Lupio (kiri) dan Tarjo (kanan) saat menuturkan peristiwa yang menimpa Martinah/MS Firman

BENGKULU UTARA, sahabatrakyat.com– Setelah pulang ke rumah, kondisi Martinah (45 tahun), warga Jalan Krakatau Dusun 04 Desa Marga Bhakti, Kecamatan Pinang Raya, Bengkulu Utara, masih belum pulih sepenuhnya.
Setelah sempat dikabarkan hilang akhir Februari lalu dan ditemukan Sabtu (3/3/2018), Martinah belum sepenuhnya pulih. Kata sang suami, bicaranya masih kerap ngelantur.
Lupio (48 tahun), suami Martinah ketika dibincangi sahabatrakyat.com belum lama ini di kediamannya menuturkan kembali apa yang menimpa sang istri.
Sebelum dia laporkan hilang, Lupio dan istrinya masih bersama-sama di Pasar D1. Katanya tidak ada kenjanggalan saat itu.
“Dia hanya bilang, sudahlah gak usah ikuti aku, pergi sajalah,” tutur Lupio.
Setelah ditemukan, Martinah pun sempat dirukiyah oleh anaknya melalui telepon. Sadar sebentar dan langsung ditanya.
“Pertama yang ditanyakan, semalam hujan kok tidak basah? Ya tidak saya kan ada di rumah bagus jawabnya. Kemudian, kenapa kamu seperti ini? Katanya, saya naik mobil bagus kenceng sekali seperti terbang jadinya saya pusing. Setelah itu ngelantur bicaranya,” terang Lupio.
Bagaimana dengan uang Rp 300 juta?
Lupio mengaku tidak menghitung persis uang yang dimaksud. Katanya, setahun yang lalu sempat menanyakan perihal uang tabungan itu karena berniat membangun rumah.
Menurut Martinah kepada Lupio, uangnya ada Rp 300 juta. “Tidak saya kontrol uang 300 juta itu, karena saya percaya, istri saya itu amanah. Uang ditempatkan pada tempatnya sekarang tapi tidak ada sama sekali pada tempatnya saat saya lihat,” tutur Lupio.
“Uang yang langsung bisa saya nyatakan hilang itu sekira 12 juta 960 ribu karena saya selaku bendahara gotong royong di desa membuat siring, menerima uang itu pertama kurang lebihnya 17 jutaan sekian, dibelanjakan material, sisa yang ada di tangan saya 14 juta 960 ribu, uang tersebut juga dibawa hanya ditinggal 2 juta. Uang 12 juta 960 ribu itu ikut hilang dibawa,” jelas Lapio.
“Itu yang bisa saya pastikan sekarang. Kalau 300 juta itu secara pasti gak bisa. Cuma keadaannya memang benar uang tersebut tidak ada lagi di tempatnya,” tutur Lupio.
“Sudah sekian lama saya menyimpan uang itu. Tidak saya simpan di bank karena sudah berencana mau bikin rumah. Kalau ditanya masalah ada kaitan dengan kejadian yang dialaminya tidak tahu, lupa, dan tidak nyambung,” tambah dia.
“Secara pasti belum diketahui modus peristiwa kejadian ini. Namun kalau uang 300 juta yang hilang itu sudah dicek dimana tempat istri saya menyimpannya sudah tidak ada,” ulangnya.
“Sedangkan buku tabungan saya di BNI itu juga dibawanya. Tapi ATM saya yang bawa. Bila mencairkan uang di tabungan BNI tidak akan bisa karena KTP istri saya itu tertinggal di dompet.”
“Uang yang disimpan di bank tidak hilang. Uang yang disimpan di rumah saja yang hilang,” ungkap Lupio.
Lupio mengatakan, sang istri mengaku dibawa mobil dengan kecepatan tinggi. “Ingetnya dibawa mobil kenceng, mumet. Cuma itu yang dia inget. Kalau dilihat dari kondisi istri saya itu saya paham.M enurut saya itu mabuk mobil kalau sakitnya seperti yg dialaminya saat ditemukan,” katanya.
Terpisah, Tarjo, kerabat Lupio menjelaskan saat belanja di Pasar D1, Martinah ada ketemu laki-laki, pakai topi, kaos putih, dan ngobrol.
“Itu yang tahu adek ipar saya. Biasanya Martinah tidak mau ngobrol atau jarang maksudnya, dengan laki-laki. Ini kok ngobrol seperti sudah akrab,” tutur Tarjo.
Kata Tarjo, saat ditanyakan oleh adik iparnya siapa sosok lelaki itu, Martinah bilang orang itu kawan Lupio, suaminya. Padahal, lanjut Tarjo, ketika ditanyakan, Lupio sendiri mengaku tidak mengenal laki-laki yang dimaksud.
Mereka pun menanyakan kepada pedagang dimana Martinah dan laki-laki itu berbincang. Namun pedagang yang ditanya mengaku tidak mengenal sosok laki-laki yang dimaksud.
“Pedagang mengatakan laki-laki tersebut beli ikan asin. Itu orang baru dan baru pertama kali belanja di sana dan pedagang tersebut tidak mengenali laki-laki itu,” kata Tarjo.


Penulis: MS Firman
Editor: Jean Freire