
BENGKULU UTARA, sahabatrakyat.com– Indonesia adalah negara yang terdiri dari beragam suku, adat, budaya dan agama. Kemajemukan itu adalah anugrah dan kekayaan bangsa tetapi sekaligus juga potensi konflik jika tak dirawat baik-baik.
Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Peduli Pendidikan Adat dan Kebudayaan (P2AK) Provinsi Bengkulu bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum (Dirjen Polpum) Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia menggelar seminar pelestarian adat, budaya dan agama mengantisipasi konflik SARA.
Mengangkat tema “Mari kita lestarikan adat, budaya dan agama supaya daerah kita terlepas dari konflik suku, ras dan agama (SARA) untuk menjaga ketentraman dan tali silaturahmi sesama manusia, seminar digelar di aula rumah makan sawah resto Desa Tajung Raman, Rabu (02/08/2017).

Kegiatan itu diikuti oleh sekitar 100 orang peserta dari berbagai unsur, yakni mahasiswa, dewan guru, tokoh adat, tokoh agama, ormas agama, ormas kekeluargaan, LSM, organisasi pemuda, dan forum kepala desa.
Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setda BU Drs, H. Setya Budiraharjo, MM kepada sahabatrakyat.com usai pembukaan, menyampaikan apresiasi pemkab kepada LSM dan penyelenggaraan seminar tersebut.
“Kita dari pemerintah daerah mendukung adanya LSM dan kegiatan seminar ini, dimana LSM bisa menjembatani pembangunan-pembangunan. Ke depan pemerintah daerah Bengkulu Utara ini jangan sampai tidak sinergi,” katanya.
“Harapan kita ke depan LSM bisa menjadi corong penggerak, membantu pemerintah untuk melaksanakan pembangunan di daerah, khususnya seperti adanya dana desa dan membangun kemasyarakatan di desa,” tambah Setya.

Kartika Mulia Sari, MA, kasi Fasilitas Kemitraan Organisasi Masyarakat Asing Dirjen Polpum Kemendagri, berharap sinergitas juga terjadi antara pemerintah daerah dengan pusat, termasuk dengan organisasi kemasyarakatan dalam mensukseskan tujuan pembangunan nasional.
“Pemerintah pusat berharap outputnya peran serta ormas secara aktif dalam membantu atau mewujudkan tujuan-tujuan nasional, diharapkan ormas lebih efektif langsung ke masyarakat untuk mensosialisasikan berbagai program dan kegiatan dari pemerintah,” papar Mulia.
Menurut dia, prioritas Direktorat Ormas saat ini adalah program kemitraan dan pemberdayaan, yaitu melakukan kegiatan kemitraan bersama organisasi kemasyarakatan dalam rangka mendukung program pembangunan.

Ketua DPP LSM P2AK Provinsi Bengkulu Ibnu Majah, mengatakan di Bengkulu Utara masalah SARA sangat sensitif. Oleh sebab itu kegiatan seminar yang diselenggarakan itu dapat mengantisipasi terjadinya konflik SARA.
“Adat dan budaya harus selalu kita kembangkan. Untuk memacu adat dan budaya yang ada di Kabupaten Bengkulu Utara, kami selalu berupaya untuk mengembangkan adat dan budaya bagaimanapun caranya dan juga jangan sampai terjadi konflik antar sesama,” kata dia.

“Adat dan budaya merupakan suatu bagian yang sangat penting untuk dilestarikan, banyak sekali manfaat yang dapat diperoleh dari melestarikan nilai-nilai adat dan budaya, salah satunya yaitu budaya sebagai perekat bangsa,” lanjut Ibnu Majah.

Adapun narasumber dalam kegiatan seminar ini adalah H.A. Samid, ketua BMA Bengkulu Utara yang memaparkan materi Peran Lembaga Adat untuk Pelestarian Adat, Budaya dan Agama Mengantisipasi Konflik Sara; Suryatono. R.H. S.Sos. MM, kasi Seni Budaya, Kemasyarakat dan Ekonomi Kesbangpol BU dengan materi Peran Pemerintah Dalam Pelestarian Adat, Budaya dan Agama mengantisifasi konflik SARA.
Berikut, Lettu Inf Azwar Pasi Intel Kodim 0423/BU dengan materi Cara Mengatasi Apabila Terjadi Konflik SARA; dan H. Ihwan Halidi, SH, S.Sos MM, dosen Unras (Pandangan Umum Pelestarian Adat, Budaya dan Agama Mengantisifasi Konflik SARA).
==========================
Penulis: MS FIRMAN (Advertorial)









