Penulis: Tuan Keme
SAHABAT RAKYAT, Lebong — Di tengah gencarnya pembangunan dan perubahan zaman, satu hal yang perlahan namun pasti mulai memudar dari ingatan masyarakat Bengkulu adalah sejarah asal-usul suku bangsa terbesar di tanah ini. Suku Rejang bukan sekadar salah satu etnis di Sumatra; ia adalah peradaban tua yang telah membangun tatanan sosial, hukum, dan budaya sendiri jauh sebelum kekuasaan asing menapakkan kaki di lembah Renah Sekalawi. Dan di jantung peradaban itu berdiri Empat Petulai — empat pintu besar yang melahirkan seluruh keluarga besar Rejang.
Apa Itu Petulai?
Petulai berasal dari gabungan kata pêtu (pintu) dan lai (besar). Secara harfiah berarti “pintu-pintu besar”. Ini bukan sekadar nama marga atau pembagian wilayah administratif buatan kolonial. Petulai adalah pembagian sosial yang lahir dari dalam masyarakat Rejang sendiri, berakar pada tradisi lisan dan sejarah bersama yang telah berlangsung ratusan tahun .
Keempat Petulai itu adalah: Bermani, Jurukalang, Selupu, dan Tubei (Tubai). Catatan tertulis tertua mengenai keempatnya tercantum dalam buku The History of Sumatra karya William Marsden yang diterbitkan tahun 1783 — saat Marsden menjabat sebagai Residen Inggris di Lais, Bengkulu. Dalam catatannya, Marsden menyebutkan keempat kelompok tersebut sebagai bagian utama dari masyarakat Rejang yang berdiri sendiri dan berbeda dari Melayu .
Asal-Usul: Renah Sekalawi dan Empat Biku
Menurut tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, tanah Rejang dulunya bernama Renah Sekalawi atau Pinang Belapis — wilayah yang kini dikenal sebagai Kabupaten Lebong . Pada masa lampau, masyarakat di sana hidup dalam kelompok-kelompok yang dipimpin oleh seorang Ajai (pemimpin adat). Sekitar abad ke-12 hingga ke-13, datanglah empat orang Biku (pendeta/pemimpin) ke Renah Sekalawi, yang konon berasal dari wilayah timur, dikaitkan dengan lingkungan Majapahit . Keempat Biku tersebut adalah:
- Biku Bermano — pendiri Petulai Bermani
- Biku Bembo — pendiri Petulai Jurukalang
- Biku Bejenggo — pendiri Petulai Selupu
- Biku Sepanjang Jiwo — pendiri Petulai Tubei
Kisah paling terkenal tentang lahirnya nama keempat petulai terikat pada peristiwa menebangnya Batang Benuang Sakti, pohon besar tempat bersemayam Siamang Putih yang diyakini menjadi sumber wabah penyakit yang menimpa penduduk Renah Sekalawi. Saat keempat kelompok bekerja sama menebang pohon sakti itu, masing-masing menunjukkan peran yang berbeda — dan dari peran itulah lahir nama petulai mereka :
- Tubei — dari kata berubeui-ubeui = berduyun-duyun, karena rombongan Biku Sepanjang Jiwo datang berduyun-duyun membantu
- Jurukalang — dari kata kalang = galang/penghadang, karena rombongan Biku Bembo membuat galang
- Selupu — dari kata berupeui-uoeui = bertumpuk-tumpuk, karena rombongan Biku Bejenggo menumpuk kayu
- Bermani — dari kata beram manis = tapai manis, karena rombongan Biku Bermano menyuguhkan makanan manis
Setelah pohon itu roboh dan siamang putih lenyap, wabah pun berhenti. Maka keempat kelompok itu bersepakat menetap di Renah Sekalawi, dan dari peristiwa inilah lahir istilah Rejang Pat Petulai — Rejang Empat Pintu Besar .
Keempat Petulai dan Wilayah Persebarannya
Setiap petulai memiliki pusat permukiman dan karakteristik tersendiri:
1. Petulai Bermani
Didirikan oleh Biku Bermano, dengan pusat permukiman awal di Pelabai, Kabupaten Lebong. Bermani dikenal sebagai petulai yang memegang peran penting dalam upacara-upacara adat besar, terutama yang berkaitan dengan kesakralan tanah dan air. Dari Lebong, keturunan Bermani menyebar ke arah selatan hingga wilayah yang kini menjadi Kabupaten Kepahiang.
2. Petulai Jurukalang
Didirikan oleh Biku Bembo, dengan pusat permukiman di Topos — yang diakui sebagai desa tertua di Tanah Rejang. Dari Topos, keturunan Jurukalang menyebar sangat luas: ke Teluk Diyen, Lubuk Puding, Lais, Musi, hingga perbatasan Bengkulu dan Sumatera Selatan. Jurukalang dikenal sebagai petulai dengan wilayah persebaran terluas dan memiliki tradisi kepemimpinan adat yang kuat.
3. Petulai Selupu
Didirikan oleh Biku Bejenggo, dengan pusat permukiman di wilayah yang kini menjadi Curup dan sekitarnya. Selupu berkembang menjadi salah satu kelompok masyarakat Rejang yang paling padat penduduknya, dikenal dengan kemampuan beradaptasi dan perdagangan, sehingga wilayah mereka menjadi pusat pertemuan berbagai kelompok masyarakat.
4. Petulai Tubei
Didirikan oleh Biku Sepanjang Jiwo, dengan pusat permukiman di Lebong bagian hulu. Tubei dianggap sebagai petulai yang paling lama menetap di lembah Renah Sekalawi dan dikenal sebagai penjaga tradisi dan adat yang paling murni, karena wilayah pemukiman mereka relatif lebih terisolasi dibandingkan petulai lain.
Sistem Petulai Lebih Tua dari Marga Belanda
Hal yang sangat penting untuk dipahami adalah bahwa sistem Petulai jauh lebih tua daripada sistem marga yang diperkenalkan oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1861 . Marga adalah pembagian administratif buatan kekuasaan asing. Petulai adalah pembagian sosial yang lahir dari pengalaman bersama, dari kisah Benuang Sakti, dari kesepakatan empat kelompok yang bekerja sama menyelamatkan tanah mereka dari bencana. Di mata adat, keempat petulai ini setara — tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah. Mereka adalah empat pintu besar yang sama-sama melahirkan satu bangsa .
Penutup: Sejarah yang Harus Tetap Hidup
Hingga hari ini, setiap orang Rejang tetap mengenal dirinya melalui salah satu dari empat petulai tersebut. Saat seseorang menyebut marga-nya, di balik itu tersembunyi identitas petulai yang lebih tua dan lebih mendasar. Namun sayangnya, semakin ke sini, pengetahuan tentang asal-usul Empat Petulai semakin jarang didengar di kalangan generasi muda. Banyak yang hafal nama marga, namun lupa dari mana marga itu berasal.
Sejarah Rejang Empat Petulai bukanlah kisah dongeng untuk dihibur semata. Ia adalah bukti bahwa di tanah Bengkulu ini, sudah ada peradaban yang teratur, yang memiliki pemimpin sendiri, hukum sendiri, dan tatanan sosial sendiri — jauh sebelum bendera asing berkibar di atas Bukit Barisan. Menghafal nama keempat petulai, mengetahui kisah Benuang Sakti, dan memahami makna kesetaraan di antara keempatnya adalah cara paling sederhana namun paling bermakna untuk menghormati leluhur.
Karena sebelum ada marga, sebelum ada kabupaten, sebelum ada provinsi — sudah ada Rejang Empat Petulai. Dan itu adalah identitas yang tidak boleh hilang.
Sumber:
1. Wikipedia, Petulai
2. Wikipedia, Kerajaan Pat Petulai
3. Wikipedia, Orang Rejang
4. William Marsden, The History of Sumatra (1783) — catatan tertua mengenai Empat Petulai
5. Jurnal IAIN Curup, Akulturasi Islam dan Budaya Lokal: Kajian Historis Dakwah Islam di Wilayah Rejang
6. ProfilPelajar.com, Petulai Jurukalang
7. Taneak Jang (Rejang Land), Sejarah Asal Usul Komunitas Adat Rejang
8. Pemerintah Kabupaten Rejang Lebong, Sejarah Rejang Lebong
9. Sahabat Rakyat Bengkulu, Sejarah Rejang dalam Perspektif Tokoh: Buya Endar
#Lebong #RejangEmpatPetulai #Bermani #Jurukalang #Selupu #Tubei #SejarahBudaya #RenahSekalawi #SahabatRakyat










