
LEBONG, sahabatrakyat.com– Intensitas hujan di wilayah Kabupaten Lebong sudah relatif tinggi sejak sebulan terakhir. Bahkan sebagian besar areal sawah sudah rata ditanami padi.
Faktanya, belum semua petani turun ke sawah. Jangankan menanam, lahannya pun belum bisa diapa-apakan lantaran kondisinya yang masih kering kerontang.
Pemandangan areal sawah yang kering, retak-retak dan belukar itu masih bisa dijumpai di wilayah Desa Talang Bunut, Garut dan Tabeak Kauk. Menurut warga setempat, luasannya bisa puluhan hingga ratusan hektar.
Bahudin (70 tahun), warga Desa Garut, Kecamatan Amen adalah salah seorang petani yang lahannya belum bisa digarap apalagi ditanam.
Kepada sahabatrakyat.com, Bahudin mengatakan, kondisi sawahnya belum berair itu sudah berlangsung enam bulan terakhir. Selain kemarau, ia menduga ada masalah di pintu irigasi.
Kata Bahudin, pintu air masuk untuk mengairi sawahnya dan sejumlah warga di situ bersumber dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Air Uram yang berjarak sekitar tiga kilo meter.
“Dengar-dengar karena ada longsor di tempat air masuk. Tapi kita belum pernah lihat apakah karena longsor atau kemarau. Antara dua itulah,” ujarnya sembari menuntun sahabatrakyat.com menuju hamparan sawah kering di Desa Garut Minggu siang (02/02/2020).
Disampaikan Bahudin, kondisi sawah tak berair itu baru kali ini terjadi. Karena itu, kata dia, warga memutuskan tidak turun tanam walau sebagian sudah membersihkan lahannya.
“Beberapa genangan air di sebagain sawah yang ada, itu berasal dari air hujan. Tapi tidak menunggu waktu lama bakal mengering kembali,” imbuhnya.
“Kalau seperti ini, pertama, waktu ketinggalan. Kedua, air tidak ada. Kita bersawah kan mau seimbang. Kalau cak itu bae dak jadi. Ini sudah diolah. Aturannya siap tanam, idak pacak, rugi saja kita,” tuturnya sambil berjalan menunjukkan keadaan sawah-sawah yang tidak jadi ditanami padi.
Pewarta: Aka Budiman









