Proyek Irigasi Tak Kunjung Tuntas, Seluma Bisa Terancam Krisis Pangan

Effendi

SELUMA, sahabatrakyat.com– Proyek rehabilitasi saluran irigasi air Bendungan Seluma
yang tak kunjung selesai lalu diputuskan untuk memperpanjang waktu pengeringan
dipastikan berdampak langsung terhadap musim tanam dan nasib petani bahkan
ketersediaan stok pangan di Kabupaten Seluma.

Bagaimana tidak? Ada ratusan petani yang menggantungkan nasib dan hidupnya dari
ribuan hektar sawah yang mengandalkan pengairan dari saluran irigasi tersebut. Jika
terus dikeringkan, maka petani tak bisa turun tanam. Tak menanam sama artinya
terancam tak makan. Bahkan Seluma bisa terancam krisis pangan karena ribuan hektar
lahan sawah yang tak terairi ini merupakan lumbung padi bumi Serasan Seijoan.

Padahal seperti sudah disepakati antara pihak kontraktor dengan para ketua
perkumpulan petani pengguna air (KP3A) beberapa waktu lalu, seharusnya saluran
irigasi itu sudah bisa dibuka atau diairi pada awal Juni 2021. Namun lantaran
progres pekerjaan belum memenuhi target, air irigiasi rencananya baru bisa dialirkan
akhir Juli.

Effendi, ketua KP3A Bina Usaha Desa Tangga Batu, Kecamatan Seluma Selatan,
mengatakan bahwa petani bukannya tak senang dengan rehabilitasi itu. Justru mereka
sangat mendukung. Itu sebabnya mereka bersedia dilakukan pengeringan sebagaimana
diputuskan dalam rapat pertama.

“Akan tetapi yang saya sayangkan adalah mediasi rapat perpanjangan pengeringan
tersebut. Saya selaku ketua KP3A Desa Tangga Batu Seluma Selatan kecewa ada
perpanjangan pengeringan, sementara masyarakat Seluma Selatan sangat membutukan air tersebut untuk mengolah lahan sawah kembali,” cetus Effendi, Minggu (23/5/2021).

Ia menambahkan, kesepakatan yang diambil dalam rapat mediasi kedua itu tidak
konsisten dan terkesan pilih-pilih. Sebab seharusnya seluruh anggota KP3A dan
masyarakat yang hadir pada forum rapat awal atau pertama kali tetap dilibatkan
kembali.

“Kalau seperti ini berarti setiap kontraktor yang dipercayakan oleh Kementerian PUPR
melalui Balai Wilayah Sungai Sumatera 7 tidak konsisten terhadap pekerjaan. Kalau
begini pihak kontraktor hanya mengambil keuntungan bagi perusahaan saja, tapi tidak
memikirkan nasib petani kecil di Seluma,” kata Effendi.

Karena itu, Effendi menilai keputusan perpanjangan pengeringan itu sama saja membuat
malapetaka bagi petani sawah karena belum bisa memanfaatkan lahan untuk dihasilkan
dan ditanami padi. “Maka petani, masyarakat Seluma terancam kekurangan stok pangan
dan kehilangan penghasilan,” ungkap Pendi, masyarakat Seluma Selatan.

Diketahui, proyek rehabilitasi jaringan irigasi di Air Seluma ini merupakan kegiatan
dibawah naungan Kementerian PUPR Dirjen Sumber Daya Air SNVT PJPA Sumatera VII
Provinsi Bengkulu. Pelaksana proyek PT Karya Utama Cipta dengan nilai proyek lebih
dari Rp 18 milyar tahun anggaran 2021.

Berdasarkan papan mereknya, pekerjaan ini sudah dimulai sejak 27 Oktober 2020. Namun
hingga Mei 2021 pekerjaan tersebut belum juga kelar. Kalau dihitung progres pekerjaan baru mencapai kisaran 45-50 % saja. Sementara sudah mencapi 7 bulan kerja atau 210 hari.

“Seharusnya pekerjaan tersebut sudah mencapai 60-75% kalau sistem pekerjaan dikelola
dengan serius. Jangan mengorbankan petani hanya untuk meraih keuntungan sepihak,”
ungkap Effendi.

Sayangnya, hingga berita ini akan ditayangkan, pihak rekanan atau kontraktor belum
bisa dikonfirmasi. Bahkan saat dohubungi ke nomor kontak atau selulurnya, pelaksana
proyek tidak memberi respon atau menjawab.

Sebelumnya, Pengamat Balai Wilayah Sungai Sumatera 7 Bendungan Air Seluma, Alpian Junaidi SE kepada sahabatrakyat.com di ruang kerjanya, Jumat (21/5/2021) siang mengatakan perpanjangan pengeringan sudah diputuskan dalam rapat bersama sekitar 50 ketua Kelompok P3A dan kepala desa di aula Kantor Perwakilan Wilayah Bendungan Seluma.

Alpian menjelaskan keputusan awal pengeringan memang ditetapkan hingga akhir Mei 2021 sehingga air bisa dialirkan awal Juni. Namun pekerjaan rehabilitas saluran irigasi tersebut hingga akhir Mei nanti dipastikan belum akan selesai sehingga perpanjangan harus dilakukan.

“Karena progres proyek baru sekitar 65 persen. Diperkirakan dengan diperpanjang hingga Juli mendatang pekerjaan saluran irigasi sudah mencapai 100 persen sehingga pada awal Agustus 2021 air irigasi Seluma sudah bisa dialirkan kembali,” kata Alpian Junaidi.


Pewarta: Sukardianto