Korban Mafia Tanah di Kota Bengkulu Bertambah

Konferensi Pers Polda Bengkulu atas perkara mafia tanah di Mapolda Bengkulu belum lama ini/Foto: rri.co.id

BENGKULU, sahabatrakyat.com– Kasus dugaan pemalsuan dokumen tanah yang kini ditangani Polda Bengkulu terus dikembangkan. Dugaan ada mafia tanah ini tampaknya bukan isapan jempol belaka sebab korban kini bertambah.

Kapolda Bengkulu Irjen Pol Teguh Sarwono melalui Direskrimum Kombes Pol Teddy Suhendyawan mengatakan, pelaku yang dilaporkan korban terbaru ke Polda Bengkulu adalah pelaku yang sudah diamankan.

“Yang terbaru lokasinya di Kandang Limun. Pelakunya sama,” ujar Kombes Pol Teddy kepada wartawan, Kamis (18/2) di Polda Bengkulu. Teddy menambahkan, pelaku bisa saja bertambah dari hasil pengembangan.

Dikatakan Teddy, pihaknya juga akan meminta keterangan BPN sebagai pihak yang punya kewenangan dalam proses penerbitan akte atau sertifikat tanah atau lahan.

Teddy mengatakan, dengan perkembangan perkara tersebut ia mempersilakan siapa saja yang merasa dirugikan untuk melapor ke polisi. Ia juga mengimbau agar masyarakat terlebih dulu memastikan keabsahan dokumen lahan atau tanah sebelum membelinya.

“Kita imbau waspada terhadap upaya-upaya mengelabui. Jadi kalau ada informasi dicek dulu. Kalau ada kapling, cek dulu ke BPN supaya ada kepastian legalitasnya atau status lahan yang akan dibeli,” ujarnya.

Sebelumnya, Direktorat Reskrimum Polda Bengkulu telah menangkap empat orang tersangka mafia tanah yang memalsukan dokumen. Mereka adalah SU (54), SN (38), UP, dan SN. Tersangka UP dan SN sudah ditahan lebih dulu di Polres Bengkulu

Modus operandi yang dilakukan, para tersangka ini mendatangi TKP yang berada di Jalan Air Sebakul-Betungan atau tak jauh dari kawasan pintu tol Bengkulu-Sumsel lalu melakukan pengerusakan tanaman dan lahan seluas 1 hektare dengan cara menggunakan bulldozer.

Setelah selesai pematangan lahan, lalu para tersangka mengkapling menjadi 42 kapling. Atas hal itulah korban Inas Belly selaku pemilik tanah tidak terima dan melaporkannya ke Kantor Kelurahan Betungan hingga terjadi mediasi. Pada saat itulah, tersangka menunjukkan surat kepemilikkan tanah tersebut.

Setelah dipelajari, terdapat beberapa kejanggalan yang diduga tidak sesuai. Seperti tertempel materai yang tidak sesuai dengan tahun terbitnya serta asal usul tanahnya tidak jelas. Dari pendalaman hingga akhirnya penyidik kita menetapkan empat tersangka ini.

Diungkapkan Teddy, dengan melihat modus operandi yang dilakukan mereka menduga termasuk dalam kategori mafia tanah. Maka dari itu, pihaknya akan terus mendalami keterlibatan mereka dalam kasus-kasus tanah lainnya.

Atas perbutannya para tersangka dijerat dengan pasal 170 KUHP dan pasal 385 KUHP JO pasal 54, 56 KUHP.


Sumber: rri.co.id