Kata Dosen STAIN Soal Perempuan Masa Kini

Rafia Arcanita

REJANG LEBONG, sahabatrakyat.com– Oleh dunia, termasuk di Indonesia, tanggal 8 Maret diperingati sebagai Hari Perempuan Internasional. Peringatan itu, antara lain, ditandai dengan berbagai aksi simbolik. Ada juga yang melakukan evaluasi tentang bagaimana kondisi perempuan saat ini.
Bagi Rafia Arcanita, kepala Laboratorium Kerohanian dan pengajar di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIN) Curup, kondisi perempuan saat ini sudah banyak berubah. Dari sisi partisipasi perempuan di ranah publik, ia melihat sudah terbuka ruang yang luas.
“Perempuan bukan hanya sekedar berimplementasi pada keluarga semata tapi sekarang ini banyak juga perempuan yang berperan di instansi-instansi. Karena tidak semua pekerjaan itu bisa dilakukan oleh kaum laki-laki,” ujar Bunda Arca, sapaannya.
Di lembaga pendidikan dimana Bunda Arca mengabdikan dirinya selama 16 tahun terakhir, jumlah tenaga pengajar atau dosen perempuan juga sudah mencapai puluhan orang. Hal itu, kata dia, adalah salah satu indikator dimana perempuan memang sudah tak lagi melulu berperan di ranah domestik (rumah tangga).
Dalam pengamatan Bunda Arca, partisipasi perempuan di ranah publik, misalnya di instansi pemerintah atau lembaga negara juga patut dipertimbangkan. Kondisi dimana bangsa ini tengah digerogoti korupsi, dia melihat pelakunya didominasi kaum Adam.
Di sisi lain, perempuan kelahiran Lubuk Linggau 47 tahun lalu itu melihat posisi perempuan saat ini masih lemah. Kaum hawa ini masih kerap menjadi korban tindak kekerasan dan pelecehan seksual. Karena itu, kata pembina Pramuka Putri STAIN Curup, itu harus ada perlindungan.
“Perempuan zaman sekarang ini perlu perlindungan, pengayoman dari orang-orang tertentu yang menjadikan perempuan sebagai objek seksual semata. Seperti pada zaman sekarang ini banyak contoh pelecehan yang menimpa kaum perempuan,” kata sekretaris P2M STAIN Curup 2013-2015 itu.
Akan tetapi, sambung Bunda Arca, semua itu juga tidak semata-mata kesalahan laki-laki. Perempuan, kata dia, juga harus membatasi diri supaya hal-hal yang tidak diinginkan tersebut tidak terulang kembali untuk ke depannya. (Vikter Sanjaya)