebatuan di sekitar lokasi air. Terakhir, bawalah bekal yang cukup. Sebab setelah mandi, rasa lapar akan mendera. Makan dulu sebelum turun akan membuat perjalanan pulang berasa ringan.

Rencana Pembangunan

Pemkab Lebong melalui Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga bersama Pemerintah Kecamatan Uram Jaya dan Pemerintah Desa Lemeu telah meninjau kedua objek tersebut, Sabtu (6/4/2019).

Perjalanan ke lokasi dimulai lewat pukul 10.00 WIB. Rombongan sebanyak 29 orang itu tiba di pinggir Batu Bibin sekitar pukul 10.20 WIB. Selain mengabadikan perjalanan di lokasi dengan foto dan video, rombongan juga menyempatkan mengamati batu yang masih ditumbuhi semak belukar itu.

“Lokasi di sekitar batu ini harus dibebaskan atau dihibahkan oleh pemilik lahan ke pemerintah daerah agar bisa diusulkan untuk pengembangannya. Setelah itu baru kita siapkan konsep pembangunannya,” kata Kepala Bidang Pariwisata Lebong Mahrul Rasidi, S.Pd.

Air Terjun Kemaceak yang dingin dan jernih/ist

Camat Uram Jaya Iwan Jang Jaya meminta Pemerintah Desa Lemeu agar dapat melengkapi syarat administrasi yang diperlukan sehingga pembangunan objek wisata Batu Bibin, termasuk air terjun Kemaceak, bisa diusulkan dan dianggarkan di APBD Lebong tahun mendatang.

Menurut Abing, rencana pembangunan yang paling prioritas adalah infrastruktur jalan agar memudahkan penunjung. Saat ini, untuk menjangkau Batu Bibin sendiri memang sudah bisa menggunakan sepeda motor.

“Kalau untuk ke air terjun, perlu dirancang akses yang lebih datar agar perjalanan tidak begitu terasa melelahkan,” kata Abing. Abing meyakini objek wisata yang ada di desanya itu bisa meningkatkan pendapatan desa jika dikembangkan secara optimal.


Penulis: Jaya Eriyanto E. Siboro (Kepala Seksi Ekonomi dan Pembangunan Kecamatan Uram Jaya)

 

Komentar Anda
iklan kibar

Related posts