Kopi AKAR, Kopi Perjuangan Konflik Kawasan Hutan 'Rejang'

Warman Kudus, Co Akar Foundation, di lokasi stand Aroma Kopi Asli Rejang (AKAR) di Lapangan Hatta/Aka Budiman

LEBONG, sahabatrakyat.com– Kopi Aroma Kopi Alami Rejang atau Kopi AKAR kini mulai dikenal luas penikmat kopi. Populer lewat jejaring organisasi dan media sosial, kopi yang dihasilkan dari tanaman kopi di kawasan perhutanan sosial ini punya nilai historis tersendiri.
Co Akar Foundation, Warman Kudus, menjelaskan, nilai itu buah perjuangan menegakkan tradisi dan budaya petani kopi masyarakat Lebong. Kopi Akar merupakan kopi hasil perjuangan membela keterbatasan hak masyarakat asli daerah untuk dapat mengelola hutan dari pemangku kebijakan secara legal. Hutan itu terdiri dari Hutan Adat (HA) dan Hutan Kemasyarakatan (HKM) dengan skema Perhutanan Sosial.
“Skema perhutanan sosial merupakan bagian dari program Nawacita Presiden Republik Indonesia untuk memberi kembali hak mengelola lahan hutan. Secara nasional sebanyak 12,7 juta hektar. Target Provinsi Bengkulu seluas 107.000 hektar dan baru terpenuhi seluas 33.000 hektar,” kata Warman.
Untuk Lebong, kata Warman, saat ini sudah ditanami kopi seluas 12.000 Ha, terdiri dari 3.905 Ha Hutan Kemasyarakatan yang telah dilegalkan pemerintah Provinsi Bengkulu, sementara 8.600-an Ha Hutan Adat masih menunggu Izin dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI (KLHK) dengan masa izin hanya 35 tahun dan dapat diperpanjang.
“Masyarakat didampingi Akar Foudation untuk meningkatkan pemahaman dan kapasitas masyarakat petani hutan dalam proses pengelolaan,” ujar Warman yang ditemui sahabatrakyat.com, Selasa (8/01/2018) di stan pameran Akar yang didirikan di Lapangan Hatta dalam rangka HUT Kabupaten Lebong ke-15.
“Dulu dari sebelum negara merdeka masyarakat mengelola sendiri hutannya. Yang kita perjuangkan tardisi dan budaya itu,” katanya lagi.
Warwan menegaskan, dalam pendampingan Akar hutan lindung yang dikelola masyarakat tidak akan mengurangi fungsi hutan.
“Tanpa merubah fungsi hutan, seperti menanam pohon penyangga/lindung yang juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara ekonomi, seperti durian, aren, alpukat, pinang dan lainnya,” jelasnya.
Warwan menambahkan, di Lebong sendiri produksi kopi Akar sudah mencapai 1.500 ton kopi, terdiri dari kopi Arabika dan Robusta.
Untuk pemasaran, sambungnya, baru sebatas jaringan Akar dan media sosial. kedepan Akar berharap kopi asli yang ditanam dari hutan masyarakat Swarang Patang Stumang itu dapat berkanca di nasional dan internasional.
“Ke depan kopi Akar bakal berkembang dan pemasarannya lebih luas sehingga masyarakat petani hutan bisa menentukan harga sendiri kepada pembeli atau buyer dalam skala besar, bahkan ekspor keluar negeri,” harapnya.
Dengan semangat itu pula, di peringatan hari jadi Lebong ke-15 tahun 2019, Akar berkerja sama dengan DPRD Lebong, Pemkab Lebong dan DLHK Lebong membuka stan dan menggelar minum kopi gratis.
“Ini adalah upaya memperkenalkan nilai dibalik Aroma Kopi Asli Rejang yang dihasilkan dari hutan Kabupaten Lebong yang sebelumnya menjadi wilayah konflik,” jelasnya.
“Momentum ulang tahun ini kita kembali ke tanah kelahiran untuk memperkenalkan kopi yang bernilai budaya dan tradisi masyarakat Lebong. Kita juga memberi segelas kopi gratis bagi yang mau berkunjung ke stan,” tutup Warman.


Penulis: Aka Budiman
Editor: Jean Freire