Dibantah Kepsek, Guru Lena Yakin Tak Pernah Teken Kwitansi

TTD yang diduga dipalsukan

BENGKULU UTARA, sahabatrakyat.com Kasus dugaan pemotongan honor guru oleh kepala sekolah di SDN 033 Bengkulu Utara, terus bergulir. Terbaru, Dispendik BU sudah meminta klarifikasi kepada sang kepsek.

Kepala Seksi SD Dispendik BU Sugeng mengatakan, dalam klarifikasi dan penjelasannya, oknum Kepsek yang dimaksud membantah semua tudingan sebagaimana disebut dalam laporan para guru ke polisi.

Namun suara perlawanan kembali datang dari para guru. Susi Aprianti, salah seorang guru yang sudah 6 bulan lebih bertugas di SDN 033 kepada awak media, Minggu (7/6/2020), mengatakan laporan guru itu tak mengada-ada.

Susi mengatakan, dugaan pemalsuan tanda tangan dalam kwitansi belanja barang dan jasa dana BOS Tahun 2019, Nomor: 56 untuk pembayaran belanja tambahan jam mengajar kelas 6 (enam) untuk pemantapan persiapan ujian, sesuai dengan SH penugasan Nomor: 900/12/SDN-033/BU/2019 tanggal 02 Februari tahun 2019 itu bukan tanda tangan Lena yang tertera sebagai yang menerima pada kwitansi SPJ tersebut.

“Kita akan buktikan sama-sama bahwa tanda tangan itu diduga dipalsukan. Karena, yang bersangkutan Lena, tidak pernah menandatangani SPJ itu, dan kita siap mengklarifikasi hal ini ke Dispendik BU untuk membuktikannya, begitu juga di Mapolda Bengkulu,” tandasnya.

Selain itu, soal operator sekolah yang diduga memainkan data Dapodik,
Susi pun menceritakan bahwa dirinya juga sempat menjadi korban permainan operator sekolah. Indikasinya, data kepindahannya dari SD 118 sempat dipermainkan oleh operator sekolah.

Menurut dia, operator sekolah ini yang memiliki SK sebagai operator, namun anehnya memiliki jam mengajar di kelas III SD 033. Padahal, ia nyaris tidak pernah datang ke sekolah. Menginput data para guru saja, kata Susi, dilakukan dari rumah.

“Kita berharap Dispendik bisa mengevaluasi kinerja kepsek serta operator dan menggantinya dengan orang baru di sekolah ini. Ini merupakan aspirasi semua guru, yang mengaku telah mendapatkan perlakuan tidak semestinya,” demikian Susi.

Tanda tangan asli (kanan) tanda yang menerima diduga palsu (kiri)

Susi juga meminta transparansi dan evaluasi pengelolaan dana BOS di SDN 033 mengingat honor yang diterima oleh guru bernama Lena, tidak sama nilainya seperti yang tertera di SPJ.

“Selanjutnya, jika menjawab apa yang sudah disampaikan oleh Kepsek ke Dispendik, bahwa honor yang tertera di SPj itu untuk tiga orang, sejatinya Rp 1.080.000 itu jika dibagi 3 orang, tentunya masing-masing menerima Rp.360.000. Sementara, Lena hanya menerima Rp. 100 ribu,” urainya.

Sementara Lena, guru yang tanda tangannya diduga dipalsukan, mengaku dirinya tidak pernah menanda tangan SPJ itu. Tanda tangan yang ada di SPJ itu berbeda dengan tanda tangannya.

“Saya siap mempertanggungjawabkan bahwa saya tidak pernah menandatangani SPj itu. Terlebih lagi, tanda tangan itu berbeda dengan tanda tangan saya,” jelas Lena.

Tambah Lena, waktu melapor ke Polda Bengkulu dirinya juga diminta menandatangani kertas kosong berulang ulang kali. Ketika disandingkan antara tanda tangan tersebut dengan yang ada di SPJ tidak sama.

Di sisi lain, dalam pantauan awak media di lapangan, SDN 033 Bengkulu Utara tidak terdapat papan nama sebagai penunjuk identitas sekolah yang biasanya tepasang di lingkungan sekolah tersebut.


Pewarta: MS Firman