Ancaman Banjir Bandang Masih "Menghantui"

2
Gubenur Bengkulu didampingi Unsur FKPD Lebong pada saat meninjau Longsor dan Banjir Bandang di Lokasi Pengeboran PT. PGE Ulu Lais beberapa bulan lalu.

LEBONG – Ancaman terjadinya bencana longsor dan banjir bandang di wilayah Lebong Selatan dari lokasi PT Pertamina Geothermal Energi (PGE) masih cukup tinggi. Ketua DPRD Lebong, Teguh Raharjo EP mengatakan, hingga saat ini berdasarkan laporan yang ia terima, air dari Danau belerang yang ada di puncak Hulu Lais berpotensi kembali meluap pada musim penghujan dan diperlukan adanya penanganan khusus agar aliran air dari danau tersebut mengalir ke hulu Sungai Kotok.

“Dalam beberapa minggu terakhir ini banyak laporan dari warga yang saya terima bahwa kurang lebih setengah juta kubik air dari danau bukit belerang berpotensi menyebabkan longsor dan banjir bandang. Selain itu informasi juga saya terima dari beberapa SKPD terkait ancaman longsor dan banjir bandang. Untuk itu kita mendesak agar PT PGE bisa secepatnya melakukan normalisai hulu sungai kotok sebagai pencegahan,” ungkap Teguh.

Ditambahkan Teguh, longsor dan banjir bandang dari wilayah hulu lais tersebut berpotensi menimpa pemukiman masyarakat di Kelurahan Taba Anyar, Kelurahan Mubai dan beberapa desa lainya. “Kalau kejadian banjir bandang terjadi lagi, kemungkinan akan masuk ke pemukiman warga, karena sampai sekarang normalisasi sungai kotok belum dilakukan. Arah aliran air yang terjadi paska kejadian bulan April yang lalu berada di Cluster A PT PGE dan mengarah ke alur sungai karat dan ini melewati pemukiman warga. Ini yang kita kawatirkan kalau tidak sesegera mungkin dilakukan normalisai,” ujar Teguh.

Terpisah, Kepala BPBD Lebong Drs Syamsul Bahri membenarkan bahwa potensi terjadinya longsor dan banjir bandang diwilayah Lebong Selatan masih cukup tinggi. Pihak BPBD sendiri sudah meminta agar PT PGE secepatnya melakukan normalisai Sungai di Hulu Sungai Kotok.

“Sejak kejadian April lalu kita sudah meminta agar normalisasi sungai kotok secepatnya dilakukan, namun jawaban pihak PT PGE upaya normalisasi masih terkendala karena alat berat masih sulit mencapai titik hulu lais karena kondisi lumpur yang cukup tebal sehingga tidak bisa dilewati,” kata Syamsul.

Ditambahkan Samsul, pihaknya juga terus memantau potensi tersebut dan sesegera mungkin meminta PT PGE melakukan pengerukan hulu sungai kotok tersebut. “Memang dari pantauan terakhir yang kita lakukan pada bulan Juli yang lalu, debit air di bukit belerang sudah cukup tinggi namun pada tanggal 14 Juli yang lalu, sebagian air tersebut sudah mengaliri ke sungai Air Karat. Dalam waktu dekat ini kembali kita surati pihak PGE untuk segera melakukan pengerukan agar potensi bencana bisa di minimalisir,” pungkas Syamsul. (cw1)