Anak Lapas Rayakan Hari Anak Nasional dengan Mengaji, Melukis dan Ngeband…

Bermusik menjadi salah satu bakat yang dibina di LPKA/Foto: rri.co.id

BENGKULU, sahabatrakyat.com Mengaji, melukis dan ngeband serta sejumlah aksi lainnya menjadi suguhan anak-anak binaan Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas IIB Bengkulu dalam memperingati Hari Anak Nasional (HAN) Tahun 2020 yang digelar Rabu (29/07/2020).

HAN memang jatuh tiap tanggal 23 Juli. Namun karena berbagai kendala teknis, seperti diakui Kepala LPKA Sudirman Jaya, puncak peringatan HAN di LPKA itu baru bisa digelar hari ini. Ia mengatakan, pihaknya sengaja mengundang orang tua agar mereka juga bisa melihat perubahan dan perkembangan anak-anak selama di LPKA.

“Di sini anak-anak memang diberi program pendidikan Paket C; kerohanian; kesenian, baik seni lukis maupun musik; dan lainnya. Ini semua untuk mempersiapkan anak-anak supaya bisa menjadi lebih baik, supaya pola pikirnya berubah lebih baik,” kata Sudirman Jaya.

Selain melukis dan pembagian ijazah paket C untuk 10 anak, Sudirman menambahkan, beberapa perubahan yang sudah ditunjukkan anak didik selama di LPKA adalah lebih pandai mengaji, sudah rajin shalat berjamaah, rutin senam pagi dan terampil bermusik.

Oleh sebab itu, Sudirman berharap dukungan semua pihak, khususnya orang tua, agar nantinya bisa mempertahankan apa yang sudah dicapai anak-anaknya selama dalam masa pembinaan di LPKA. Sehingga mereka bisa berbaur dan kembali menjalani kehidupan bersama masyarakat.

“Karena itu, peringatan Hari Anak Nasional di masa pandemi ini adalah momentum untuk meningkatkan kepedulian kepada anak, khsususnya orang tua, keluarga, masyarakat, dunia usaja, media massa dan pemerintah,” papar Sudirman dalam sambutannya.

Sementara Kepala Kantor Kementerian Hukum dan HAM Provinsi Bengkulu, Iman Jauhari, menilai anak didik yang ada di Lapas Anak saat ini sejatinya adalah mereka yang mendapat musibah atau kecelakaan.

“Yang namanya musibah atau kecelakaan itu adalah sesuatu yang tidak diniatkan, sesuatu yang tidak direncanakan. Ini adalah kesalahan kita semua,” ujar Iman.

Iman mengatakan, kewajiban pengawasan itu adalah di orang tua, sekolah, dan masyarakat. Orang tua, jelasnya, wajib meningkatkan pengawasan. Sementara sekolah punya waktu delapan jam untuk mengawasi tingkah dan tindak-tanduk anak selama di sekolah. Baru lingkungan sekitar.

“Kalau kita melihat anak-anak melakukan hal-hal yang melanggar aturan, melanggar hukum, agar ditegur dengan santun. Diperlakukan seperti anak kita sendiri di rumah. InshaAllah, bila itu dilakukan maka anak kita akan mengikuti apa yang diimbau,” ujar Iman.

Sebaliknya, timpal Iman, apabila yang dipakai adalah pendidikan yang sangat kasar, tidak manusiawi, maka hasilnya juga tidak akan maksimal. “Mungkin anak bisa lari atau tidak akan ikuti apa yang kita hendaki.”

Lebih jauh Iman mengingatkan pesatnya kemajuan informasi teknologi saat ini yang perlu mendapat perhatian serius orang tua. Iman menekankan pentingnya orang tua mengikuti perubahan dan kemajuan demi mengimbangi perubahan perilaku anak.

Menurut dia, kecenderungan pelanggaran yang melibatkan usia anak saat ini adalah tindakan pelecehan dan kriminalitas. Perilaku negatif itu juga akibat ketidak-mampuan anak memilah dan memilih mana yang baik dan bermanfaat dengan yang hanya untuk kesenangan belaka.

“Kepada anak-anak, gunakan hape untuk pendidikan, cari ilmu yang mungkin belum dapat di sekolah. Belum waktunya kalian akses yg bukan-bukan. Nanti pasti akan sampai masanya. Sudah kodratnya,” pesan Iman.


Sumber: rri.co.id