Potret Desa-Desa Lebong Setelah 15 Tahun Otonom (1): 10 Tahun Tanpa Kantor & Air Bersih

LEBONG, sahabatrakyat.com- Pada 7 Januari 2019 Kabupaten Lebong genap berusia 15 tahun. Sebagai daerah otonom hasil pemekaran Kabupaten Rejang Lebong, Lebong sudah tentu mengalami banyak perubahan di berbagai sektor dan bidang.
Di bawah kepemimpinan Dalhadi Umar-Nasirwan Thoha (2005-2010); Rosjonsyah-Panca Wijaya (2010-2015); Rosjonsyah-Wawan Fernandez (2015-2020), Lebong terus berbenah. Dalhadi-Nasirwan membuka lembaran baru kabupaten. Ada sejumlah tonggak yang ditegakkan. Lalu Rosjonsyah-Panca mengevaluasi, melanjutkan, serta meningkatkan apa yang sudah dimulai, serta membangun tonggak sejarah baru. Walau tak lagi duet, bersama Wawan Fernandez, Rosjonsyah terus membangun.
Ada banyak prestasi. Dimulai dengan tata kelola anggaran yang membaik (opini WTP), pembangunan infrastruktur yang hampir merata di semua wilayah, penataan kelembangaan organisasi perangkat daerah, hingga makin populernya Lebong dengan sektor wisata arung jeram-nya.
Namun pekerjaan rumah juga masih ramai menanti. Capaian program-program prioritas lainnya belum tampak menggemberikan. Bahkan penurunan angka kemiskinan masih di bawah rata-rata nasional. Sektor pertanian yang menjadi tumpuan warga masih berjalan dengan pola serupa.
Mengurai plus minus pembangunan Kabupaten Lebong yang sudah 15 tahun memang tak bisa dilihat sepintas lalu. Tentu saja kita perlu mengujinya lewat data dan fakta. Karena itu, sajian sahabatrakyat.com berikut bukan parameter yang cukup untuk memberi penilaian. Kami sekedar memotret suasana di akar rumput, di desa. Apa yang tersaji, itulah kondisinya.
Laporan hasil bertandang ke sejumlah kepala desa ini adalah bagian komitmen sahabatrakyat.com untuk serta membangun Bumi Swarang Patang Stumang dengan perspektif media.
 
Belum Ada Kantor Desa
Kami mulai dari Desa Nangai Tayau I, Kecamatan Amen. Desa yang sudah berumur 10 tahun ini hasil pemekaran Desa Nangai Tayau–sebelum pemekaran kabupaten desa ini bernama Muara Ketayu.
Dengan berbagai perubahan selama satu dekade itu, Desa Nangai Tayau I hingga kini belum kunjung memiliki kantor atau balai desa sendiri.
Anggaran Dana Desa (ADD) sudah terbagi sesuai porsinya. Sementara usul lewat proposal pembangunan kantor desa ke Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Lebong hingga kini belum ada kejelasan.

Zainul Halidi/foto Aka Budiman

Kades Nangai Tayau I, Zainul Halidi mengatakan, ADD sebesar Rp 400 juta per tahun hanya dapat digunakan untuk pembayaran gaji perangkatnya dan kegiatan desa.
“Anggaran dana desa kita kalau untuk membangun kantor nanti yang lain tidak cukup, dana desa tidak bisa mau dipakai bangun kantor,” ujar Zainal (3/1/2018).
Di lahan kosong milik desa seluas 200 meter persegi, Zainal sudah berupaya menganggarkan Rp 50 juta guna membangun kantor desa untuk digunakan sebagai tempat yang strategis untuk kegiatan pemerintahannya dan warga.
Untuk menganggarkan itu, dirinya telah mengirimkan proposal kepada Bappeda dua tahun lalu namun belum ada tanggapan hingga saat ini.
“Pada 2017 pernah kita usulkan tapi saat ini belum ada kejelasannya,” kata Zainal.
 
Tidak Ada Layanan Air Bersih
Masih di Kecamatan Amen, sahabatrakyat.com berkunjung ke Desa Sukau Mergo (Suka Marga). Desa yang dibelah jalan lintas Muara Aman-Curup ini kini dipimpin Kades Rody Aman.
Kepada sahabatrakyat.com, Rody mengaku ketersediaan air bersih menjadi masalah klasik di desanya. Sejak tahun 2009 masyarakatnya tidak lagi menikmati layanan dasar air bersih PDAM Tirta Tebo Emas Lebong.
“Lebih sepuluh tahun di sini sudah tidak terairi, apalagi kalau ada acara di desa. Air bersih jauh sekali ngambilnya,” kata Rody.
Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, sampai Rody, masyarakat rela pergi keluar desa. Hanya untuk mandi dan mencuci saja warganya menggunakan tampungan air hujan dengan alat seadanya, sedangkan air sumur dan DAS Air Kotok walaupun kotor terpaksa digunakan.
Kepala Desa Sukau Mergo Rody Aman menunjukkan wadah penampung air yang digunakan warga/foto: Aka Budiman

“Sumur kita di sini keruh dan tak layak dikonsumsi. Air Kotok kondisinya kita tahu sendiri,” tukas Rody.
Rody mengatakan, warganya sudah sangat bosan meminta PDAM memperbaiki pelayanan. Namun permintaan tidak kunjung digubris.
“Kita di sini sudah sangat merasa kesal sama pihak PDAM. Ada tapi tidak ada pelayanannya. Padahal kebutuhan pokok,” keluh Rody.
Apa tanggapan PDAM?
Direktut PDAM Tirta Tebo Emas Lebong, Sopian Razik, belum memberi tanggapan. Konfirmasi lewat sms yang coba dilayangkan sahabatrakyat.com belum dia balas.


Penulis: Aka Budiman
Editor: Jean Freire