Sengketa Lahan Antar Warga di Seluma Diproses Polisi dan Pengadilan

Sasyono

SELUMA, sahabatrakyat.com- Sengketa lahan antar warga kini tengah diproses aparat penegak hukum di wilayah Kabupaten Seluma. Masing-masing oleh Pengadilan Negeri Tais dan Polres Seluma.

Perkaranya terjadi di Desa Padang Merbau, Kecamatan Seluma Selatan. Mereka yang bersengketa masing-masing adalah RS versus BL. RS asal Desa Tangga Batu. Sedang BL asal Desa Padang Genting. Luas tanah yang disengketakan sekitar 1/4 hektar.

Kepada sahabatrakyat.com, RS mengatakan persoalan ini terjadi sejak 2014 lalu. Berawal saat dirinya menghampiri dan menegur BL guna mempertanyakan apa dasar BL mendirikan tempat penampungan jual beli tandan sawit di lahannya.

Namun, kata RS, bukan mendapat penjelasan. BL malah emosi dan marah. Bahkan memburunya pakai senjata yang dia sebut tojok sawit.

“Waktu itu saya lari menghindar dan memilih melaporkan masalahnya ke Kades Padang Merbau supaya dimediasi,” kata RS.

Laporan Sasyono ke Polres Seluma

Permintaan RS diakomodir Kepala Desa Padang Merbau dengan mengundang para pihak hadir di Balai Desa pada tanggal 13 Juni 2014. Hanya saja BL tidak hadir.

“Dikarenakan saudara BL tidak hadir, maka Kepala Desa Padang Merbau memutuskan untuk dilanjutkan ke pihak kepolisian Polres Seluma. Dengan surat pengantar Kades saya melapor ke Polres Seluma tanggal 22 Juni 2014. Namun tidak ada tindak lanjut nya,” ungkap RS.

Setelah bertahun-tahun tak ada penyelesaian, konflik kedua pihak kembali memuncak. Kali ini (Maret 2021) melibatkan anak RS bernama Sasyono dengan ayah BL berinisial RJ.

Sasyono (Sas) juga mengaku diancam RJ. “Saat itu saya sedang membuat drainase, pembuangan air di tanah hak miliknya orang tua saya. Kemudian saudara RJ mengancam saya dengan menggunakan senjata parang dan akan membunuh saya kalau saya masih mengerjakan drainase tersebut,” kata Sas.

Berita acara proses mediasi

Perkara kedua ini juga tak menemukan kesepakatan. Dalam musyawarah desa masing-masing pihak tidak sepakat dengan keputusan yang disampaikan dalam mediasi tertanggal 9 Maret 2021 di Balai Desa Padang Merbau. RJ bahkan menolak keras dibilang telah mengancam Sas.

Lagi-lagi sengketa dua keluarga ini nyaris menjurus kekerasan. Kejadian ketiga malah melibatkan istri RS bernama UM.

“Saat itu istri saya hendak ke kebun sawit untuk mengecek buah sawit apa sudah layak dipanen atau belum. Kemudian istri saya melihat ada bangunan baru yaitu kandang sapi di lokasi tanah saya,” kata RS.

“Kemudian saudara RJ mengejar saya dengan mengunakan parang sembari bekata “aku tebas kaba” dan saya pun berlari untuk menyelamatkan diri,” ungkap UM.

Sas mengatakan, kasus pengancaman dan penyerobotan tanah yang dialami keluarganya hingga saat ini belum tuntas.

Surat wasiat kepemilikan tanah keluarga Sasyono

Hal tersebut dibenarkan oleh perangkat Desa Padang Genting. Kepala Dusun I Haidil mengatakan bahwa pihak desa sudah melakukan usaha untuk menyelesaikan gejolak dan sengketa antara BL, selaku warga Desa Padang Genting dan Sas, warga Desa Tangga Batu.

Namun sudah tiga kali diadakan mediasi tidak menemukan kesepakatan. Sehingga Sas kembali melaporkan persoalan penyerobotan dan pengancaman ke Polres Seluma per 1 April 2021.

“Setelah laporan saya masukkan ke Polres Seluma dan saya sudah dipanggil untuk dimintai keterangan pelapor, tiba-tiba Pengadilan Negeri Tais menyampaikan surat panggilan tergugat nomor 9/Pdt/G/2021/PN untuk menghadap sidang Pengadilan Negeri Tais pada hari Senin 19 April 2021,” ungkap Sas.

Sas menyatakan proses surat gugatan yang disampaikan kepada orang tuanya itu tidak jelas: siapa yang tergugat? Dan siapa yang digugat?

“Karena kasus ini masih ditangani pihak Polres Seluma. Belum sampai di pihak Pengadilan. Saya heran dengan aturan hukum yang ada ini. Bagaimana aturan yang sebenarnya? Jangan sampai orang lemah hukum semakin dilemahkan,” jelas Sas.

Berdasarkan surat panggilan PN Tais yang disampaikan Jayadi Amd, jurusita pengganti, disebutkan bahwa pihak penggugat bernama Budi Effendi dkk. Sementara pihak tergugat disebut Ulma dkk.


Pewarta: Sukardianto