Rampas Gelang Emas Seorang Ibu Tuna Netra, Pelaku Digelandang Anak Korban ke Kantor Polisi

Polres Seluma melalui Polsek SAM merilis kasus perampasan gelang emas seorang ibu tuna netra/Foto: Anto-sahabatrakyat.com

SELUMA, sahabatrakyat.com– Aktivitas nongkrong sekelompok anak muda di sebuah warung di Desa Padang Peri, Kecamatan Semidang Alas Maras, Seluma terpaksa berurusan dengan polisi setelah seorang di antara mereka berulah: merampas gelang emas milik si empunya warung, seorang ibu yang tuna netra.

Pelaku berinisial We (20 tahun) warga Desa Muara Timput, Kecamatan Semidang Alas Maras (SAM) tak bisa mengelak karena anak korban bernama Mahudi (35 tahun) mengendus perbuatannya itu.

Semula We memang mencoba berkilah. Tapi Mahudi yang melihat We pergi ke arah belakang warungnya itu tak mau percaya begitu saja. Setelah berkali-kali didesak, We akhirnya mengakui perbuatannya. Bahkan gelang emas milik ibu Mahudi yang dia sembunyikan di dalam saku pun dia serahkan kembali ke Mahudi.

Kapolres Seluma AKBP Swittanto Prasetyo, S.IK, melalui Kapolsek SAM Iptu Frengki Sirait S.H., mengatakan Mahudi melapor sekaligus membawa pelaku ke kantor polisi pada Selasa (13/4/2021) malam. Ia juga membawa serta BB gelang emas 95 persen seberat 6 gram.

Kapolsek Iptu Frengki menjelaskan berdasarkan keterangan pelapor dan saksi, peristiwa perampasan tersebut terjadi sekitar pukul 21:00.

Saat itu We dan tiga rekannya sengaja mampir ke warung setelah sebelumnya nongkrong di pinggir jalan Pantai Ancol Desa Padang Bakung dari mulai pukul 14.20 sampai pukul 21.30.

Terungkapnya perbuatan We setelah pelapor mendengar ibunya mengomel di dalam kamar. Setelah dihampiri si ibu bilang mengapa kalungnya tidak dirampas sekalian. Sadar dengan apa yang menimpa sang ibu, Mahudi langsung mendatangi pelaku dan teman-temannya yang masih nongkrong di situ.

“Setelah berulang kali ditanya pelapor, akhirnya pelaku mengakuinya dan mengeluarkan perhiasan berupa gelang emas milik ibu pelapor tersebut dari dalam saku celana terlapor dalam kondisi gelang tersebut keadaan rusak/putus akibat ditarik paksa oleh pelaku,” sampai Iptu Frengki saat konferensi pers, Jumat (16/4/2021).

Karena perbuatannya, kata Frengki, pelaku harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Dia dijerat Pasal 365 ayat 1, ayat 2 ke ( 1 ) dengan pemberatan, pencurian dengan kekerasan, dengan ancaman kurungan paling lama sembilan tahun.