Ada dua peristiwa yang terjadi hampir bersamaan.
Yang satu membuat orang bersorak. Yang satu lagi membuat orang mengeluh.
Argentina menyingkirkan Inggris. Gol kemenangan lahir di menit-menit akhir. Orang yang menonton bola tahu, keajaiban kadang datang di ujung waktu.
Di Bengkulu, antrean Bio Solar juga berlangsung sampai menit-menit akhir. Bedanya, tidak ada gol kemenangan. Yang ada hanya deretan truk, pikap, angkutan, dan wajah-wajah lelah menunggu nozzle SPBU kembali mengalirkan solar.
Di sepak bola, ketika tim kalah, pelatih datang ke ruang konferensi pers. Menjelaskan apa yang terjadi. Salah atau benar urusan belakangan. Yang penting publik mendapat penjelasan.
Di Bengkulu, itulah yang sedang ditunggu masyarakat dari Pertamina.
Bukan sekadar tambahan kuota.
Bukan sekadar angka 107 ribu kiloliter.
Bukan sekadar penjelasan bahwa pasokan aman.
Yang ingin diketahui masyarakat jauh lebih sederhana.
Kalau stok aman, mengapa antrean tetap panjang?
Kalau distribusi lancar, mengapa sopir harus berpindah dari satu SPBU ke SPBU lain?
Kalau persoalan pelabuhan sudah selesai, mengapa masalahnya belum ikut selesai?
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak bisa dijawab dengan diam.
Karena ruang kosong selalu diisi spekulasi.
Wakil Ketua I DPRD Bengkulu, Teuku Zulkarnain, memilih berbicara keras. Ia meminta Pertamina membuka data stok dan distribusi. Bahkan mengusulkan pembentukan tim gabungan yang melibatkan pemerintah daerah, aparat penegak hukum, TNI, hingga Pertamina sendiri.
Usulan itu menarik.
Bukan karena ingin mencari kambing hitam.
Tetapi karena persoalan yang berulang setiap tahun tidak cukup diselesaikan dengan saling menyalahkan.
Kalau memang ada penyimpangan distribusi, ungkap.
Kalau memang kuota kurang, katakan.
Kalau memang konsumsi melonjak karena selisih harga Dexlite dan Bio Solar, jelaskan dengan data.
Publik dewasa bisa menerima kenyataan.
Yang sulit diterima adalah ketidakjelasan.
Di sisi lain, pemerintah daerah juga mulai berpikir mencari sumber pendapatan baru. Wakil Gubernur Mian bahkan membawa gagasan pajak air permukaan bagi perkebunan sawit ke forum nasional APPSI.
Logikanya sederhana.
Jalan provinsi rusak. Truk sawit lewat setiap hari. Daerah membutuhkan uang untuk memperbaikinya.
Artinya, pemerintah sedang mencari solusi menambah pendapatan.
Namun, di saat yang sama, masyarakat masih sibuk mengantre mendapatkan solar untuk menggerakkan roda ekonomi.
Inilah ironi yang sedang terjadi.
Daerah berbicara tentang kemandirian fiskal.
Masyarakat masih berbicara tentang mendapatkan bahan bakar.
Dua-duanya sama penting.
Karena pembangunan tidak akan bergerak tanpa kendaraan.
Dan kendaraan tidak akan bergerak tanpa solar.
Argentina mengajarkan satu hal.
Pertandingan belum selesai sampai peluit panjang berbunyi.
Mungkin persoalan Bio Solar Bengkulu juga begitu.
Masih ada waktu membuktikan bahwa semua benar-benar baik-baik saja.
Syaratnya hanya satu.
Jangan diam.
Karena dalam urusan pelayanan publik, kepercayaan masyarakat jauh lebih mahal daripada setetes Bio Solar.Jika diinginkan, opini ini juga bisa dibuat lebih tajam, lebih satir, dan lebih khas gaya kolom Dahlan Iskan dengan kalimat-kalimat pendek dan penutup yang lebih menggigit.
Bengkulu 16 Juli 2026
Penuli, Alexander







