BI, OJK, dan BSI Perkuat Ekosistem Keuangan Syariah di Bengkulu Lewat BERKAH 2026

SAHABAT RAKYAT, Bengkulu – Kegiatan Bengkulu Road to Festival Ekonomi Syariah (BERKAH) 2026 yang digelar di Atrium Bencoolen Mall menghadirkan sejumlah narasumber dari Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan perbankan syariah. Talkshow ini menyoroti penguatan ekosistem ekonomi dan keuangan syariah di daerah, Minggu (26/4/2026).

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu, M. Irfan Octama, dalam paparannya menegaskan bahwa pengembangan ekonomi syariah menjadi bagian penting dari agenda nasional. Hal ini mencakup peningkatan produksi halal, penguatan sektor keuangan syariah, serta pengembangan ekosistem usaha berbasis syariah.

Ia menjelaskan, terdapat tiga fokus utama yang terus didorong, yakni penguatan dan perluasan ekosistem pertanian serta perikanan berbasis pesantren, dukungan terhadap jaminan produk halal, serta pengembangan ekspor produk halal melalui program unggulan seperti Jawara.

“Penguatan ekonomi syariah harus dimulai dari hulu hingga hilir, termasuk mendorong pelaku usaha agar mampu menembus pasar ekspor,” ujarnya.

Selain itu, BI Bengkulu juga membina sembilan pelaku UMKM sebagai bagian dari pengembangan ekonomi syariah di daerah.

Sementara itu, Asisten Manajer OJK Provinsi Bengkulu, Fadli, mengungkapkan bahwa industri keuangan syariah nasional saat ini memiliki total aset mencapai sekitar Rp1.000 triliun. Namun demikian, masih terdapat sejumlah tantangan yang harus dihadapi.

Ia menyebutkan, struktur industri keuangan syariah masih didominasi oleh lembaga dengan aset di bawah Rp25 triliun dan modal inti di bawah Rp6 triliun. Selain itu, tingkat inklusi keuangan syariah masih tertinggal dibandingkan tingkat literasi.

“Berdasarkan survei tahun 2025, literasi keuangan syariah lebih tinggi dibandingkan inklusinya. Artinya, pemahaman masyarakat sudah cukup baik, namun pemanfaatannya masih perlu ditingkatkan,” jelas Fadli.

Tantangan lainnya adalah pangsa pasar keuangan syariah yang masih relatif kecil dibandingkan keuangan konvensional. Untuk itu, OJK terus mendorong penguatan regulasi, peningkatan layanan digital, serta penguatan keamanan siber guna meningkatkan kepercayaan masyarakat.

Di sisi lain, Area Manager PT Bank Syariah Indonesia (BSI) Tbk, Adi Putra Maryono, menyampaikan bahwa BSI terus memperkuat posisinya sebagai bank syariah terbesar di Indonesia, hasil penggabungan Bank Mandiri Syariah, BRI Syariah, dan BNI Syariah.

Ia juga mengungkapkan bahwa BSI kini menghadirkan inovasi sebagai bank emas pertama di Indonesia melalui layanan bullion. Program ini telah diresmikan oleh Presiden RI pada 26 Februari 2025 dan menjadi bagian dari pengembangan layanan keuangan syariah berbasis emas.

“BSI hadir sebagai bank emas pertama di Indonesia. Layanan ini tidak hanya untuk investasi, tetapi juga mendukung perencanaan keuangan, termasuk persiapan ibadah haji,” ujarnya.

Produk BSI Gold yang ditawarkan telah bekerja sama dengan Antam dan menjadi salah satu instrumen investasi syariah yang diminati masyarakat.

Melalui kegiatan BERKAH 2026, sinergi antara BI, OJK, dan perbankan syariah diharapkan semakin kuat dalam mendorong pertumbuhan ekonomi syariah yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan di Provinsi Bengkulu. (Aan)