Panen Sawit, 40 Petani di Mukomuko Ditangkap Aparat

Puluhan petani di Mukomuko diamankan aparat saat memanen sawit/ist

MUKOMUKO, sahabatrakyat.com– Konflik antara perusahaan perkebunan dengan warga kembali pecah. Kali ini di Kabupaten Mukomuko. Sedikitnya 40 orang warga ditahan Polres setempat. Mereka diamankan dengan dugaan pencurian, Kamis (12/5/2022).

Zelig Ilham Hamka, Advokat Akar Foundation, lembaga yang menjadi pendamping petani, dalam keterangan persnya menjelaskan, sejumlah orang yang ditangkap merupakan anggota Perkumpulan Petani Pejuang Bumi Sejahtera (PPPBS) Kecamatan Malin Deman.

“Mereka sedang melakukan aktivitas seperti biasa, memanen buah sawit di lahan yang mereka garap. Lahan yang mereka garap adalah lahan yang saat ini masih dalam upaya penyelesaian konflik dengan perusahaan PT Daria Dharma Pratama (DDP),” terang Zelig.

Zelig menguraikan, anggota PPPBS melakukan aktivitas panen secara bersamaan sekitar pukul 10.00 WIB. Namun disaat bersamaan pihak perusahaan juga sedang melakukan aktivitas yang sama di sekitar lahan garapan anggota.

Sekitar 2 jam aktivitas panen dilakukan, pihak aparat kepolisian (BRIMOB) yang berjumlah sekitar 40 orang, mengepung anggota PPPBS di lahan anggota yang bernama Zarkawi (Warga desa Talang Arah).

“Diduga, anggota BRIMOB melakukan tindakan represif terhadap anggota PPPBS dan masyarakat di sekitar lahan (yang bahkan bukan anggota) dengan melakukan penangkapan dan pemukulan. Sejauh ini, baru terkonfirmasi 1 orang yang mengalami luka robek di bagian kepala akibat diserang oleh aparat. Dan korban kriminalisasi tersebut bernama Hardoni; warga desa Talang Arah Kecamatan Malin Deman,” kata Zelig.

Zelig menambahkan, diduga 34 orang anggota PPPBS ditelanjangi setengah badan, tangan mereka diikat menggunakan tali plastik dan HP mereka disita. Sebanyak 34 orang ini kemudian dibawa ke Polres Mukomuko Selatan pada sekitar pukul 4 sore.

Beberapa nama anggota PPPBS yang ditahan dan yang berhasil di kumpulkan sebagai berikut: Sono, Ahmad Laka, Lobian, Endra, Aziz, Ramli, Abu, Harmoko, Herman, Anas, Idris, Amar, Iman, Sahrudin, Ismail, Baihaki, Wahyu, Endi, Harbain, Ahmad Tanggit, Ai Zarkawi, Beni Riyadi, Amirul, Iskandar, Saryani, Ikin dan Saleh.

“Dan informasi yang kami dapatkan hinggal pukul 20.00 WIB tadi, beberapa anggota PPPBS sudah menjalani proses BAP tanpa pendamping dan atau kuasa hukum,” imbuh dia.

Dari keterangan masyarakat setempat, lanjut Zelig, aparat kepolisian tersebut sudah lama menjaga wilayah konsesi perusahaan, yakni sejak awal bulan Januari. Selama itu pula belum pernah ada koordinasi yang dilakukan oleh aparat kepolisian kepada pemerintahan desa setempat untuk memberikan pemberitahuan terkait agenda aparat kepolisian melakukan operasi di sekitar wilayah desa dan Kecamatan.

“Dan sejauh ini juga belum ada respon dari pemerintah daerah untuk melindungi mereka yang ditahan,” tambahnya.

Zelig mengaku tiba di Polres Mukomuko Selatan pada hari Jumat 13 Mei 2022 pukul 02.00 WIB dini hari tadi. Sebagai kuasa hukum ia mengaku timnya sempat dihambat untuk mendampingi proses pemeriksaan yang dijalankan oleh anggota PPPBS.

“Saat itu ada proses BAP 3 orang anggota PPPBS. Setelah proses pemeriksaan dan BAP selesai, satu orang Advokat ALO baru dapat bertemu dengan Sekjen PPPBS, saudara Lobian Angrianto dengan dikawal 5 orang aparat kepolisian di ruang tahanan,” ujarnya.

Kata Zelig, dari informasi Lobian, anggota dan masyarakat yang diamankan berjumlah 40 orang. Hingga Kamis (12/5/2022) pukul 02.26 WIB, empat puluh orang yang diamankan tersebut masih menjadi saksi.

“Kasat Reskrim menyatakan bahwa penahanan 40 orang anggota PPPBS dilakukan karena OTT dengan dugaan pasal 362 KUHP; Pencurian,” sebutnya.

Zelig menjelaskan, PPPBS merupakan asosiasi petani penggarap di Kecamatan Malin Deman, Kabupaten Mukomuko. PPPBS ini berbadan hukum NOMOR AHU-0013151.AH.01.07.TAHUN 2021.

Jumlah anggota petani yang tergabung dalam PPPBS ini berjumlah 187 orang yang berasal dari 7 desa; Talang Arah, Air Merah, Talang Baru, Lubuk Talang, Serami Baru, Semambang Makmur dan Serami Baru.

Perkumpulan ini dibuat berdasarkan kepentingan bersama untuk mendapatkan kembali hak dan kedaulatan mereka terhadap lahannya.

“Saat ini PPPBS sedang melakukan tahap pengusulan program Redistribusi TORA terhadap lahan HGU terlantar PT Bina Bumi Sejahtera yang di kuasai secara fisik oleh PT Dharia Darma Pratama,” tandasnya.

Polres Mukomuko belum memberikan keterangan resmi terkait penahanan warga. Sementara Kapolda Bengkulu Irjen Pol Agung Wicaksono kepada wartawan mengakui sudah menerima laporan terkait peristiwa itu dari Kapolres Mukomuko. “Iya, sedang ditangani. Lagi diperiksa,” singkatnya. (Sumitra Naibaho)