previous arrow
next arrow
Slider

Mengenal Nenek Berumur 120 Tahun dan Riwayat Rumah Adat Rejang

 

Jpeg
Rumah Adat Suku Rejang yang berada di Desa Gunung Alam, Kecamatan Pelabai, Kab. Lebong/foto vikter-sahabatrakyat.com

LEBONG, sahabatrakyat.com– Selain aksara Kaganga, rumah adat Rejang merupakan salah satu tanda tingginya peradaban masyarakat suku Rejang yang masih bisa ditemukan hingga saat ini. Di Kabupaten Lebong, rumah adat Rejang yang masih dijaga dan menjadi benda cagar budaya ada di Desa Gunung Alam, Kecamatan Pelabai. Rumah ini dibangun pada jaman penjajahan Jepang.

Darimana kita tahu rumah panggung itu dibangun pada masa pendudukan Jepang? Informasi itu disampaikan Salul Bariah. Nenek berumur 120 tahun. Dia adalah cucu pemilik rumah tersebut bernama Bambang (kakek) dan Serangi (nenek).

“Rumah itu dibangun di masa pendudukan Jepang. Namun waktu dibangun, kondisi daerah ini damai dan tenteram, tidak ada peperangan,” cerita Nenek Salul kepada sahabatrakyat.com yang menjumpainya baru-baru ini (6/2/2017) di kediamannya di Desa Gunung Alam.

Menurut Nenek Salul, rumah yang bisa dilihat kini sudah mengalami renovasi. Namun bentuk atau desain dan unsur-unsur atau ciri khas rumah itu masih seperti aslinya. Karena itu, Nenek Salul berharap pemerintah dan pihak terkait terus menjaga dan merawatnya supaya generasi penerus masih bisa melihat dan mengetahui peninggalan pendahulunya.

“Anak-anak sekarang banyak yang tidak tahu. Apalagi jumlah rumah adat Rejang yang ada (di Lebong) tidak banyak,” kata Nenek Salul yang memiliki 11 anak itu.

Jpeg
Nenek Salul Bariah

Riwayat Rumah
Kata Nenek Salul, ketika dibangun pertama kali oleh sang kakek, bahan-bahan bangunan seperti ijuk dan kayu didapatkan dari desa setempat dan sekitarnya. Hanya bahan pewarna rumah yang harus diambil dari luar lantaran yang tersedia di desa kurang bagus. “Bahannya dari tanah merah yang diambil dari daerah pesisir,” ujar Salul.

Bentuk rumah panggung, lanjut Nenek Salul, dilatar-belakangi kondisi alam di masa itu yang masih dikeliling hutan dan masih banyaknya binatang buas, seperti harimau. Selain itu, di sisi rumah juga disediakan tempat penyimpanan hasil bumi, seperti padi. “Makanya rumah dibuat tinggi supaya aman,” kata Nenek Salul.

Menurut Nenek Salul, seperti dikutip dari Radar Lebong edisi Senin (6/2/2017), kakeknya Bambang memiliki empat orang anak, tiga laki-laki dan seorang perempuan. Ayahnya adalah anak laki-laki paling tua atau sulung dari empat bersaudara itu.

Semula rumah itu akan diwariskan kepada sang ayah sebelum kakeknya meninggal. Namun lantaran sang ayah sudah menikah dan sudah membangun rumahnya sendiri, sang kakek memberikan rumah itu kepada anaknya yang perempuan atau bibi Salul.

Cagar Budaya
Pada tahun 1986, keberadaan rumah adat Rejang di Desa Gunung Alam ini ditinjau oleh Kantor Sejarah dan Kepurbakalaan yang berpusat di Jambi. Menurut Haridha Nurfadila (Pelestarian Rumah Adat Lebong dan Nilai Kearifan Dalam Upaya Meningkatkan Rasa Kepedulian Generasi Muda Terhadap Cagar Budaya Daerah Kabupaten Lebong Provinsi Bengkulu, 2015), rumah itu dibeli dari pemiliknya yang dikenal sebagai Tiak Huriah (Bapaknya Huriah) alias Tiak Ndeu.

Setelah dibeli, proyek pemugaran dilaksanakan. Tim pelaksana pemugaran itu orang Lebong, di antaranya Anthoni Mukhtar (saat itu pegawai Kantor Kecamatan bagian Kebudayaan) dan tokoh adat Rejang (alm) H. Syaimanjai (Nurfadila, 2015). Sejak saat itu, pemugaran baru dilaksanakan lagi pada 2015 oleh Pemkab Lebong. Harian Bengkulu Ekspress menyebutkan, pemugaran itu didanai APBD 2015 senilai Rp 150 juta. (Vikter Sanjaya)

Komentar Anda
iklan kibar

Related posts