Potensi dan Ancaman Wisata Minat Khusus di Pulau Enggano

Burung endemik di Pulau Enggano/Foto: Istimewa

BENGKULU UTARA, sahabatrakyat.com– Pulau Enggano Kabupaten Bengkulu Utara yang merupakan salah satu pulau terluar di Indonesia, kaya dengan potensi wisata dan budaya. Ia juga memiliki wisata minat khusus yang sangat membutuhkan perhatian serius. Wisata minat khusus itu seperti berselancar (surfing), menyelam (dving), memancing (fishing), caving (eksplorasi gua), jungle tracking (penelusuran hutan), camping dan tur foto serta bird watching (pengamatan burung).

“Wisata minat khusus yang paling diminati di Pulau Enggano oleh para wisatawan yakni fishing yang didominasi domestik, kemudian birds watching yang didominasi wisatawan mancanegara. Untuk wisata surfing tidak diprioritaskan karena ombak di lokasi surfing tidak konstan dan susah dijangkau,” jelas Ketua Lembaga Desa Wisata (Ladewi) Kecamatan Enggano dan juga sebagai Ketua Pos Darma Wisata (Pokdarwis) Enggano Karyaguna, Desa Kaana, Zulvan Zaviery saat dihubungi  via telepon genggamnya, Jumat (16/10/2021).

Zulvan menjelaskan, bird watching sendiri merupakan cabang wisata minat khusus exclusive yang sangat berkembang terutama di Eropa dan Amerika yang rata-rata anggotanya adalah kaum terpelajar. Saat ini jumlah member di Eropa melampaui 1,5 juta yang mana setiap member memiliki ribuan daftar spesises burung yang harus mereka saksikan di habitat aslinya di alam liar

Di Pulang Enggano sendiri ada 6 spesies endemic burung yaitu:

1. Beo Enggano-Enggano hill myna-Gracula enganensis

2. Betet Enggano- Enggano longtailed parakeets

3. Uncal Enggano/Kuau-Enggano cuckoo-dove (Macropygia cinnamomea

4. Kacamata enggano – Enggano white-eye – Zoosterops salvadorii

5. Celepuk Enggano – Enggano Scoops-owl – Otus Enganensis dan

6. Anis Enggano – Enggano Thrush – Zoothera leucolaema

Lanjut Zulvan, untuk memenuhi list di daftar member, mereka harus datang ke Enggano untuk melihat langsung spesies burung endemic ini. Dan kalau pun hanya 1 persen saja member Eropa yang datang ke Enggano maka ada potensi kedatangan 15 ribu wisatawan asing asal Eropa, belum lagi dari Amerika dan Asia juga Australia.

Wisatawan mancanegara saat pengamatan burung di Pulau Enggano

“Namun mirisnya spesies burung endemic yang ada di Enggano saat ini terutama Beo dan Betet mulai dikhawatirkan keberadaan dan jumlahnya akibat perburuan. Bahkan Beo Enggano tidak terdaftar sebagai spesies yang dilindungi undang-undang, celepuk Enggano yang dalam katagori aman masuk ke dalam spesies yang dilindungi bersama betet Enggano,” ucapnya.

Zulavan menyayangkan, implementasi hukum dan sanksi di lapangan tidak berjalan seperti yang diharapkan. Bahkan sekarang untuk Beo dan Betet Enggano tidak hanya mengambil anakannya tetapi menargetkan burung dewasa. Seharusnya endemic tersebut meregenerasi spesies mereka di Pulau Enggano.

Jika spesies endemic di Enggano sampai punah dan tidak segera diambil kebijakan khusus mengenai masalah ini maka Enggano bakal kehilangan aset yang luar biasa besar karena burung-burung ini bernilai jauh lebih tinggi ketika mereka lestari di alam liar dari pada di jual dalam bentuk fisik untuk di pelihara di dalam kandang.

Sementara itu, kendala lain yang dihadapi adalah masalah sarana komunikasi dan transportasi menuju Enggano, karena sering terjadi tamu-tamu asing yang datang secara individu maupun dalam group gagal berangkat karena badai yang menyebabkan kapal dan juga tidak tersedianya penerbangan rutin (daily flight)

Zulvan berharap Pulau Enggano, yang merupakan salah satu pulau terluar di Indonesia, sangat banyak aspek yang harus diperhatikan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Bengkulu Utara dan para wakil rakuayatnya secara serius.

Terpisah, Ketua Asosiasi Desa Wisata Indonesia (ASIDEWI) Kabupaten Bengkulu Utara, Teti Herawati S. Ikom, mengatakan wisata minat khusus di Pulau Enggano sangat menakjubkan. Namun sayang sekali, potensi-potensi wisata di Pulau Enggano kurangnya dukungan oleh peran pemerintah. Hal ini terlihat dari infrastruktur yang ada rusak parah, Listrik di pulau ini tidak menyala 24 jam.

“Semoga ada perhatian serius pemerintah terhadap Pulau Enggano. Kami ASIDEWI BU bersama Ladewi Enggano akan berperan aktif sehingga pulau Enggano menjadi tujuan utama para wisatawan lokal maupun mancanegara untuk menghabiskan liburan di sana,” katanya.

ASIDEWI  BU selalu berupaya melakukan pendampingan wisata yang ada di Pulau Enggano, seperti keindahan alam, keanekaragaman seni, budaya, dan adat istiadat semestinya dikelola secara ramah dengan menawarkan perjalanan-perjalanan wisata minat khusus terhadap pasar pariwisata.

Selanjutnya, pemerintah bisa mendapatkan informasi komprehensif tentang praktik-praktik terbaik dalam pengelolaan destinasi wisata khusus untuk kemudian dijadikan guidelines dan parameter bagi destinasi wisata khusus di Pulau Enggano ini.

Asidewi BU, berharap, yang lebih penting dengan hasil identifikasi dan pemetaan yang dilakukan ASIDEWI, Pemerintah pun bisa mengidentifikasi peluang-peluang intervensi kebijakan untuk pengembangan lebih lanjut dari wisata minat khusus secara nasional.

“Pulau Enggano butuh perhatian dari Pemerintah Kabupaten Bengkulu Utara secara serius bukan sekedar seremonial semata,” katanya.


Pewarta: MS Firman