Dari Gubuk Derita di Lahan Tetangga, Seorang Ibu Berjuang Hidupi 3 Anaknya

Beridiri didepan rumah keluarga Asmawat, Trisno (17 tahun) yang merupakan anak Laki-laki Asmawati/Foto: sahabatrakyat.com-Aka

LEBONG, sahabatrakyat.com- Hujan deras menghujam sebuah hunian kecil yang lebih pantas disebut gubuk sore itu, Selasa (24/03/2020). Ya, sebuah gubuk berukuran 5×3 meter, beratap seng, berdinding pelepah bambu.

Gubuk yang dihuni empat nyawa itu berdiri paling rendah di tengah-tengah atau diapit dua rumah lainnya. Si tuan rumah, seorang ibu bernama Asmawati (53 tahun), sedang tak ada di tempat saat sahabatrakyat.com datang bertamu.

Ruang dapur seluas 1×3 meter disamp8ng pintu masuk

Mujur ada seorang anak lelakinya didampingi Eldawati (51 tahun), tetangga Asmawati, berkenan membukakan pintu. Asmawati sendiri pergi mengais rejeki. Hari itu ia ikut membantu memanen padi di wilayah Kecamatan Lebong Sakti.

Saat kaki melangkah masuk, sederet perkakas perabot dapur langsung menyambut. Ini dapur. Selangkah ke depan sudah masuk ruang kamar tidur. Tak ada jalan keluar masuk bagi sirkulasi udara.

Ruang tidur

“Untuk listrik langsung menyambung dari rumah kami. Kalau air mereka menggunakan air sungai Amen,” kata Eldawati.

Keluarga miskin ini tinggal di Desa Talang Ulu, Kecamatan Lebong Utara. Lokasinya di pinggir jalan. Sudah empat tahun terakhir ini Asmawati bersama 3 anaknya yang masih usia sekolah tinggal di situ.

Diceritakan, Asmawati dua kali gagal berumah tangga. Dari pernikahan itu ia dikaruniai enam anak. Tiga orang sudah menikah: Salma, Ier dan Karnolis.

Sementara yang tinggal bersamanya kini adalah Trisno (17 tahun), putus sekolah sejak kelas 4 SD; Sinta (14 tahun) sedang menempuh pendidikan sekolah menengah pertama; dan Rafa (6 tahun) menempuh pendidikan sekolah dasar.

Tetangga Asmawati, Eldawati (51 tahun)

“Dulu anak nomor empat bilang mau bantu cari penghidupan saja karena melihat ibunya sudah tidak sanggup membelikan perlengkapan sekolahnya,” ujar Asmawati saat didatangi empat jam kemudian.

Usai menyampaikan hasil upah kerjanya yang hari itu sebanyak 8 cupak padi atau senilai Rp45.000, Asmawati menyampaikan harapannya agar dua anaknya tak lagi sampai putus sekolah.

“Setidaknya bisa tamat SMA. Semuanya untuk anak-anak itulah, kalau anak-anak dapat bantuan sampai sekolah tinggi itu untuk mereka itulah,” tuturnya.

Asmawati (53 tahun) bersama anaknya, Rafa yang masih kelas 1 SD

Meskipun telah memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan sekapling tanah kosong di desa itu, Asmawati mengaku belum tersentuh bantuan sosial dari pemerintah.

“Bantuan belum karena belum ada yang datang mengurusnya. Dengar- dengar ada yang mau mengurus bedah rumah, tapi sudah lama tidak ada kabarnya lagi,” tandas Asmawati.


Penulis: Aka Budiman