Gubenur Bengkulu Rohidin Mersyah saat memberi sambutan di Sminar Nasional
Gubenur Bengkulu Rohidin Mersyah saat memberi sambutan di Sminar Nasional Unived/fb media center

BENGKULU, sahabatrakyat.com- Bagi pelaku ekonomi di masa depan, penguasaan atas data dan teknologi informasi terkini menjadi keharusan. Data dan teknologi akan menjadi dasar pertimbangan bagi siapa saja untuk membuat keputusan dan kebijakan.

Demikian antara lain kata kunci sambutan Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah saat membuka secara resmi Seminar Nasional Ilmu Komputer (SNASIKOM) Fakultas Ilmu Komputer Universitas Dehasen (UNIVED) Bengkulu, di aula Kampus I UNIVED Bengkulu, Rabu (10/08).

Rohidin menyebut tiga aspek ekonomi masa depan itu mencakup blue and green economy, creative economy dan digital economy. Semuanya berbasis data.

“Di mana data scientist merupakan kolaborasi pendekatan dengan berbagai ilmu pengetahuan, yang jelas dibutuhkan oleh banyak pihak terutama bagi para pemangku kepentingan atau pengambil keputusan di semua level untuk menghadapi 3 aspek ekonomi masa depan,” urainya dilansir akun FB Media Center Pemprov Bengkulu.

“Maka data scientist sangat penting yang diolah dengan sistem computerized kemudian diinterpretasikan dengan soft science yang lebih baik,” jelas Gubernur Rohidin.

“Ketika bicara data scientist, maka kita harus menerapkan multi disiplin ilmu serta melakukan goal oriented atau pendekatan tujuan. Sehingga pola pikir atau paradigma seperti ini harus diubah mulai dari sekarang, dari paradigma pendekatan masalah ke pendekatan tujuan,” tutupnya.

Pelaksana Harian (Plh) Rektor Unived Bengkulu Karona Cahya Susena mengatakan, seminar SNASIKOM Unived Bengkulu bertajuk “Peran Data Science Dalam Upaya Mendukung Pemulihan Ekonomi Pasca Pandemi”, ke depan diharap mampu memberikan kontribusi dalam membantu memberikan data yang akurat sebagai rujukan pengambilan keputusan berbagai sektor kehidupan.

“Jadi peluang membangkitkan ekonomi melalui transformasi digital sangat penting untuk semua sektor. Sehingga kualitas dan kuantitas data yang diperlukan untuk membuat kebijakan yang lebih baik bisa terwujud,” ungkapnya. (Rls)