
BENGKULU, sahabatrakyat.com- Sebanyak dua ribu unit alat pelindung diri atau APD segera didistribusikan ke kabupaten dan kota dalam Provinsi Bengkulu dalam rangka mencegah penyebaran virus corona. Setiap rumah sakit akan menerima secara proporsional.
Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah mengatakan, distribusi ADP akan dibagi secara proporsional atau tergantung dengan jumlah kasus yang ditangani setiap rumah sakit yang sudah ditetapkan sebagai pusat rujukan.
Yang pasti, kata Gubernur, RSUD M Yunus saat ini menjadi rujukan terbanyak sehingga akan menerima ADP yang lebih banyak dibanding lainnya. ADP juga akan disalurkan ke ruang tambahan seperti Bapelkes, Mess Pemda dan lainnya.
“Setidaknya 50-100 unit ADP untuk di setiap rumah sakit. Ini terutama bagi petugas medisnya,” ungkap Rohidin dalam keterangan kepada pers, Sabtu (28/03) di Makorem 041/Gamas Bengkulu.
Gubernur mengatakan, Bengkulu kini masih dalam status zona hijau. Dan dengan jumlah penduduk sekitar 2 juta jiwa, Bengkulu belum menjadi fokus atau concern pemerintah pusat.
“Berapa kebutuhan riil Bengkulu belum bisa dipastikan karena itu tergantung jumlah kasusnya. Misalkan ada satu kasus, kalau sehari dokter harus lima kali kunjungan maka kebutannya lima masker. Kalau seminggu bisa 50. Nah kalau ada lima kasus? Jadi sifatnya disposible,” jelasnya.
Gubernur mengungkapkan, terkait upaya memenuhi kebutuhan masker, saat ini juga sedang diupayakan untuk diproduksi sendiri di Bengkulu, yakni oleh BLK. “Maskernya terbuat dari bahan yang bisa dipakai ulang. Setelah ini kami akan meninjau ke sana,” imbuhnya.
Terkait usul Walikota Bengkulu Helmi Hasan untuk menutup bandara dan karantina wilayah, Gubernur mengaku mengapresiasinya sebagai bentuk tanggung jawab dan bentuk kehati-hatian dalam mengamankan keselamatan warga.
Namun, kata Rohidin, keputusan itu bukan di gubernur. Melainkan di tangan pemerintah pusat. “Usulan itu sudah kita sampaikan. Bahkan saya sudah konfirmasi langsung ke Menteri Perhubungan. Katanya, ini masih dalam kajian. Kalau pun ada keputusan, nanti pasti akan disampaikan oleh presiden,” paparnya.
Menurut Rohidin, usul menutup dan melakukan karantina juga disampaikan oleh sejumlah gubernur di Indonesia. Bukan cuma Bengkulu.”Prinsipnya kita apresiasi usulan ini. Tidak ada yang perlu diperdebatkan,” katanya.
Rohidin menegaskan, yang tak kalah penting saat ini adalah pemantauan, yakni memastikan data orang yang datang ke Bengkulu dari daerah terpapar. Data ini harus sampai atau diketahui hingga ke level pemerintah desa dan RT.
“Jadi di sini lah peran Bupati dan Walikota untuk memastikan bahwa data-data warga yang datang masuk ke daerahnya ini supaya bisa terpantau,” tandas Rohidin.
Sementara itu, Danrem 041/Gamas Bengkulu Kolonel Inf Dwi Wahyudi mengatakan, APD yang akan didistribusikan tersebut dikirim lewat jalur udara dari BNPB di Jakarta. TNI, kata Dwi, hanya membantu memobilisasi.
“Nanti yang akan menyalurkan tetap pemerintah daerah masing-masing. Kita membantu mobilisasi. Ini upaya kita bersama dalam upaya mengatasi penyebaran virus corona,” katanya.

Rapid Test
Selain dua ribu unit alat pengaman diri (APD), Provinsi Bengkulu juga sudah menerima bantuan alat-alat lainnya dalam upaya melawan wabah Covid-19, di antaranya alat rapid tes dan ventilator.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu Herwan Antoni mengatakan dari usul kebutuhan sebanyak 2500 set alat rapid test, pusat mengabulkan sebanyak 2.400 set. Sementara ventilator dapat 25 unit.
Alat rapid test itu sudah dan akan segera disalurkan ke kabupaten dan kota dalam Provinsi Bengkulu sehingga dapat segera dimanfaatkan sesuai kebutuhan dan peruntukan.
“Ke Rejang Lebong, Kepahiang sudah. Hari ini Kota, Bengkulu Selatan, Seluma dan Kaur akan kita salurkan juga. Banyaknya 100 unit per kabupaten/kota,” ujar Herwan Antoni kepada jurnalis di Bengkulu, Sabtu siang (28/03) di Bengkulu.
Ia menjelaskan, rapid test terlebih dulu diprioritaskan bagi tenaga medis yang beresiko tinggi, yaitu mereka yang akan menangani kasus Covid-19.
Setelah itu baru tenaga medis yang ada di satu lokasi penanganan kasus dan ODP (orang dalam pengawasan).
“Jadi kita minta yang sudah sampai alatnya untuk segera laksanakan rapid tes sesuai dengan standar dan ketentuannya,” kata Herwan.
Herwan mengatakan, alat rapid tes sendiri disalurkan ke rumah sakit rujukan dan posko-posko penanganan corona yang sudah dibentuk masing-masing pemerintah daerah.
Herwan menandaskan, usulan tambahan sendiri masih terus diupayakan ke pemerintah pusat melalui instansi atau lembaga terkait agar jumlah yang dibutuhkan bisa terpenuhi.
Penulis: RRI Bengkulu | Editor: Jean Freire







