
BENGKULU, sahabatrakyat.com- Kehadiran Presiden Joko Widodo di Provinsi Bengkulu yang hanya meresmikan Monumen Ibu Agung Fatmawati di Simpang Lima Kota Bengkulu, Rabu (05/02/2020), terkesan hanya ‘numpang lewat’ karena tak sebanding dengan harapan semula.
Kesan itu diungkapkan aktivis Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia Cabang Bengkulu, Alex Silaban kepada sahabatrakyat.com melalui pesan WhatsApp, Kamis malam (06/02/2020).
“Sebab awalnya, sebagaiman dirilis media center Pemprov Bengkulu, setidaknya ada tiga agenda. Tapi yang dilaksanakan hanya peresmian monumen. Ini tak sesuai perkiraan dan harapan kita,” tukas mantan ketua Presidium PMKRI Cabang Bengkulu itu.
Beberapa agenda Presiden Jokowi di Bengkulu yang semula disiapkan bisa dilakoni langsung itu adalah: peletakan batu pertama pembangunan jalan tol Bengkulu-Lubuk Linggau; Peresmian Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) 200 dengan kapasitas 2×100 MegaWatt (MW); meningkatkan status IAIN Bengkulu menjadi Universitas Islam Fatmawati Bengkulu, serta rapat kerja nasional program pendidikan dan Majelis Perserikatan Muhammadiyah.
Alex mengatakan, apa yang sudah terjadi itu bisa menjadi cerminan siap atau tidaknya Pemprov Bengkulu dalam menyongsong Presiden Joko Widodo. “Seolah Bapak Gubernur Rohidin kurang jago melobi Istana,” imbuh Alex.
Alex lantas membandingkan kunjungan kerja Jokowi di daerah lainnya yang terlihat amat kontras. Misalnya kunjungan Jokowi baru-baru ini ke Nusa Tenggara Timur yang berlangsung selama 2 hari.
“Jadi menurut saya kehadiran Pak Jokowi ke Bengkulu harusnya mampu memberikan dampak yang jauh lebih besar. Memang agenda peresmian monumen Fatmawati sangatlah penting sebagai penghormatan kita kepada beliau sang penjahit bendera merah putih, saya turut mengapresiasi itu,” katanya.
Namun, “Sebagai masyarakat Bengkulu kita jangan lupa bahwa persoalan di Bengkulu juga masih sangat banyak, angka kemiskinan masih relatif tinggi, belum lagi indikasi intoleransi dan radikalisme,” imbuhnya.
Menurut Alex, dengan melihat perkembangan pembangunan di Bengkulu, mestinya sejumlah persoalan dan agenda besar daerah juga bisa disinknronkan dengan agenda nasional.
“Masyarakat Bengkulu tidak boleh hanyut oleh kehadiran Jokowi kemarin. Ini adalah agenda penting yang menurut saya bahwa Gubernur Bengkulu tidak cukup piawai dalam mensosialisasikan Bengkulu,” kata Alex.
“Satu hal lagi, jangan sampai ini hanya jadi panggung jualan politik petahana. Bengkulu harus terus berbenah. Kita sudah jauh tertinggal dari provinsi lainnya, Bengkulu butuh kerja, bukan tukang olah kata,” pungkasnya. (JF)






