Minim Pengawasan dan Internet Picu Asusila di Bengkulu

Ilustrasi

BENGKULU, sahabatrakyat.com– Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Bengkulu dan Polres jajaran menerima 158 laporan kasus asusila selama periode Januari sampai Oktober 2020.

Direktur Reserse Kriminal Umum, Kombes Pol Teddy Suhendyawan Syarif melalui Kanit PPA, AKP Nurul Huda SH mengatakan, dari ratusan kasus asusila tersebut rata-rata adalah asusila berkaitan dengan persetubuhan dan pencabulan.

Pelaku tindak pidana asusila terhadap anak-anak kebanyakan adalah orang terdekat, mulai dari tetangga, keluarga, hubungan pacaran bahkan orang tua korban.

Modus yang digunakan juga beragam. Mulai bujuk rayu hingga pengancaman jika tidak menuruti permintaan pelaku.

Kasus asusila yang kerap terjadi di Bengkulu kebanyakan karena minimnya pengawasan orang tua dan terlalu bebas mengakses internet.

Karena jika tidak diawasi menggunakan internet, bebas mengakses situs porno. Dari situs porno bisa memicu orang melakukan tindak pidana asusila.

“Jangan terlalu membebaskan anak mengakses internet, jika dibebaskan mereka bisa mengakses situs porno. Pengawasan juga diperlukan, dalam hal ini memberikan arahan yang positif dan menanamkan ilmu agama kepada anak,” imbuhnya.

Sementara itu, berdasar rekapitulasi menurut wilayah, Polres Bengkulu paling banyak menerima laporan asusila, yakni 41 laporan. Disusul Kepahiang 20 laporan, Unit PPA Dit Reskrimum 19 laporan, Polres Rejang Lebong 18 laporan.

Berikut: Polres Bengkulu Utara 16 laporan, Polres Bengkulu Tengah 8 laporan, Polres Bengkulu Selatan 8 laporan, Polres Kaur 7 laporan, Polres Lebong 4 laporan dan Polres Mukomuko 4 laporan.


Pewarta: Jean Freire