Anggota Plasma PT. Sandabi Indah Lestari Keluhkan Besarnya Hutang

Bengkulu Utara – Petani sawit yang tergabung dalam kelompok Plasma  koperasi  KSU Bina Karya Mandiri Dibawah binaan  PT. Sandabi Indah Lestari,   Desa Taba Tembilang, Kecamatan Kota Arga Makmur Kabupaten Bengkulu Utara Mengeluhkan besaran hutang anggota terhadap koperasi  KSU Bina Karya Mandiri .

Hal ini diungkapkan oleh beberapa orang anggota kelompok petani sawit yang tergabung dalam KSU  tersebut.

“ Kami merasa hutang yang dibebankan kepada kami sangat  memberatkan”

hal ini dikarenakan ada beberapa poin dalam catatan hutang  tidak sesuai  dengan kenyataan yang kami terima. Seperti Biaya pembangunan dan biaya perawatan jalan, baik jalan utama maupun jalan  produksi yang biayanya   dibebankan kepada petani  dengan penambahan pada jumlah  hutang pokok, ungkapnya.

Sementara kami juga tidak tau seberapa panjang  jalan yang dibangun pihak perusahaan,  dalam  kawasan plasma tersebut.  Yang  muncul hanya cacatan  hutang yang harus dibayar  baik kelompok maupun individu  terhadap pembangunan dan perawatan jalan tersebut.

Kondisi jalan saat ini bapak bisa lihat sendiri,  katanya kepada awak media, sambil menunjukan kondisi jalan yang memang tidak bisa dilewati karena berlumpur dan dalam.

“Bagai mana kami mau menekankan biaya pengeluaran dan membayar hutang , sementara biaya yang harus kami keluarkan untuk mengangkut hasil sudah sangat tinggi”,  lanjutnya.

Belum lagi kondisi buah sawit yang jarang dan tidak seperti beberapa kebun  sawit pribadi milik masyarakat atau perkebunan umumnya yang pernah kami lihat. Kami tidak tau jenis bibit yang diberikan kepada kami dulu, Katanya bibit bagus. yang jelas hasilnya seperti ini .

“Bagai mana kami mau merawat kebun, membersihkan, memupuk dan lain-lain  sementara buahnya seperti ini, antara biaya produksi  dan  hasil produksi tidak seimbang”, tandasnya.

Ketika awak media menghubungi pihak perusahaan PT.Sandabi Indah Lestari dan KSU  Bina Karya Mandiri ,

Senior Maneger PT. SIL.  Petrus MM Silaban, SH,.MH Mengarahkan awak media kepada ketua Koperasi KSU Bina Karya Mandiri Bapak Panut.

Bersama  sekretaris koperasi  bapak  Nopsi,  Ketua koprasi menyampaikan ,

“Hutang anggota  satu sama lain tentu tidak sama , hal ini tergantung luas lahan garapan masing-masing,  Ia mencontohkan   salah satu anggota  atas nama xxx  dengan luas lahan 1,7 hektar total hutang berkisar antara  70 jutaan.  Dan itu terdiri dari beberapa poin, seperti biaya pembukaan lahan, pembelian bibit, penanaman, pemupukan serta biaya umum dan bunga  bank.

“Untuk biaya umum terdiri dari antara lain biaya pembukaan jalan utama dan jalan produksi”, tandasnya

Dimana jalan utama dibebankan kepada kelompok dan jalan produksi dibebankan kepada petani  masing masing.  Saat di tanyakan berapa  panjang ruas jalan utama dan jalan produksi  ketua dan sekretaris  KSU  tidak bisa menjawab  dan mengatakan tidak tau.

Menurut keterangan ketua dan sekretaris untuk bibit  yang dibagikan kepada petani ini adalah bibit dengan label biru,  berasal dari desa  Cahaya negeri (Cengri) Kabupaten seluma  dengan harga  Rp35 ribu/batang pada tahun 2011 ungkap sekretaris KSU.

Terkait dengan kondisi kebun  sekretaris menjelaskan bahwa hal itu dikarena perawatan yang tidak maksimal, karena pada awalnya produksi tidak masalah sebelum konfersi selama 4 tahun sejak sawit ditanam.  (Aj)