LEBONG, sahabatrakyat.com Seperti biasanya, pagi itu (22/11/2019), pria paruh baya itu beranjak dari rumah menuju kebunnya di sekitar TNKS di wilayah Kecamatan Uram Jaya, Lebong. Hari itu Harledi, nama si petani, hendak menggarap kebunnya.
Jarak kebun kopi itu akan dia tempuh sekitar dua jam. Sembari berjalan kaki, pria 51 tahun itu menyempatkan diri mencari kayu bakar untuk dia bawa ke kebun.
Setelah sekitar satu jam perjalanan, Harledi tiba di pinggiran air terjun Paliak. Waktu itu kira-kira jam 11.00 WIB, kata Harledi. Sebatang pohon besar yang sudah tumbang di lereng air terjun itu menarik perhatiannya.
Untuk mencapai pohon tumbang itu, Harledi harus melalui jalan yang curam. Sebelum sempat mencincang batang, tepat di kayu besar itu ada sebuah batu yang mengalihkan perhatiannya. Ia makin penasaran karena ada benda asing yang sebagian wujudnya tertimbun tanah.
Diliputi penasaran, warga Desa Embong itu pun bingung setelah melihat wujud utuh benda asing itu. Kata Harledi, dirinya sempat berfikir benda itu adalah harta karun, sisa peninggalan zaman kolonial Belanda.
“Ah, apa seberat ini? Tidak kurang dari enam kilo lebih, jadi kito orang susah ini rasa-rasanya dapat emas. Bawalah dulo ke pondok tu,” cerita Harledi sembari menunjukkan gaya tangannya saat mengangkat benda tersebut.
Harledi tiba di pondok kecil di kebunnya sekitar pukul 12:00 WIB. Setelah tarik nafas sebentar, ia lantas beranjak menghidupkan api untuk menyeduh kopi.
Air belum mendidih. Kopi belum diseduh. Dahaga masih menunggu. Tapi rasa penasaran Harledi sudah menggebu-gebu.
Lalu diraihnya sebuah kapak. Benda yang belum dia ketahui seluk beluknya itu lalu dipretelinya. Mula-mula dibukanya ujung bagian kepala benda asing itu. Lalu dipatahkannya bagian bawah.
Masih belum paham dengan benda yang dia temukan, dari penutup yang ia lepas tadi malah keluar besi per berukuran kecil. Kacang-kacang besi dan besi kuningan seperti paku juga keluar dari tutup ujung lapis kedua yang berwarna kuning.
Tak sampai di situ, di dalamnya ditemukan dua buah gulungan kertas kuning sebesar kotak balsem yang bertulis angka. Tapi setelah karet yang ada di dalamnya dibuka, benda yang masih ada di dalam tidak bisa dikeluarkan.
Harledi mulai curiga, jangan-jangan benda asing yang dia bongkar itu adalah peledak. Untuk menguji dugaannya, Harledi mencoba melempar bongkah berbalut kertas sebesar balsem ke tungku api.
Juusss!! Benar saja, api tiba-tiba menyambar dan asap berwarna kuning melontar ke udara setinggi sekitar tiga-empat meter. Harledi yang kaget dan panik segera melompat menjauh lalu tiarap. Rasa penasarannya kini berganti rasa takut.
“Pikir bukan emas ini, saya coba lanting ke api malah keluar asap kuning setinggi tiga empat meter. Saya tiarap nunggu letupannya ternyata tidak ada. Akhirnya satunya (satu bongkah serupa) lagi saya kubur di tanah,” sampainya.
Setelah menguasai rasa takutnya. Harledi lantas bergegas pulang. Penemuan benda asing itu dia ceritakan kepada keluarga dan tetangga serta dilaporkan ke salah seorang anggota polisi yang dikenalnya.
Polres Lebong yang menerima laporan anggota menindak-lanjuti informasi itu tiga hari kemudian. Sejumlah petugas dengan dua unit mobil diturunkan ke Kecamatan Uram Jaya, Selasa (26/11/2019).
“Setelah polisi datang, kita ambil benda itu yang masih ada di kebun dengan ember yang berisi air,” tutur Harledi yang dijumpai sahabatrakyat.com pada Rabu malam (27/11/2019) di kediamannya.
Benda yang diamankan itu ternyata serupa peluru mortir. Mortir adalah benda pemusnah, bahkan pencabut nyawa. Menurut kamus wikipedia, mortir adalah senjata artileri yang diisi dari depan, dan menembakkan peluru dengan kecepatan yang rendah, jarak yang jangkauan dekat, dan dengan perjalanan peluru yang tinggi lengkungan parabolnya.
Kepala Desa Embong Naharudin mengatakan, penemuan benda berupa peluru dan senjata memang sering terjadi di wilayahnya. Kata Nahar, lima tahun lalu, ada juga warganya yang menemukan peluru lengkap dengan rantai-nya.
“Ceritanya, dulu pada masa perang, di sana pernah menjadi markas staf PRRI,” tuturnya.


Pewarta: Aka Budiman