Ditekan Covid-19, Ekonomi Bengkulu Melambat

BENGKULU, sahabatrakyat.com Pukulan pandemi Covid-19 terhadap ekonomi memang tak terhindarkan. Ekonomi akan sulit tumbuh bahkan akan mengalami perlambatan di tahun ini, khususnya, juga sudah diprediksi jauh hari.

Bagi Provinsi Bengkulu, selama triwulan keempat tahun ini pertumbuhan ekonomi tercatat hanya di angka 3,82 persen. Meski melambat, angka itu masih di atas pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 2,97 persen.

Deputi Direktur Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu, Joni Marsius, menjelaskan, perlambatan lebih dalam tertahan oleh kinerja ekspor yang mengalami pertumbuhan relatif tinggi di triwulan I 2020 yang mampu tumbuh 10,7 persen serta masih tumbuhnya belanja pemerintah.

Sementara itu, konsumsi dan investasi mengalami perlambatan. Konsumsi tumbuh 4,18% lebih rendah dibandingkan TW-IV 2019 sebesar 4,92%, sementara investasi tumbuh 1,05 %.

“Dari sisi lapangan usaha, mayoritas lapangan usaha mengalami perlambatan meski tertahan oleh masih tumbuhnya sektor pertanian yang tumbuh dari 3,08% di TW-IV 2019 menjadi 3,48% di TW-I 2020,” urai Joni dalam rilisnya tertanggal 11 Mei 2020.

Joni menambahkan, sejalan dengan melambatnya perekonomian dan menurunnya permintaan, barang dan jasa mengalami deflasi.

Tercatat deflasi di bulan Maret dan April sebesar 0,38 persen (mtm) dan 0,02 persen (mtm).

Dengan demikian, inflasi kumulatif (ytd) sampai dengan bulan April 2020 adalah sebesar – 0,14% (ytd) atau 1,97 % (yoy).

Berdasarkan kelompoknya, deflasi bersumber dari kelompok bahan makanan dan minuman serta tembakau seiring dengan menurunnya permintaan dan terbatasnya aktivitas masyarakat.

Dengan pencapaian tersebut, diperkirakan inflasi akan berada di batas bawah perkiraan awal tahun.

Meski demikian, kata Joni, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Bengkulu, pemerintah, instansi terkait yang tergabung dalam TPID serta Satgas Pangan akan terus memantau pergerakan harga maupun pasokan pangan untuk memasti kan ketersediaan barang dan jasa di Provinsi Bengkulu.

“Sampai dengan saat ini, pasokan dan ketersediaan barang dan jasa relatif mencukupi termasuk dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat selama physical distancing,” jelas Joni.

Kinerja Perbankan

Terkait kinerja perbankan di Bengkulu, BI melihat masih relatif terjaga. Sampai dengan bulan Februari 2020, pertumbuhan kredit berada pada capaian 13,44 persen di atas rata-rata pertumbuhan kredit nasional didukung oleh pertumbuhan kredit UMKM yang mampu tumbuh 10,75 persen.

Meski demikian, pengumpulan dana pihak ketiga masih mengalami pertumbuhan negatif yakni -1,42 persen, walau lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan TW-IV 2019 sebesar -1,66 persen.

Dengan perkembangan ini, rasio intermediasi (loan fo deposit ratio) perbankan di Provinsi Bengkulu sebesar 243 persen. Tingginya angka LDR ini mengindikasikan tingginya sumber pembiayaan kredit/pembiayaan perbankan di Bengkulu yang berasal dari perbankan di luar wilayah Provinsi Bengkulu.

“Berkenaan dengan ini, perlu dioptimalkan sumber-sumber pembiayaan perbankan yang berasal dari Provinsi Bengkulu termasuk didalamnya melalui program-program inklusi keuangan. Meski demikian, risiko kredit perbankan masih tercatat rendah yakni dibawah 2 persen,” kata Joni.


Pewarta: Jean Freire